ilustrasi peninjauan laporan keuangan (pexels.com/ https://kaboompics.com/)
Tanda lain yang cukup jelas adalah pemilik usaha gak pernah membuat laporan keuangan secara rutin. Selama masih ada uang di rekening atau kas, bisnis dianggap menghasilkan keuntungan, padahal saldo tersebut belum tentu seluruhnya merupakan laba. Bisa saja sebagian masih berupa modal kerja yang dibutuhkan untuk membeli stok, membayar tagihan, atau menjalankan operasional berikutnya.
Mulailah dengan laporan sederhana yang dibuat setiap bulan, misalnya laporan laba rugi untuk melihat pendapatan dan biaya selama periode tersebut. Kalau pencatatan sudah lebih rapi, laporan arus kas juga bisa digunakan untuk memantau pergerakan uang masuk dan keluar. Gak harus langsung rumit, yang penting laporan dibuat konsisten dan diperiksa supaya kesalahan pencatatan bisa segera ditemukan.
Pembukuan yang rapi sebenarnya gak selalu membutuhkan kemampuan akuntansi yang rumit. Yang lebih penting adalah memisahkan uang pribadi dan usaha, mencatat transaksi secara rutin, serta menyimpan data dengan cara yang mudah diperiksa kembali. Dari kebiasaan sederhana tersebut, pemilik usaha bisa punya gambaran yang lebih jelas tentang kondisi bisnisnya.
Semakin cepat pembukuan dibenahi, semakin mudah juga menemukan masalah sebelum berdampak lebih jauh pada operasional. Jadi, kalau beberapa ciri tadi masih terjadi di usaha kamu, gak perlu langsung membereskan semuanya dalam satu hari. Mulai dari satu kebiasaan yang paling berantakan, lalu bangun sistem pencatatan yang bisa dijalankan secara konsisten.