Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Persoalan yang Jadi Biang Kerok Kehancuran Ekonomi Iran

3 Persoalan yang Jadi Biang Kerok Kehancuran Ekonomi Iran
ilustrasi protes di Iran (pexels.com/Sima Ghaffarzadeh)
Intinya sih...
  • Inflasi di Iran hampir 50 persen, membuat daya beli warga menurun drastis.
  • Tabungan dan daya beli warga terus menurun akibat kenaikan harga, sementara suku bunga bank tinggi.
  • Harga pangan meroket karena runtuhnya mata uang rial, menyebabkan kesulitan impor pangan dan kebutuhan pokok.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Situasi dan kondisi di Iran semakin memanas setelah pemerintah setempat mengambil tindakan serius kepada para demonstran. Sebanyak 24 ribu demonstran tewas dalam dua pekan terakhir.

Aksi protes kepada Pemerintah Iran dimulai sejak akhir Desember 2025 ketika mata uang Iran jatuh begitu dalam. Ribuan warga Iran lantas turun ke jalan dan menimbulkan ancaman paling serius terhadap rezim dalam beberapa tahun terakhir.

Keruntuhan ekonomi Iran terlihat jelas dari nilai mata uangnya, rial. Data Morningstar yang dikutip dari independent.co.uk menunjukkan, nilainya sekitar 42 ribu rial per dolar Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Desember. Namun, kini nilainya lebih dari 1,1 juta rial per dolar AS, setelah beberapa hari lalu mencapai titik terendah sepanjang masa, yaitu 1,4 juta rial.

Selain mata uangnya yang anjlok, persoalan lain yang berkontribusi pada kejatuhan ekonomi Iran, yakni inflasi tinggi dan harga pangan yang naik gila-gilaan.

1. Inflasi di Iran hampir 50 persen

3 Persoalan yang Jadi Biang Kerok Kehancuran Ekonomi Iran
ilustrasi inflasi (IDN Times/Aditya Pratama)

Dalam hal daya beli barang-barang dari luar negeri, uang tiba-tiba hampir tidak bernilai bagi warga Iran. Sementara di dalam negeri pun situasinya tidak jauh lebih baik.

Iran telah menderita inflasi tinggi secara terus menerus dalam beberapa tahun, tetapi dalam 12 tahun ke belakang inflasi justru mencapai tingkat yang hampir tak terbayangkan.

Data Pusat Statistik Iran di Trading Economics menunjukkan, inflasi melonjak dari 31,8 persen pada Januari 2025 menjadi 48,6 persen pada Oktober tahun yang sama. Adapun data Desember berada di atas 42 persen.

Pada 2024, Bank Dunia mencatat inflasi tahunan Iran melebihi 32 persen, sekaligus menempatkannya di peringkat kesembilan tertinggi di dunia untuk tahun tersebut. Sejak 2008, Iran hanya mengalami inflasi di bawah 25 persen dalam lima dari 16 tahun.

2. Tabungan dan daya beli warga menurun

3 Persoalan yang Jadi Biang Kerok Kehancuran Ekonomi Iran
ilustrasi tabungan (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Tekanan konstan akibat kenaikan harga tersebut menyebabkan tabungan dan daya beli warga terus menurun, sementara The New York Times melaporkan para pemilik toko marah atas jatuhnya nilai mata uang pada 28 Desember.

Ada juga laporan presiden Iran, Masoud Pezeshkian memerintahkan pembayaran bulanan kepada warga Iran dan mengakui mereka sedang menderita.

Inflasi yang meningkat berarti uang kehilangan daya belinya seiring waktu dan seiring kenaikan harga barang atau jasa, jumlah uang yang sama dapat membeli lebih sedikit barang atau jasa tersebut.

Salah satu cara untuk mengatasi hal itu adalah dengan menyimpan uang tunai di rekening bank yang memberikan suku bunga di atas tingkat inflasi. Namun, hal itu kemungkinan besar tidak akan mungkin dilakukan mengingat Bank Sentral Iran mempertahankan suku bunga pada level 23 persen, yang berarti daya beli uang tunai dalam mata uang lokal akan terus terkikis seiring berjalannya waktu.

3. Harga pangan meroket

3 Persoalan yang Jadi Biang Kerok Kehancuran Ekonomi Iran
ilustrasi gandum (vecteezy.com/sasirin pamai)

Keruntuhan mata uang rial juga menimbulkan persoalan pelik terhadap impor pangan dan kebutuhan pokok lain bagi warga Iran. Direktur Pelaksana Zero Currency, Simon Phillips menyatakan, runtuhnya mata uang rial hanya percikan yang menyulut kotak korek api kebencian di antara rakyat Iran.

"Rial telah melemah selama bertahun-tahun, terhambat oleh dugaan korupsi yang meluas di Iran dan sanksi internasional dari luar. Mata uang yang lemah membuat impor menjadi lebih mahal, dan Iran mengimpor banyak kebutuhan pokok – termasuk makanan dan obat-obatan,” tutur Simon, dikutip dari Independent, Kamis (15/1/2026).

Simon menambahkan, situasi yang memburuk sejak akhir tahun lalu ditambah rial yang merosot 64 persen dalam enam bulan ke belakang telah menyebabkan harga bahan pokok seperti gandum dan minyak goreng meroket.

"Setelah lima tahun kekeringan, pertanian Iran tidak mampu menghasilkan cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan negara dan kenaikan harga impor pangan yang meroket telah sangat memukul rakyat Iran. Tingkat inflasi yang tinggi juga telah melenyapkan nilai tabungan masyarakat dan membuat banyak warga Iran kesulitan membeli makanan – dan ini menciptakan rasa putus asa yang meledak menjadi protes," tutur dia.

4. Iran tidak punya jalan jelas menuju stabilitas ekonomi

3 Persoalan yang Jadi Biang Kerok Kehancuran Ekonomi Iran
Demonstrasi warga Iran berlangsung di tengah situasi politik yang memanas. (Sumber: Pexels)

Ahli Strategi Investor di Saxo UK, Neil Wilson pun menjelaskan situasi yang terjadi di Iran sekarang membuat negara itu tidak punya jalan jelas menuju stabilitas ekonomi.

"Sebagai mata uang, rial praktis tidak berharga sekarang. Ketidakstabilan ekstrem di dalam negeri, mendekati keruntuhan ekonomi, dan implikasi dari terhambatnya ekspor minyak berarti mata uang itu tidak memiliki nilai riil. Mata uang itu hanyalah cerminan dari kesulitan ekonomi yang menyebabkan protes baru-baru ini dan hiperinflasi akibat keruntuhannya hanya mempersulit rezim untuk terus berkuasa,” tutur Wilson kepada The Independent, dikutip Kamis (15/1/2025).

Wilson menambahkan, kondisi yang terjadi pada rial melampau redenominasi yang biadanya dijadikan solusi sementara untuk mengatasi keruntuhan ekonomi dan hiperinflasi

"Dengan rezim yang terisolasi dan tidak ada negara yang bersedia berdagang dengan Iran selain China dan Rusia, rial pada dasarnya tidak berharga di pasar keuangan global. Tidak jelas apakah ada jalan menuju stabilisasi sementara ketidakstabilan politik dan keresahan terus berlanjut," kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

6 Tips Memilih Lokasi Magang Terbaik, Cari yang Nyaman!

15 Jan 2026, 22:00 WIBBusiness