Jakarta, IDN Times - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) memicu sorotan terhadap peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas mata uang domestik.
Anggota Komisi XI DPR RI, Harris Turino, menilai bank sentral harus bertanggung jawab penuh meredam tekanan terhadap rupiah di tengah derasnya arus modal keluar atau capital outflow dan melemahnya kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Menurut Harris, gejolak rupiah saat ini memang berbeda dengan krisis 1998 karena struktur utang Indonesia kini lebih didominasi utang domestik. Harris menjelaskan saat itu level depresiasi pada tahun 1998 dari Rp2.500 ke Rp16.500. Kalau sekarang, katakan depresiasinya dari Rp16.500 ke Rp17.600.
"Dan proporsi utang saat ini dominan di utang domestik," tegasnya dalam rapat kerja bersama Komisi XI, Senin (18/5/2026).
