ilustrasi mencatat pengeluaran rutin (Pexels.com/Mikhail Nilov)
Mengetahui konsep opportunity cost bukan berarti kita harus menghitung nilai rupiah dari setiap keputusan. Tujuannya adalah membuat kita lebih sadar terhadap konsekuensi dari pilihan yang dibuat. Misalnya, seseorang mendapatkan bonus Rp5 juta. Ia memiliki beberapa pilihan: membeli barang yang diinginkan, menabung, membayar utang, berinvestasi, atau menggunakannya untuk pengalaman seperti liburan. Setiap pilihan memiliki manfaat dan opportunity cost yang berbeda.
Jika uang digunakan untuk membeli gadget, opportunity cost-nya bisa berupa kesempatan untuk melunasi sebagian utang. Jika uang digunakan untuk melunasi utang, opportunity cost-nya bisa berupa kesempatan menikmati liburan.
Tidak ada satu jawaban yang otomatis benar untuk semua orang. Nilai dari setiap alternatif bergantung pada kondisi dan tujuan masing-masing. Karena itu, opportunity cost bukan konsep yang digunakan untuk menentukan pilihan mana yang harus diambil, melainkan alat untuk membantu seseorang memahami apa yang harus dikorbankan dari pilihan tersebut.
Sederhananya, opportunity cost adalah nilai dari alternatif terbaik yang harus kita lepaskan ketika memilih sesuatu. Ketika memilih bekerja lembur, kita mungkin kehilangan waktu bersama keluarga. Ketika memilih kuliah, kita mungkin kehilangan sebagian kesempatan untuk mendapatkan penghasilan penuh waktu. Ketika memilih membeli sesuatu, kita mungkin kehilangan kesempatan menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan lain.
Bukan berarti kita harus selalu memilih alternatif yang menghasilkan uang paling banyak. Terkadang, waktu bersama orang yang disayangi memang lebih berharga daripada penghasilan tambahan. Begitu pula dengan memilih beristirahat daripada bekerja ketika tubuh membutuhkan pemulihan. Terpenting adalah menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi, setuju?