Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Supermarket Menghitung Kerugian akibat Produk Rusak?
ilustrasi bisnis supermarket (pexels.com/fabnel LDN)
  • Supermarket mencatat jumlah dan nilai produk rusak berdasarkan SKU serta metode persediaan, lalu mengeluarkan nilainya dari stok yang dapat dijual.
  • Kerugian membedakan nilai persediaan yang dihapus dari potensi margin penjualan; barang dengan kerusakan kemasan masih dapat dijual diskon jika memenuhi standar.
  • Produk kedaluwarsa dan biaya pemindahan, penyimpanan, pengembalian, atau pemusnahan turut dicatat untuk mengevaluasi pemesanan, rotasi stok, penyimpanan, dan promosi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Produk rusak menjadi salah satu risiko yang harus dihadapi supermarket dalam menjalankan bisnis sehari-hari. Barang bisa rusak karena penanganan yang kurang tepat, kemasan bocor, penyimpanan yang tidak sesuai, hingga produk makanan yang melewati masa layak jual. Jika jumlahnya terus bertambah, kerusakan barang dapat memengaruhi keuntungan supermarket.

Menariknya, kerugian akibat produk rusak tidak selalu dihitung hanya dari harga beli barang. Supermarket perlu melihat nilai persediaan, potensi keuntungan yang hilang, biaya penanganan, serta kemungkinan produk tersebut masih bisa diselamatkan. Lantas, bagaimana supermarket biasanya menghitung kerugian akibat produk rusak?

1. Menghitung nilai barang yang rusak

ilustrasi pasangan belanja (pexels.com/Jack Sparrow)

Langkah pertama adalah mengetahui jumlah dan nilai produk yang mengalami kerusakan. Supermarket biasanya mencatat barang berdasarkan kode produk atau SKU sehingga jumlah produk yang rusak dapat dibandingkan dengan data persediaan. Nilai barang kemudian dihitung berdasarkan metode pencatatan persediaan yang digunakan perusahaan.

Sebagai contoh, sebuah supermarket memiliki 20 botol minuman dengan nilai persediaan Rp10 ribu per botol dan lima di antaranya rusak. Nilai persediaan yang harus dikeluarkan dari stok tersebut adalah Rp50.000. Perhitungan seperti ini menjadi dasar untuk mengetahui nilai kerugian persediaan akibat kerusakan barang.

2. Membandingkan harga beli dengan potensi penjualan

ilustrasi belanja (pexels.com/Jack Sparrow)

Kerugian juga dapat dilihat dari kesempatan supermarket untuk menjual barang tersebut. Jika sebuah produk dibeli dengan harga Rp10 ribu dan seharusnya dijual Rp15 ribu, produk yang rusak tidak hanya menghilangkan nilai persediaan, tetapi juga membuat supermarket kehilangan kesempatan memperoleh margin dari penjualan.

Namun, potensi keuntungan yang hilang tidak selalu dicatat sebagai kerugian akuntansi secara langsung. Perusahaan biasanya tetap membedakan antara nilai persediaan yang harus dihapus dan potensi pendapatan yang tidak jadi diperoleh. Pemisahan tersebut penting agar perhitungan keuangan tidak mencampurkan nilai barang dengan keuntungan yang seharusnya didapat.

3. Memeriksa apakah barang masih bisa diselamatkan

ilustrasi belanja Frozen food (pexels.com/Gustavo Fring)

Tidak semua produk yang mengalami kerusakan harus langsung dibuang. Beberapa barang mungkin masih dapat dijual dengan harga diskon jika kerusakannya hanya menyangkut kemasan dan isi produk tetap memenuhi standar. Supermarket perlu memeriksa kondisi barang sebelum menentukan apakah produk masuk kategori rusak total atau masih memiliki nilai ekonomis.

Misalnya, kemasan sebuah produk mengalami penyok tetapi isi dan keamanan produknya masih memenuhi ketentuan. Barang tersebut mungkin dapat dijual dengan harga lebih rendah sesuai kebijakan supermarket. Jika produk akhirnya masih bisa dijual, nilai kerugiannya tentu berbeda dibandingkan barang yang harus dimusnahkan seluruhnya.

4. Menghitung produk yang rusak karena kedaluwarsa

ilustrasi keluarga belanja (pexels.com/Gustavo Fring)

Produk makanan dan minuman memiliki risiko khusus karena masa simpannya terbatas. Ketika produk melewati tanggal kedaluwarsa atau tidak lagi memenuhi standar penjualan, supermarket harus mengeluarkannya dari persediaan yang dapat dijual. Jumlah barang yang terbuang kemudian dicatat sebagai bagian dari kehilangan persediaan sesuai prosedur perusahaan.

Data tersebut biasanya juga digunakan untuk mengevaluasi pengelolaan stok. Jika produk tertentu terlalu sering kedaluwarsa, supermarket dapat meninjau kembali jumlah pemesanan, kecepatan penjualan, sistem rotasi stok, dan strategi promosi. Dengan demikian, pencatatan kerugian tidak hanya berfungsi sebagai laporan, tetapi juga menjadi bahan untuk memperbaiki operasional.

5. Memasukkan biaya penanganan dan pengelolaan

ilustrasi pria belanja (pexels.com/Drazen Zigic)

Kerugian produk rusak tidak selalu berhenti pada nilai barang yang tidak bisa dijual. Supermarket juga dapat mengeluarkan biaya tambahan untuk memindahkan, menyimpan sementara, mengembalikan, atau memusnahkan produk tertentu. Besarnya biaya tersebut bergantung pada jenis barang dan prosedur pengelolaan yang diterapkan.

Karena itu, supermarket perlu memiliki pencatatan yang cukup detail mengenai penyebab dan jenis kerusakan. Data tersebut dapat membantu perusahaan mengetahui sumber kehilangan terbesar, apakah berasal dari barang kedaluwarsa, kerusakan saat pengiriman, kesalahan penyimpanan, atau penanganan di toko. Semakin jelas penyebabnya, semakin mudah supermarket menentukan langkah untuk mengurangi kerugian serupa.

Menghitung kerugian akibat produk rusak bukan sekadar menjumlahkan barang yang dibuang. Supermarket perlu mengetahui nilai persediaan, kemungkinan barang masih dapat dijual, potensi margin yang hilang, serta biaya tambahan yang muncul akibat proses penanganan. Semua informasi tersebut membantu perusahaan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai dampak kerusakan barang terhadap bisnis.

Data produk rusak juga bisa menjadi bahan evaluasi untuk mengurangi pemborosan. Jika tingkat kerusakan atau kedaluwarsa terlalu tinggi, supermarket dapat memperbaiki sistem pemesanan, penyimpanan, rotasi stok, hingga strategi promosi. Dengan begitu, pencatatan kerugian bukan hanya menunjukkan berapa banyak uang yang hilang, tetapi juga membantu perusahaan menemukan cara agar kehilangan tersebut tidak terus berulang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

354 BUMN Sudah Dipangkas05 Oct 2026, 18:36 WIB