Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tiga Kesalahan Biker saat Terpaksa Melintasi Kawasan Karhutla
Ilustrasi naik motor (Pexels/ Blaz Erzetic)
  • Asap karhutla mengurangi jarak pandang dan memperburuk kualitas udara; biker disarankan tidak memaksakan perjalanan, mencari tempat aman, memilih rute alternatif, serta mematuhi arahan petugas.
  • Masker kain atau bedah tidak optimal menghadapi partikel halus asap. Respirator N95 atau KN95 membantu mengurangi paparan, tetapi perjalanan sebaiknya ditunda bila memungkinkan.
  • Memacu motor di jalan berasap atau berabu meningkatkan risiko kecelakaan karena hambatan sulit terlihat dan ban kurang mencengkeram. Jaga kecepatan rendah, jarak aman, dan periksa motor setelah melintas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kalau jalan penuh asap kebakaran, pengendara motor jangan tetap ngebut. Asap bisa bikin jalan, lubang, dan kendaraan lain susah terlihat. Masker biasa belum tentu cukup menahan asap. Lebih baik pelan-pelan, cari tempat aman, atau pilih jalan lain. Kalau mata perih, batuk, atau sesak, harus menepi dan cari bantuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melintasi kawasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa menjadi pengalaman berisiko bagi pengendara sepeda motor. Asap yang mengurangi jarak pandang, abu yang beterbangan, serta kualitas udara yang memburuk dapat mengganggu keselamatan selama perjalanan. Situasinya semakin berbahaya ketika pengendara tetap memaksakan diri tanpa mempertimbangkan kondisi di sekitarnya.

Sayangnya, sebagian biker masih melakukan kesalahan karena ingin segera mencapai tujuan. Ada yang tetap melaju ketika pandangan mulai tertutup asap, ada pula yang menganggap masker biasa sudah cukup untuk melindungi pernapasan. Padahal, beberapa kebiasaan tersebut justru bisa meningkatkan risiko kecelakaan dan gangguan kesehatan.

1. Memaksakan perjalanan meski jarak pandang menurun

ilustrasi naik motor (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kesalahan pertama adalah tetap melaju ketika asap mulai menutupi jalan. Pengendara mungkin merasa masih bisa melihat kendaraan di depan sehingga perjalanan dianggap aman. Padahal, perubahan arah angin dapat membuat asap semakin tebal dalam waktu singkat. Marka jalan, lubang, kendaraan yang berhenti, dan tikungan juga bisa sulit terlihat ketika jarak pandang menurun.

Jika kondisi tersebut terjadi, kurangi kecepatan secara bertahap dan cari lokasi aman untuk berhenti di luar jalur lalu lintas. Jangan berhenti mendadak di tengah jalan atau di bahu jalan yang sempit. Apabila tersedia jalur alternatif, pilih rute yang menjauhi sumber kebakaran. Jika petugas menutup jalan atau menginstruksikan kendaraan untuk putar balik, patuhi arahan tersebut. Jangan menerobos hanya karena tujuan perjalanan sudah dekat.

2. Mengandalkan masker biasa untuk menghadapi asap

ilustrasi naik motor (pexels.com/Khoa Võ)

Kesalahan berikutnya adalah menganggap masker kain atau masker bedah sudah cukup untuk melindungi tubuh dari seluruh bahaya asap karhutla. Padahal, asap kebakaran mengandung campuran gas dan partikel, termasuk PM2.5 yang berukuran sangat kecil. Masker biasa tidak dirancang untuk menyaring seluruh partikel halus secara optimal, apalagi melindungi pengendara dari gas berbahaya.

Respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel halus, tetapi tidak menghilangkan seluruh risiko dari asap. Perlindungan tersebut juga tidak menggantikan kebutuhan untuk menjauhi kawasan terdampak. Jika memungkinkan, tunda perjalanan sampai kondisi membaik. Apabila mata terasa perih, batuk terus-menerus, atau napas mulai sesak, segera menepi di tempat aman dan menjauh dari asap. Cari pertolongan medis jika gejala berat atau tidak membaik.

3. Berkendara terlalu cepat dan mengabaikan kondisi motor

ilustrasi naik motor (Pexels/Jhune Bleu)

Kesalahan ketiga adalah mempertahankan kecepatan normal ketika melintasi jalan yang tertutup asap atau abu. Sebagian pengendara justru ingin segera keluar dari kawasan tersebut dengan memacu motor lebih kencang. Padahal, tindakan ini memperpendek waktu untuk bereaksi ketika menghadapi lubang, kendaraan lain, atau hambatan yang baru terlihat pada jarak dekat. Abu dan debu di permukaan jalan juga dapat mengurangi daya cengkeram ban, terutama jika bercampur pasir atau material lepas.

Saat harus melewati jalur terdampak, jaga kecepatan tetap rendah sesuai jarak pandang dan kondisi permukaan jalan. Pertahankan jarak aman, hindari pengereman mendadak, serta jangan melakukan manuver agresif. Setelah keluar dari kawasan tersebut, periksa kondisi ban dan lampu motor jika terdapat banyak debu atau abu. Namun, langkah paling aman tetap menghindari perjalanan ketika kondisi tidak memungkinkan. Keselamatan lebih penting daripada mengejar waktu sampai tujuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article