Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
20260130_143936.jpg
Penandatanganan kerangka kerja sama (Framework Agreement) konsorsium Antam-IBC-HYD. (IDN Times/Trio Hamdani)

Intinya sih...

  • Kepemilikan mayoritas tetap di BUMN

  • Kapasitas 20 GWh dan investasi 6 miliar dolar AS

  • Dorong transfer teknologi dan keterlibatan daerah

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) dan perusahaan tambang asal China, Huayou, resmi memulai kerja sama awal proyek ekosistem baterai kendaraan listrik yang dirintis sejak 2020.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, proyek tersebut awalnya dikembangkan bersama LG, tetapi pemerintah memutuskan melanjutkan pengembangan dengan mitra lain agar agenda hilirisasi tetap berjalan.

Kepastian proyek tersebut disahkan melalui penandatanganan kerangka kerja sama (Framework Agreement) konsorsium Antam-IBC-HYD. Hal itu sekaligus menandai terbentuknya kemitraan awal proyek ekosistem baterai listrik terintegrasi di Indonesia.

“Ini adalah bagian dari negosiasi yang cukup panjang sekali sejak saya masih Kepala BKPM/Menteri Investasi. Waktu itu adalah bagaimana kita mendorong pembangunan realisasi dan membangun ekosistem baterai mobil yang terintegrasi,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

1. Kepemilikan mayoritas tetap di BUMN

Penandatanganan kerangka kerja sama (Framework Agreement) konsorsium Antam-IBC-HYD. (IDN Times/Trio Hamdani)

Penandatanganan kerangka kerja sama dilakukan oleh Antam, Indonesia Battery Corporation (IBC), bersama Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd.. Kolaborasi itu juga melibatkan HYD Investment Limited, konsorsium Huayou dengan EVE Energy Co., Ltd., serta PT Daaz Bara Lestari Tbk.

Bahlil menegaskan, kepemilikan mayoritas dalam proyek ini akan dipegang ANTAM sebagai BUMN, sejalan dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menempatkan kepentingan negara sebagai prioritas utama.

“Arahan Bapak Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengurangan sumber daya alam, baik sekarang maupun di depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara,” ujarnya.

Meski demikian, Bahlil mengakui pengembangan industri baterai listrik masih membutuhkan dukungan mitra luar negeri, terutama dalam hal transfer teknologi, akses pasar, serta manajemen profesional. Karena itu, kerja sama diarahkan agar investasi berjalan saling menguntungkan tanpa mengabaikan posisi strategis negara.

2. Kapasitas 20 GWh dan investasi 6 miliar dolar AS

Penandatanganan kerangka kerja sama (Framework Agreement) konsorsium Antam-IBC-HYD. (IDN Times/Trio Hamdani)

Proyek ekosistem baterai listrik tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi hingga 20 gigawatt hour (GWh). Dengan skala tersebut, proyek itu diproyeksikan menjadi salah satu pengembangan baterai terbesar di kawasan Asia.

Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai 6 miliar, setara Rp100,2 triliun dan berpotensi menyerap sekitar 10 ribu tenaga kerja. Rincian teknis dan ekonomi proyek tersebut masih akan diperdalam melalui studi kelayakan yang saat ini sedang disusun.

Bahlil juga menyampaikan, pengembangan baterai tidak hanya ditujukan untuk kendaraan listrik, tetapi juga untuk mendukung kebutuhan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, termasuk program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt.

“Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga di-design untuk baterai panas sunya," tutur Bahlil.

3. Dorong transfer teknologi dan keterlibatan daerah

Penandatanganan kerangka kerja sama (Framework Agreement) konsorsium Antam-IBC-HYD. (IDN Times/Trio Hamdani)

Menurut Bahlil, kolaborasi antara investor global dengan perusahaan nasional diharapkan mendorong alih teknologi agar industri dalam negeri dapat berkembang dan menjadi pemain utama di negaranya sendiri.

Dia juga menekankan pentingnya keterlibatan pengusaha dan tenaga kerja daerah dalam proyek ini. Pengembangan ekosistem baterai direncanakan melibatkan wilayah Jawa Barat untuk sektor hilir, serta pembangunan tambang, smelter, dan fasilitas hilirisasi di Maluku Utara, khususnya Halmahera Timur.

"Kalau ini mampu kita lakukan, maka Indonesia menjadi salah satu negara setelah China yang membangun ekosistem baterai mobil yang terintegrasi dengan mobil di dunia belum ada," kata Bahlil.

Editorial Team