Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Analis Asing Nilai Rencana MSCI Jadikan RI Standalone Market Tak Masuk Akal

3 min read
Analis Asing Nilai Rencana MSCI Jadikan RI Standalone Market Tak Masuk Akal
MSCI (msci.com)

  • Analis Alethia Capital menilai rencana MSCI menjadikan Indonesia Standalone Market berlebihan, meski menyoroti lemahnya implementasi kebijakan dan belum tegasnya sanksi manipulasi saham.

  • DBS dan Allspring memperingatkan reklasifikasi berpotensi membuat investor pasif serta pengikut indeks mengurangi eksposur, memicu arus modal keluar dan tekanan terhadap nilai tukar.

  • Macquarie menyebut perpanjangan peninjauan MSCI dari November 2026 hingga Juni 2027 memperpanjang ketidakpastian investor, meski Indonesia telah memperbaiki free float dan keterbukaan kepemilikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sejumlah analis asing dari Singapura memberikan pandangannya terkait rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) melakukan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Spesialis investasi di ASEAN dari Alethia Capital Angus Mackintosh menilai rencana MSCI tersebut terlalu berlebihan. Menurutnya, Indonesia telah mengambil sejumlah langkah perbaikan.

"Langkah ini tampaknya berlebihan, mengingat berbagai upaya yang telah dilakukan Indonesia untuk mengatasi persoalan transparansi pasar dan free float atau porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik," kata dia dikutip MSN dari Reuters, Jumat (16/10/2026).

Namun, dia menilai persoalan utama Indonesia terletak pada lemahnya bukti implementasi kebijakan dan belum adanya sanksi terhadap pihak yang terlibat dalam manipulasi saham. Menurutnya, Indonesia perlu memberikan sanksi dan denda berat kepada pihak-pihak yang melakukan manipulasi saham secara terkoordinasi.

"Langkah ini tidak mencerminkan kondisi sebagian besar perusahaan tercatat maupun perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Selain itu, mengelompokkan Indonesia bersama Lebanon, Palestina, dan Argentina juga tidak masuk akal," ujar dia.

Adapun negara-negara kelompok Standalone Market MSCI per 2026, yakni Argentina, Jamaika, Panama, Trinidad dan Tobago, Bosnia dan Herzegovina, Bulgaria, Lebanon, Malta, Nigeria, Palestina, Ukraina, dan Zimbabwe.

  1. 1. Investor pasif berpotensi mengurangi eksposur ke Indonesia

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (IDN Times/Aditya Pratama)

    Ekonom Senior DBS Bank Radhika Rao menilai potensi, perubahan status pasar Indonesia dapat berdampak lebih buruk dibandingkan penurunan klasifikasi satu tingkat. Sebab, investor pasif yang terikat mandat investasi juga berpotensi mengurangi eksposur terhadap pasar saham Indonesia.

    "Investor pasif yang terikat mandat investasi juga dapat mengurangi eksposurnya terhadap pasar Indonesia," ujar dia.

    Jika kondisi tersebut memicu aksi penghindaran aset berisiko (risk-off) yang menekan nilai tukar, Bank Indonesia (BI) diperkirakan meningkatkan kewaspadaan dan memperbesar intervensi untuk merespons tekanan tersebut.

  2. 2. Arus modal asing jadi perhatian utama

    ilustrasi saham terkikis (IDN Times/Arief Rahmat)
    ilustrasi saham terkikis (IDN Times/Arief Rahmat)

    Manajer Portofolio Allspring Global Investments Gary Tan menilai rencana MSCI tersebut mengejutkan karena Indonesia telah mengambil sejumlah langkah untuk meningkatkan aksesibilitas pasar, termasuk menghapus batas minimum harga saham.

    Menurutnya, potensi penetapan Indonesia sebagai pasar tersendiri (standalone market) dapat mendorong investor yang mengikuti indeks untuk semakin mengurangi eksposur terhadap pasar Indonesia.

    "Namun, menurut pandangan kami, kekhawatiran yang lebih besar bagi Indonesia bukanlah dampak langsung terhadap saham, melainkan potensi tekanan terhadap nilai tukar akibat arus keluar modal asing," tuturnya.

  3. 3. Perpanjangan peninjauan MSCI menambah ketidakpastian

    Ilustrasi hubungan IHSG dan MSCI terhadap pergerakan pasar saham Indonesia
    Ilustrasi hubungan IHSG dan MSCI yang memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia. (AI Generated)

    Kepala Riset Saham ASEAN Macquarie Capital Jayden Vantarakis mengatakan, asumsi awal sebagian besar investor saham yang berdiskusi dengan pihaknya adalah bahwa langkah Indonesia terkait free float dan keterbukaan informasi mengenai konsentrasi kepemilikan saham akan cukup untuk mencegah penurunan peringkat.

    "Perpanjangan periode peninjauan dari November 2026 menjadi Juni 2027 juga memperpanjang masa ketidakpastian bagi investor," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More