Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Indef: Tekanan Rupiah saat Ini Bukan hanya Persoalan Moneter

Indef: Tekanan Rupiah saat Ini Bukan hanya Persoalan Moneter
Ilustrasi mata uang Rupiah (freepik.com/skata)
Intinya Sih
  • Pelemahan rupiah disebabkan kombinasi faktor eksternal dan domestik seperti penguatan dolar AS, capital outflow, kenaikan harga energi global, serta kekhawatiran terhadap ruang fiskal nasional.
  • Bank Indonesia telah melakukan intervensi agresif di pasar valas, DNDF, dan obligasi untuk menahan depresiasi rupiah, namun koordinasi dengan kebijakan fiskal dinilai penting menjaga stabilitas nilai tukar.
  • Pelemahan rupiah menekan biaya produksi dan arus kas perusahaan akibat naiknya harga impor, biaya logistik global, bunga pinjaman, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman menjelaskan, tekanan yang mendorong pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir tidak hanya persoalan moneter, melainkan dipengaruhi sejumlah faktor eksternal dan domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS, namun sudah berangsur menguat ke Rp17.598 per dolar AS.

"Tekanan rupiah saat ini bukan hanya persoalan moneter, melainkan kombinasi penguatan dolar AS, capital outflow, kenaikan harga energi global, dan kekhawatiran pasar terhadap ruang fiskal domestik," katanya kepada IDN Times, Jumat (15/5/2026).

1. BI tidak bisa bekerja sendiri butuh bantuan dari sisi fiskal

Indef: Tekanan Rupiah saat Ini Bukan hanya Persoalan Moneter
Ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut Rizal, Bank Indonesia (BI) tidak bisa bekerja sendiri dan pemerintah harus ikut andil untuk menjaga laju penguatan rupiah dengan memperkuat devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (DHE SDA), menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta mempercepat hilirisasi.

"Langkah ini dilakukan agar penguatan rupiah tidak hanya bersifat sementara tetapi ditopang fundamental ekonomi yang lebih kuat," ujarnya

2. BI sudah agresif lakukan intervensi untuk stabilkan rupiah

Indef: Tekanan Rupiah saat Ini Bukan hanya Persoalan Moneter
gedung Bank Indonesia (instagram.com/bank_indonesia)

Menurut Rizal, langkah BI sejauh ini sudah tergolong agresif melalui intervensi pasar valuta asing (valas), domestic non-deliverable forward (DNDF), dan stabilisasi pasar obligasi.

Menurut Rizal, upaya tersebut menunjukkan keseriusan BI dalam menahan depresiasi rupiah di tengah tekanan global. Dengan demikian, ia menekankan, koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika ekonomi global yang fluktuatif.

3. Pelemahan rupiah tekan biaya produksi dan arus kas perusahaan

Indef: Tekanan Rupiah saat Ini Bukan hanya Persoalan Moneter
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira menyoroti dampak pelemahan rupiah terhadap dunia usaha, khususnya dalam tekanan biaya produksi dan cash flow atau arus kas keuangan perusahaan.

“Ketika rupiah melemah cukup dalam dan berlangsung relatif lama, dampaknya tidak hanya kenaikan biaya produksi, tetapi juga tekanan terhadap cash flow perusahaan,” ujar Anggawira kepada IDN Times, Kamis (14/3).

Menurutnya, beberapa faktor utama yang menjadi penyebab tekanan bagi dunia usaha, antara lain meningkatnya biaya impor, tingginya biaya logistik global, naiknya bunga pinjaman, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Sebagai ilustrasi, perusahaan manufaktur A di Jawa Timur harus membeli bahan baku impor dengan harga yang naik sekitar 15 persen dibanding tahun lalu. Biaya logistik global untuk pengiriman barang juga meningkat hingga 10 persen, menambah beban operasional perusahaan.

Di sisi lain, bunga pinjaman bank untuk modal kerja naik dari 6 persen menjadi 7,5 persen, sehingga perusahaan harus mengalokasikan lebih banyak dana hanya untuk membayar bunga. Ditambah lagi, daya beli masyarakat yang belum pulih membuat perusahaan kesulitan menaikkan harga jual produknya.

“Akibatnya, margin industri tertekan dari dua sisi: biaya produksi naik, tetapi kemampuan menaikkan harga jual tetap terbatas,” tuturnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Related Articles

See More