Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Prabowo Mengaku Terpukul usai Terima Data Kemiskinan-Kelas Menengah

Prabowo Mengaku Terpukul usai Terima Data Kemiskinan-Kelas Menengah
Rapat paripurna Presiden Prabowo di DPR RI. (Youtube.com/DPR RI)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Presiden Prabowo mengaku terpukul setelah menerima data ekonomi yang menunjukkan peningkatan kemiskinan dan penurunan kelas menengah meski pertumbuhan ekonomi mencapai 5 persen per tahun.
  • Dalam pidato KEM dan PPKF RAPBN 2027 di DPR, Prabowo menyoroti paradoks antara pertumbuhan ekonomi 35 persen selama tujuh tahun dengan naiknya angka kemiskinan dari 46,1 menjadi 49,5 persen.
  • Prabowo menilai sistem perekonomian Indonesia berada pada lintasan yang tidak tepat dan menyerukan evaluasi berbasis pendekatan ilmiah serta perhitungan matematis untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto mengaku terpukul setelah menerima data terkait kondisi ekonomi masyarakat beberapa minggu, setelah dirinya menjabat sebagai presiden.

Prabowo mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tujuh tahun terakhir tercatat sekitar 5 persen per tahun. Dengan pertumbuhan tersebut, ekonomi Indonesia disebut telah bertambah sekitar 35 persen dalam kurun waktu tujuh tahun.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027, dalam rapat paripurna ke-19 masa persidangan V Tahun sidang 2025-2026 di DPR RI.

"Saya mengajak kita jujur kepada diri kita sendiri dan kepada rakyat kita. Ini mungkin menyakitkan bagi kita. Saya merasa setelah saya terima data-data ini beberapa minggu setelah saya jadi presiden, saya merasa seolah saya dipukul di ulu hati saya," kata Prabowo, Rabu (20/5/2026).

Bagaimana tidak, di saat Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi, jumlah masyarakat miskin justru meningkat dari 46,1 persen menjadi 49,5 persen atau naik lebih dari 3 persen.

Selain itu, kelas menengah juga disebut mengalami penurunan di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus berlangsung.

"Saudara-saudara, saya bertanya di hadapan majelis yang terhormat ini. Saya bertanya kepada semua partai politik, semua ormas, saya bertanya kepada semua pakar-pakar dan semua guru besar. Bagaimana bisa pertumbuhan 35 persen tapi kelas menengah menurun, kemiskinan meningkat?" ungkapnya.

Menurut Prabowo, pertumbuhan ekonomi sebesar 35 persen seharusnya tidak diikuti dengan penurunan kelas menengah dan peningkatan angka kemiskinan. Prabowo mengatakan jawaban atas kondisi tersebut harus didasarkan pada pendekatan ilmiah dan perhitungan matematis.

"Dan menurut saya, jawabannya adalah bahwa kemungkinan besar—bukan kemungkinan, saya yakin—sistem perekonomian yang kita jalankan berada pada trajektori (lintasan) yang tidak tepat," kata Prabowo.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
Eddy Rusmanto
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya

Related Articles

See More