Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
SpaceX
SpaceX (unsplash.com/SpaceX)

Intinya sih...

  • SpaceX prioritas bangun kota mandiri di Bulan dalam 10 tahun ke depan.

  • Frekuensi peluncuran tinggi jadi alasan utama SpaceX prioritaskan pembangunan kota di Bulan.

  • SpaceX perkuat infrastruktur keuangan dan teknologi AI guna realisasikan kota mandiri di Bulan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perusahaan kedirgantaraan SpaceX secara resmi mengumumkan pengalihan fokus strategis utamanya untuk membangun sebuah kota mandiri di permukaan Bulan, pada Minggu (8/2/2026). Langkah besar ini diambil sebagai upaya nyata perusahaan dalam mempercepat pengamanan masa depan peradaban manusia di luar angkasa. Melalui visi tersebut, pengembangan infrastruktur di Bulan kini menjadi prioritas tertinggi sebelum SpaceX melanjutkan misi kolonisasi ke planet Mars.

Keputusan ini didasari oleh pertimbangan efisiensi logistik dan kecepatan operasional. Pendiri SpaceX menegaskan bahwa jalur menuju Bulan dianggap lebih cepat dan efisien secara logistik untuk mencapai target pemukiman permanen di luar angkasa dalam waktu dekat. Perubahan strategi ini diharapkan mampu menciptakan fondasi pemukiman permanen yang lebih stabil dan terukur sebelum manusia melangkah lebih jauh ke planet lain.

1. SpaceX prioritaskan pembangunan kota mandiri di Bulan dalam sepuluh tahun ke depan

ilustrasi satelit luar angkasa (pexels.com/SpaceX)

SpaceX kini mengerahkan seluruh sumber daya utamanya untuk merealisasikan pembangunan kota mandiri di Bulan, yang ditargetkan mampu tumbuh secara organik dalam kurun waktu kurang dari satu dekade. Strategi ini menandai pergeseran besar dari rencana sebelumnya yang sangat menitikberatkan pada misi Mars, karena saat ini Bulan dipandang sebagai batu loncatan yang lebih masuk akal secara teknis. Analisis terbaru menunjukkan bahwa pengembangan pemukiman di Bulan dapat dicapai dalam waktu kurang dari 10 tahun, jauh lebih cepat dibandingkan target Mars yang diprediksi memakan waktu lebih dari 20 tahun.

Melalui pernyataan resmi di platform X, Elon Musk menjelaskan bahwa langkah ini merupakan upaya untuk memastikan peradaban manusia memiliki cadangan tempat tinggal yang aman secepat mungkin.

"SpaceX telah mengalihkan fokus untuk membangun kota yang tumbuh mandiri di Bulan, karena kita berpotensi mencapainya dalam waktu kurang dari 10 tahun, sedangkan Mars akan membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun," ujar Musk, dilansir Arab News.

Fokus pada pertumbuhan mandiri ini mencakup penggunaan sumber daya lokal di Bulan untuk membangun infrastruktur secara berkelanjutan, tanpa bergantung sepenuhnya pada pasokan dari Bumi.

Meskipun fokus utama telah beralih, SpaceX tidak meninggalkan visi jangka panjangnya terhadap Planet Merah.

"Meskipun demikian, SpaceX juga akan berupaya membangun kota Mars dan mulai melakukannya dalam waktu sekitar 5 hingga 7 tahun, tetapi prioritas utamanya adalah mengamankan masa depan peradaban dan Bulan jauh lebih cepat," kata Musk.

Keberhasilan di Bulan akan menjadi bukti kematangan teknologi Starship sebelum menghadapi tantangan yang jauh lebih berat di Mars, sekaligus memenuhi komitmen perusahaan terhadap program Artemis milik NASA.

Pembangunan kota mandiri ini juga berfungsi sebagai pusat penelitian penting untuk mengembangkan teknologi pendukung kehidupan di lingkungan beradiasi tinggi. Data yang dikumpulkan dari operasional di permukaan Bulan akan sangat berharga untuk memitigasi risiko kesehatan bagi para penjelajah masa depan. Dengan menetapkan target yang agresif, pimpinan SpaceX meyakini bahwa perusahaan dapat mempertahankan momentum inovasi yang cepat guna menghadapi berbagai ketidakpastian geopolitik serta lingkungan di masa depan.

2. Gaspol peluncuran karena SpaceX prioritaskan pembangunan kota di Bulan

ilustrasi peluncuran Starlink SpaceX ke antariksa (unsplash.com/ANIRUDH)

Alasan teknis utama di balik prioritas SpaceX saat ini adalah frekuensi peluncuran yang jauh lebih tinggi serta waktu tempuh yang singkat menuju Bulan. Berbeda dengan Mars yang jendela peluncurannya hanya terbuka setiap 26 bulan, misi ke Bulan dapat dilakukan hampir setiap 10 hari sekali. Jarak tempuh ke Bulan yang hanya memakan waktu sekitar dua hari memungkinkan tim teknik SpaceX untuk melakukan perbaikan dan iterasi desain secara instan. Kondisi ini sangat kontras dengan perjalanan ke Mars yang membutuhkan waktu minimal enam bulan, di mana kegagalan dalam satu misi memerlukan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Untuk mendukung visi tersebut, SpaceX tengah melakukan pengujian intensif terhadap Starship Block 3, versi terbaru dari roket paling kuat di dunia. Desain baru ini menggunakan mesin Raptor 3 yang lebih ringkas namun memiliki daya dorong lebih besar untuk mengangkut kargo berat ke permukaan Bulan. Peningkatan teknologi ini juga melibatkan sistem pelindung panas yang lebih tahan lama serta desain ulang sirip kendali untuk stabilitas pendaratan yang lebih baik.

3. SpaceX perkuat infrastruktur keuangan dan teknologi AI untuk realisasikan kota mandiri di Bulan

ilustrasi pesawat luar angkasa (commons.wikimedia.org/SpaceX)

Langkah SpaceX untuk memprioritaskan pembangunan di Bulan turut dipengaruhi oleh dinamika pasar keuangan serta strategi integrasi teknologi tingkat tinggi. Laporan terbaru menyebutkan bahwa perusahaan tengah mempertimbangkan penawaran umum perdana (IPO) yang berpotensi meningkatkan valuasi hingga melampaui angka 1 triliun dolar AS (Rp16,8 kuadriliun). Selain itu, integrasi dengan xAI diharapkan mampu memberikan keunggulan kompetitif, terutama dalam pengelolaan pusat data berbasis ruang angkasa, navigasi otonom, serta manajemen sumber daya di kota lunar secara efisien.

Pergeseran fokus ini telah dikomunikasikan secara resmi kepada para pemangku kepentingan untuk menyelaraskan ekspektasi keuangan dengan realitas operasional perusahaan.

Persaingan global, terutama persaingan antara AS dan China, menjadi pendorong kuat untuk membangun kehadiran permanen di kutub selatan Bulan. Keberhasilan SpaceX dalam membangun kota mandiri akan memastikan dominasi teknologi Barat serta akses terhadap sumber daya strategis seperti es air. Melalui teknologi pemanfaatan sumber daya in-situ (ISRU), es air tersebut akan diolah menjadi bahan bakar metana dan oksigen cair guna mengisi kembali tangki Starship, yang menjadi elemen kunci bagi keberlanjutan ekonomi kota mandiri tersebut.

Dengan dukungan finansial yang kuat dan integrasi kecerdasan buatan, tantangan teknis dalam membangun pemukiman di lingkungan ekstrem kini dapat diminimalisir secara efektif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team