Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Cuma Investor, Efek MSCI Bisa Tekan Biaya Hidup Masyarakat
MSCI (msci.com)
  • Usulan perubahan status pasar saham Indonesia berpotensi memicu arus modal keluar dan menekan nilai tukar rupiah.

  • Tekanan rupiah dapat menaikkan harga barang impor, kendaraan, elektronik, serta biaya bahan baku obat-obatan.

  • Kenaikan harga dan potensi suku bunga kredit menambah tekanan ganda terhadap biaya hidup masyarakat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Minggu (18/10/2026)

Bhima Yudhistira menyampaikan kepada IDN Times bahwa arus modal keluar dapat menciptakan tekanan terhadap kurs rupiah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Usulan perubahan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market berpotensi menekan rupiah dan meningkatkan biaya hidup masyarakat.
  • Who?
    MSCI Inc mengusulkan perubahan status tersebut, sementara dampaknya dijelaskan Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira.
  • Where?
    Dampak yang dibahas berkaitan dengan Indonesia, termasuk pasar saham, industri, perbankan, dan masyarakat.
  • When?
    Bhima menyampaikan keterangan kepada IDN Times pada Minggu (18/10/2026).
  • Why?
    Arus modal keluar berpotensi menekan nilai tukar rupiah, sehingga biaya barang dan bahan baku impor serta kredit dapat meningkat.
  • How?
    Tekanan rupiah dapat menaikkan harga barang impor dan biaya kesehatan, sedangkan suku bunga dapat digunakan untuk mengendalikan nilai tukar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

MSCI mengusulkan perubahan status pasar saham Indonesia. Ini bisa membuat uang keluar dan rupiah tertekan. Bhima Yudhistira bilang harga barang impor, obat, dan kendaraan dapat naik. Bunga kredit juga bisa meningkat. Sekarang, masyarakat berisiko membayar lebih banyak untuk barang, kesehatan, dan cicilan dalam kehidupan sehari-hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penjelasan mengenai dampak usulan MSCI membuat kemungkinan pengaruh terhadap masyarakat terlihat lebih jelas, bukan hanya bagi investor. Hubungan antara nilai tukar, harga barang impor, biaya kesehatan, dan bunga kredit dipaparkan melalui keterangan Bhima Yudhistira. Dengan begitu, dampak ekonomi yang disebutkan mencakup kebutuhan sehari-hari dan kewajiban pembayaran masyarakat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Usulan MSCI Inc mengubah status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market berpotensi berdampak pada masyarakat umum. Salah satunya melalui arus modal keluar yang dapat menekan nilai tukar rupiah.io

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menjelaskan tekanan terhadap rupiah dapat berdampak pada biaya impor barang dan bahan baku industri. Kondisi tersebut berisiko meningkatkan pengeluaran masyarakat, termasuk untuk kebutuhan kesehatan.

"Dampaknya ke arus modal yang keluar dari Indonesia menciptakan tekanan ke kurs rupiah," kata Bhima kepada IDN Times, Minggu (18/10/2026).

1. Harga barang elektronik hingga kendaraan bermotor bisa naik

ilustrasi harga naik (magnific.com/magnific)

Bhima menilai tekanan terhadap rupiah dapat membuat harga barang elektronik hingga kendaraan bermotor meningkat akibat perubahan nilai tukar. Pelemahan rupiah membuat biaya pembelian barang dan komponen impor dalam denominasi valuta asing menjadi lebih mahal jika dihitung dalam rupiah.

Risiko tersebut juga perlu diperhatikan pada industri obat-obatan. Bhima menyoroti tingginya ketergantungan industri farmasi Indonesia terhadap bahan baku impor, yang porsinya dapat mencapai 90 persen.

"Harga barang elektronik sampai kendaraan bermotor bisa naik karena selisih kurs. Yang lebih berisiko adalah Porsi bahan baku impor untuk industri obat-obatan bisa 90 persen jadi biaya kesehatan lebih mahal," ujar dia.

2. Suku bunga kredit berpotensi naik

ilustrasi seseorang yang sedang melakukan analisis suku bunga pada sebuah dokumen keuangan (pexels.com/Proyek Saham RDNE)

Selain melalui harga barang, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi berdampak pada suku bunga kredit. Bhima menjelaskan, pengendalian nilai tukar dapat dilakukan menggunakan instrumen suku bunga.

Dalam kondisi tekanan terhadap rupiah, kebijakan suku bunga dapat menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Perubahan suku bunga dapat memengaruhi biaya pembiayaan di sektor perbankan, termasuk kredit bagi masyarakat.

"Efek lain ke naiknya suku bunga kredit karena pengendalian nilai tukar bisa pakai instrumen suku bunga," tuturnya.

3. Masyarakat menghadapi tekanan ganda biaya hidup

ilustrasi membuka dompet kosong (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Kombinasi kenaikan harga barang akibat perubahan kurs dan potensi kenaikan suku bunga kredit dapat menambah tekanan terhadap biaya hidup masyarakat.

Masyarakat berisiko menghadapi pengeluaran lebih besar untuk membeli barang yang bergantung pada impor, termasuk kebutuhan kesehatan. Pada saat yang sama, kenaikan bunga kredit dapat menambah beban pembayaran bagi debitur yang terdampak penyesuaian suku bunga.

"Ini berimbas ke tekanan ganda ke biaya hidup masyarakat," kata Bhima.

Curated For You

Editorial Team

Related Article