- Insentif PPh badan DTP untuk sektor tertentu
- Relaksasi kredit dan restrukturisasi terbatas
- Percepatan restitusi pajak
- Kemudahan impor bahan baku
- Insentif bunga
- Percepatan belanja pemerintah dan pembayaran proyek
Hipmi: Stimulus Dibutuhkan Dunia Usaha demi Redam Dampak Pelemahan Rupiah

- HIPMI menyoroti perlunya stimulus pemerintah yang terukur untuk menjaga likuiditas dan keberlangsungan sektor riil di tengah pelemahan rupiah hingga Rp17.600 per dolar AS.
- Tekanan terbesar dirasakan sektor manufaktur akibat kenaikan biaya bahan baku impor, energi, logistik, dan pembiayaan, sementara daya beli masyarakat belum cukup kuat.
- Jika pelemahan rupiah berlanjut, banyak perusahaan diperkirakan menunda ekspansi dan fokus pada efisiensi operasional serta penguatan cadangan kas agar tetap bertahan.
Jakarta, IDN Times – Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira menekankan pentingnya stimulus pemerintah yang terukur untuk menjaga likuiditas dan keberlangsungan sektor riil di tengah tekanan nilai tukar rupiah, tingginya biaya produksi, serta perlambatan ekonomi global.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah sempat menembus Rp17.600 per dolar AS, menandai pelemahan terdalam sepanjang sejarah.
“Stimulus tidak harus besar, tetapi yang paling penting memberi ruang napas bagi cash flow industri,” ujar Anggawira kepada IDN Times, Jumat (15/5/2026).
1. Sejumlah stimulus yang dibutuhkan dunia usaha

Menurut Anggawira, masalah utama dunia usaha saat ini bukan hanya soal profitabilitas, melainkan likuiditas dan keberlangsungan arus kas. Untuk meringankan tekanan tersebut, dia mengatakan, perlunya beberapa bentuk stimulus pemerintah yang tepat sasaran, antara lain:
2. Tekanna sektor manufaktur saat rupiah melemah

Tekanan di sektor manufaktur, menurut Anggawira, datang dari kenaikan biaya bahan baku impor, energi, logistik, dan pembiayaan, sementara kemampuan perusahaan untuk menaikkan harga jual terbatas akibat daya beli masyarakat yang belum terlalu kuat.
“Kalau kondisi ini berlangsung cukup lama tanpa adanya ruang relaksasi, perusahaan akan cenderung masuk mode defensif,” ujarnya.
3. Jika rupiah terus melemah, dunia usaha tunda ekspansi

Meski begitu, Anggawira tetap optimistis. Ia menilai dunia usaha Indonesia secara umum masih cukup resilien, terutama setelah pengalaman menghadapi pandemik dan berbagai krisis global sebelumnya.
“Banyak pelaku usaha sekarang lebih adaptif dibanding beberapa tahun lalu,” ujarnya.
Namun, ia memperingatkan, tekanan global dan pelemahan rupiah yang berkepanjangan kemungkinan akan memaksa perusahaan melakukan langkah efisiensi, termasuk menunda ekspansi, mengurangi belanja modal, mengendalikan perekrutan, melakukan efisiensi operasional, renegosiasi kontrak, mengurangi impor, hingga menyesuaikan produksi.
Menurutnya, perusahaan yang memiliki cadangan kas kuat, utang sehat, dan struktur bisnis efisien akan lebih mampu bertahan. Sedangkan perusahaan dengan utang tinggi, ketergantungan impor besar, dan margin tipis akan mulai mengalami tekanan lebih berat.
“Bahkan beberapa sektor mulai sangat selektif menjaga inventory dan cadangan kas. Dalam situasi seperti ini, cash is king,” ucap Anggawira.


















![[QUIZ] Dari Tanggal Lahirmu, Ini Ide Bisnis yang Cocok Untukmu](https://image.idntimes.com/post/20240222/pexels-amina-filkins-5410071-82b9698c7aa998b567146c35cfdddceb.jpg)