ilustrasi situasi kemacetan di jalan raya (pexels.com/el jusuf)
Penelitian dari Universitas Muhammadiyah Jakarta tahun 2018 menyatakan pengendara motor yang terjebak dalam kemacetan memiliki risiko mengalami stres tingkat tinggi hingga 2,8 kali lipat dibanding mereka yang tidak terjebak macet. Efeknya tidak hanya emosional, tapi juga fisik, seperti cepat lelah, pegal, ketegangan otot, hingga mudah marah.
Hal ini diperkuat oleh studi dari Universitas Syiah Kuala yang mengamati peningkatan detak jantung pengendara motor saat melewati area padat seperti jalan komersial atau perempatan besar. Reaksi tubuh yang cepat terhadap kondisi jalan menunjukkan bahwa stres yang dialami pengendara motor bersifat langsung dan cukup intens.
Faktor-faktor seperti panas terik, paparan polusi, risiko terserempet kendaraan lain, dan harus menavigasi jalur sempit membuat pengendara motor jauh lebih rentan terhadap stres lingkungan. Tidak adanya kabin tertutup juga membuat mereka tidak memiliki ruang untuk “bernapas” dari kondisi jalan yang kacau.