Bukan Cuma Investor, Efek MSCI Bisa Tekan Biaya Hidup Masyarakat

Usulan perubahan status pasar saham Indonesia berpotensi memicu arus modal keluar dan menekan nilai tukar rupiah.
Tekanan rupiah dapat menaikkan harga barang impor, kendaraan, elektronik, serta biaya bahan baku obat-obatan.
Kenaikan harga dan potensi suku bunga kredit menambah tekanan ganda terhadap biaya hidup masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Usulan MSCI Inc mengubah status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market berpotensi berdampak pada masyarakat umum. Salah satunya melalui arus modal keluar yang dapat menekan nilai tukar rupiah.io
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menjelaskan tekanan terhadap rupiah dapat berdampak pada biaya impor barang dan bahan baku industri. Kondisi tersebut berisiko meningkatkan pengeluaran masyarakat, termasuk untuk kebutuhan kesehatan.
"Dampaknya ke arus modal yang keluar dari Indonesia menciptakan tekanan ke kurs rupiah," kata Bhima kepada IDN Times, Minggu (18/10/2026).
1. Harga barang elektronik hingga kendaraan bermotor bisa naik

ilustrasi harga naik (magnific.com/magnific) Bhima menilai tekanan terhadap rupiah dapat membuat harga barang elektronik hingga kendaraan bermotor meningkat akibat perubahan nilai tukar. Pelemahan rupiah membuat biaya pembelian barang dan komponen impor dalam denominasi valuta asing menjadi lebih mahal jika dihitung dalam rupiah.
Risiko tersebut juga perlu diperhatikan pada industri obat-obatan. Bhima menyoroti tingginya ketergantungan industri farmasi Indonesia terhadap bahan baku impor, yang porsinya dapat mencapai 90 persen.
"Harga barang elektronik sampai kendaraan bermotor bisa naik karena selisih kurs. Yang lebih berisiko adalah Porsi bahan baku impor untuk industri obat-obatan bisa 90 persen jadi biaya kesehatan lebih mahal," ujar dia.
2. Suku bunga kredit berpotensi naik

ilustrasi seseorang yang sedang melakukan analisis suku bunga pada sebuah dokumen keuangan (pexels.com/Proyek Saham RDNE) Selain melalui harga barang, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi berdampak pada suku bunga kredit. Bhima menjelaskan, pengendalian nilai tukar dapat dilakukan menggunakan instrumen suku bunga.
Dalam kondisi tekanan terhadap rupiah, kebijakan suku bunga dapat menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Perubahan suku bunga dapat memengaruhi biaya pembiayaan di sektor perbankan, termasuk kredit bagi masyarakat.
"Efek lain ke naiknya suku bunga kredit karena pengendalian nilai tukar bisa pakai instrumen suku bunga," tuturnya.
3. Masyarakat menghadapi tekanan ganda biaya hidup

ilustrasi membuka dompet kosong (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya) Kombinasi kenaikan harga barang akibat perubahan kurs dan potensi kenaikan suku bunga kredit dapat menambah tekanan terhadap biaya hidup masyarakat.
Masyarakat berisiko menghadapi pengeluaran lebih besar untuk membeli barang yang bergantung pada impor, termasuk kebutuhan kesehatan. Pada saat yang sama, kenaikan bunga kredit dapat menambah beban pembayaran bagi debitur yang terdampak penyesuaian suku bunga.
"Ini berimbas ke tekanan ganda ke biaya hidup masyarakat," kata Bhima.



















