Jakarta, IDN Times – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani mengatakan, pentingnya adaptasi strategis dunia usaha menghadapi gejolak nilai tukar rupiah dan tekanan biaya produksi.
Menurutnya, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor, terutama karena sekitar 70 persen bahan baku manufaktur masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Terlebih, saat ini rupiah telah menembus level Rp17.600 per dolar AS, yang berarti biaya produksi bagi dunia usaha menjadi semakin tinggi.
"Saat ini, sekitar 70 persen bahan baku manufaktur berasal dari impor, dengan kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55 persen dalam struktur biaya produksi. Dengan demikian, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah," katanya kepada IDN Times, Jumat (15/5/2026).
