Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anggota DPR Imbau RI Tak Hanya Kejar MoU Investasi, Percepat Realisasi
ilustrasi investasi. (IDN TIMES/Helmi Shemi)
  • Azis Subekti menegaskan banyaknya MoU investasi belum cukup, Indonesia harus fokus mempercepat realisasi proyek agar kerja sama benar-benar berdampak pada ekonomi nasional.
  • Hambatan utama investasi ada di tahap implementasi, seperti perizinan, tata ruang, koordinasi antar lembaga, dan kepastian regulasi yang sering membuat investor ragu.
  • Realisasi investasi strategis dinilai mampu memperkuat industrialisasi, menciptakan lapangan kerja, serta mempercepat langkah Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
30 Juni 2026

Azis Subekti menyampaikan pernyataan bahwa Indonesia perlu mempercepat realisasi investasi dan tidak hanya mengejar penandatanganan MoU. Ia menyoroti hambatan utama investasi berada pada tahap implementasi serta pentingnya koordinasi kelembagaan yang kuat.

kini

Indonesia memiliki komitmen investasi sekitar 175 miliar dolar AS dari berbagai negara mitra. Azis menegaskan perlunya mengubah peluang tersebut menjadi proyek nyata agar berdampak langsung bagi perekonomian nasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Anggota DPR RI Azis Subekti mengimbau pemerintah agar tidak hanya mengejar penandatanganan nota kesepahaman investasi, tetapi mempercepat realisasi proyek nyata dari berbagai kerja sama internasional.
  • Who?
    Azis Subekti, anggota DPR RI Fraksi Gerindra, menyampaikan pandangannya mengenai arah kebijakan investasi Indonesia dan pentingnya percepatan implementasi komitmen investasi asing.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Jakarta dalam keterangan resmi yang menyoroti kondisi dan tantangan investasi di Indonesia serta hubungan dengan sejumlah negara mitra.
  • When?
    Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa, 30 Juni 2026, saat Azis memberikan tanggapan terkait perkembangan kerja sama investasi antara Indonesia dan negara-negara mitra.
  • Why?
    Imbauan ini muncul karena banyaknya MoU investasi belum diikuti realisasi proyek konkret akibat hambatan seperti perizinan, tata ruang, koordinasi antar lembaga, dan kepastian regulasi.
  • How?
    Azis menilai pemerintah perlu memperkuat koordinasi kelembagaan dan fokus pada hasil nyata seperti pembangunan pabrik, penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, serta transfer teknologi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada Pak Azis dari DPR yang bilang Indonesia jangan cuma tanda tangan janji investasi sama negara lain, tapi harus cepat bikin jadi nyata. Katanya banyak negara suka kerja sama dengan Indonesia, tapi kadang proyeknya belum jalan karena izin dan aturan susah. Pak Azis mau semua janji itu jadi pabrik dan kerjaan beneran biar rakyat senang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Azis Subekti mencerminkan keyakinan bahwa posisi Indonesia di mata dunia semakin kuat, terlihat dari besarnya komitmen investasi global yang mencapai 175 miliar dolar AS. Pandangannya menyoroti potensi besar bangsa ini untuk bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi produktif, dengan dorongan pada efisiensi kelembagaan dan realisasi proyek nyata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menilai Indonesia perlu mengubah paradigma dalam melihat keberhasilan kerja sama investasi. Menurut dia, banyaknya nota kesepahaman atau MoU dengan negara mitra belum cukup menjadi ukuran keberhasilan apabila tidak segera diwujudkan menjadi proyek nyata.

Azis mengatakan, Indonesia saat ini memiliki daya tarik besar di mata dunia. Berbagai negara mitra terus memperluas kerja sama dengan Indonesia, mulai dari Amerika Serikat, Jepang, China, Prancis, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Korea Selatan, Australia, Singapura, Rusia, Brasil, India, dan negara lainnya.

Menurut Azis, nilai komitmen investasi yang diumumkan dalam berbagai kerja sama tersebut mencapai sekitar 175 miliar dolar AS. Angka itu menunjukkan bahwa dunia melihat Indonesia sebagai negara dengan potensi ekonomi besar.

Namun, dia mengingatkan, komitmen investasi tidak boleh berhenti pada pengumuman. Pemerintah perlu memastikan setiap kesepakatan dapat dikawal hingga tahap realisasi.

“Persoalannya bukan apakah Indonesia memiliki peluang. Persoalannya adalah apakah institusi negara mampu mengubah peluang menjadi hasil,” kata Azis dalam keterangannya, Selasa (30/6/2026).

1. Hambatan utama investasi di Indonesia terletak pada tahap implementasi

Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPi Danantara) Rosan Perkasa Roeslani di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (IDN Times/Trio Hamdani)

Dia menilai, hambatan utama investasi di Indonesia terletak pada tahap implementasi. Sejumlah persoalan seperti perizinan, tata ruang, koordinasi lintas lembaga, kepastian regulasi, dan pembebasan lahan masih menjadi tantangan yang sering dihadapi investor.

Azis mengatakan, investor pada dasarnya memahami risiko bisnis. Namun, masalahnya adalah ketidakpastian dalam proses pelaksanaan proyek.

“Investor tidak takut pada risiko. Mereka takut pada ketidakpastian. Risiko dapat dihitung, ketidakpastian tidak dapat dihitung,” ujar dia.

2. Indonesia perlu belajar dari sejumlah negara yang berhasil mengubah investasi menjadi kekuatan ekonomi nasional

Pabrik VinFast di Haiphong, Vietnam. (IDN Times/Aryodamar)

Menurut Azis, Indonesia perlu belajar dari sejumlah negara yang berhasil mengubah investasi menjadi kekuatan ekonomi nasional. Korea Selatan, China, Vietnam, dan Malaysia dinilai mampu mempercepat realisasi investasi karena memiliki koordinasi kelembagaan yang kuat dan orientasi yang jelas pada hasil.

Dia mengatakan, keberhasilan investasi seharusnya tidak lagi diukur dari nilai komitmen yang diumumkan, tetapi dari dampak nyata seperti berdirinya pabrik, bertambahnya lapangan kerja, meningkatnya ekspor, bertambahnya kapasitas industri, serta terjadinya transfer teknologi.

3. Realisasi investasi strategis bisa memberi dampak besar bagi perekonomian Indonesia

Sejumlah buruh difabel sedang bekerja di pabrik Rokok HS di Muntilan, Kabupaten Magelang. (IDN Times/bt)

Azis menilai, realisasi investasi strategis dapat memberi dampak besar bagi perekonomian Indonesia. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi juga dapat memperkuat industrialisasi, meningkatkan produktivitas, serta mempercepat jalan Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi.

“Indonesia tidak kekurangan modal, mitra, atau ketertarikan dunia. Yang sedang diuji adalah kapasitas negara untuk mengubah semua itu menjadi kemakmuran,” kata dia.

Dia mengatakan, masa depan ekonomi Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya MoU yang ditandatangani, tetapi oleh kemampuan negara mewujudkan kesepakatan itu menjadi proyek produktif yang memberi manfaat langsung bagi rakyat.

Editorial Team

Related Article