Jakarta, IDN Times – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai asumsi makro dalam RAPBN 2027 terlalu optimistis, terutama terkait target pertumbuhan ekonomi yang dipatok di kisaran 5,8 hingga 6,5 persen.
Target tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 yang berada di kisaran 5,4 persen.
“Secara umum asumsi makro APBN 2027 memang bernada cukup optimistis, dan itu terlihat dari tema yang diusung, yaitu ‘Stabil dan Tumbuh Tinggi’,” ujar Yusuf kepada IDN Times.
Menurut Yusuf, persoalan utama bukan sekadar menarik atau tidaknya target pertumbuhan tersebut, melainkan strategi pemerintah untuk mencapainya.
"Pertanyaan utamanya bukan apakah target pertumbuhan 5,8 sampai 6,5 persen itu menarik secara angka, melainkan bagaimana cara mencapainya. Sebab, pertumbuhan setinggi itu tidak bisa lagi hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga seperti pola pertumbuhan beberapa tahun terakhir,” katanya.
Dia menilai mesin pertumbuhan ekonomi harus mulai bergeser ke investasi dan peningkatan produktivitas agar target tersebut realistis untuk dicapai.
“Mesin pertumbuhan harus mulai bergeser ke investasi dan peningkatan produktivitas. Karena itu, struktur fiskal yang disiapkan pemerintah menjadi penting untuk dicermati,” ujar Yusuf.
