ilustrasi belanja online (pexels.com/cottonbro studio)
Supaya lebih mudah dibayangkan, mari lihat beberapa contoh sederhana penggunaan omnichannel dalam aktivitas sehari-hari.
1. Bisnis fashion: Checkout online, ambil di toko
Bayangkan kamu menemukan jaket menarik melalui Instagram sebuah brand fashion.
Setelah membuka website resmi, kamu memilih ukuran dan memeriksa apakah produk tersedia di cabang terdekat.
Ternyata stoknya ada. Kamu pun melakukan pembayaran melalui website dan memilih opsi pengambilan di toko.
Saat datang, staf cukup memeriksa nomor pesanan untuk menyerahkan jaket yang sudah disiapkan.
Ini menjadi contoh omnichannel karena proses pencarian produk, pengecekan stok, pembayaran, dan pengambilan barang saling terhubung.
2. UMKM: Pesan produk melalui WhatsApp
Sebuah UMKM kue memiliki toko fisik sekaligus menerima pesanan melalui Instagram dan WhatsApp.
Ada seorang customer yang menemukan katalog kue di Instagram, lalu menghubungi melalui WhatsApp untuk menanyakan ketersediaan produk.
Admin dapat memeriksa stok melalui sistem yang juga digunakan toko fisik. Setelah pesanan dikonfirmasi, pelanggan memilih mengambil kue langsung di toko.
Ketika pelanggan datang, staf sudah mengetahui rincian pesanannya.
Meskipun hanya menggunakan beberapa channel, UMKM tersebut sudah menerapkan pengalaman omnichannel karena informasi pesanan dan persediaannya saling terhubung.
3. Perbankan: Layanan digital dan kantor cabang
Misalnya, kamu ingin mengajukan layanan perbankan melalui aplikasi mobile.
Setelah mengisi data awal, ternyata ada dokumen tambahan yang harus diverifikasi secara langsung.
Kamu kemudian datang ke kantor cabang, dan petugas dapat melanjutkan proses berdasarkan data pengajuan yang sebelumnya sudah tersimpan.
Dengan sistem yang terhubung, kamu tidak perlu mengulang seluruh proses pendaftaran dari awal.
4. Customer Service: keluhan berlanjut tanpa mengulang cerita
Pernah menghubungi customer service lewat chat, tetapi kemudian diminta menjelaskan masalah yang sama ketika beralih ke telepon?
Nah, omnichannel berupaya mengurangi pengalaman seperti ini.
Sebagai contoh, seorang customer mengajukan keluhan mengenai pesanan yang belum diterima melalui live chat website.
Ketika masalah perlu ditangani lebih lanjut melalui telepon, petugas dapat melihat riwayat percakapan dan status pesanan sebelumnya.
Dengan begitu, proses penyelesaian keluhan dapat dilanjutkan tanpa pelanggan harus terus-menerus mengulang informasi.
Dari berbagai contoh tersebut, terlihat bahwa omnichannel bukan sekadar strategi menggunakan banyak platform sekaligus.
Inti omnichannel adalah menciptakan pengalaman customer yang tetap terhubung, meskipun mereka berpindah dari satu channel ke channel lainnya.
Bagi bisnis, langkah awalnya tidak harus langsung mengintegrasikan semua channel. Yang lebih penting adalah memahami customer journey, memilih channel yang tepat, dan memastikan setiap interaksi dapat dilanjutkan dengan lancar.
Jadi, coba perhatikan bisnis yang kamu jalankan atau layanan yang sering kamu gunakan. Apakah customer sudah bisa berpindah channel tanpa harus mengulang proses dari awal, atau setiap channel masih bekerja sendiri-sendiri?