Dipicu Sentimen Global, Rupiah Melemah ke Rp17.907 per Dolar AS

- Rupiah ditutup melemah ke Rp17.907 per dolar AS, turun 56 poin akibat tekanan sentimen global dan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat serta Iran.
- Pasar menyoroti sikap hawkish The Fed yang berpotensi menaikkan suku bunga lagi tahun ini, sambil menunggu rilis data ekonomi penting seperti NFP dan JOLTS.
- Dari dalam negeri, pelaku pasar menanti data neraca perdagangan Mei; defisit transaksi berjalan diperkirakan memberi tekanan tambahan pada rupiah yang berpotensi tetap melemah.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (30/6/2026) sore. Rupiah menutup hari ini di level Rp17.907 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan mata uang Garuda mencatatkan pelemahan sebesar 56 poin atau sekitar 0,31 persen terhadap dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
1. Rupiah melemah imbas AS-Iran masih alami kebuntuan
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar tengah memantau potensi pembicaraan AS-Iran di Doha. Gencatan senjata kedua negara teruji oleh serangan rudal akhir pekan.
"Pasar mengamati hasil potensi pembicaraan AS-Iran di Doha di tengah serangan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak yang menguji gencatan senjata," kata Ibrahim.
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Iran Kazem Gharibabadi mengumumkan para ahli Iran dan Oman akan membahas pendefinisian ulang jalur transit Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan guna menghalangi kapal di luar jalur ketentuan.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran Esmaeil Baghaei menegaskan, tidak ada negosiasi dengan Amerika dalam waktu dekat. Presiden AS Donald Trump menyatakan pertemuan di Doha belum bisa dipastikan kepentingannya.
Ketidakpastian itu menyoroti kerapuhan kesepakatan 17 Juni yang mengganggu aliran minyak global dan memicu tantangan politik Trump menjelang pemilihan kongres November 2026, sementara Israel memilih menjauhkan diri dari kesepakatan tersebut.
2. Investor cermati sinyal hawkish suku bunga dan data ekonomi AS
Pasar juga dipengaruhi oleh keyakinan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga minimal sekali tahun ini, didorong sikap hawkish, yakni kecenderungan mengetatkan kebijakan moneter yang ditunjukkan pembuat kebijakan pada pertemuan Juni lalu.
Fokus investor beralih ke rilis data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) hari Kamis. Ekonom memproyeksikan penambahan 114 ribu lapangan kerja di AS dengan tingkat pengangguran tetap di level 4,3%.
"Pada hari Selasa, jadwal ekonomi AS akan menampilkan laporan JOLTS dan Indeks Kepercayaan Konsumen dari Conference Board (CB) yang akan dirilis malam nanti pukul 21.00 WIB," ujar Ibrahim.
3. Proyeksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu
Dari dalam negeri, para pelaku pasar dilaporkan sedang menanti rilis data neraca perdagangan Mei. Investor cenderung berhati-hati mengingat pada April lalu, Indonesia mencatatkan pelebaran pada defisit anggaran serta defisit transaksi berjalan.
Ibrahim menilai, menyusutnya surplus perdagangan akan memberikan tekanan tersendiri terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini.
"Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing," tuturnya.
Untuk perdagangan Rabu (1/7/2026), Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif alias naik-turun secara dinamis. Namun secara tren, rupiah diperkirakan masih berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.


















