Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_7111.jpeg
Direktur Keuangan Perum Bulog, Hendra Susanto. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Intinya sih...

  • Bulog menargetkan untung Rp2,5 triliun tahun ini dengan kenaikan margin pengadaan cadangan beras pemerintah menjadi 7 persen.

  • Kondisi keuangan perusahaan bisa kembali sehat dengan keuntungan tersebut.

  • Margin fee Bulog tak naik selama 11 tahun, meminta perlakuan yang sama dengan BUMN lainnya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perum Bulog menargetkan bisa meraup untung sebesar Rp2,5 triliun tahun ini. Angka itu akan jauh meningkat dibandingkan 2025, di mana Bulog mencatatkan kerugian Rp550 miliar.

“Rp550 miliar itu baru angka sementara, karena margin-nya (dari pengadaan cadangan beras pemerintah) masih Rp50,” kata Direktur Keuangan Perum Bulog, Hendra Susanto di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

1. Bulog dapat kenaikan margin 7 persen

Kantor pusat Perum Bulog. (dok. Bulog)

Keuntungan itu akan diperoleh Bulog dengan keputusan pemerintah yang menaikkan margin dari pengadaan CBP dari Rp50 per kilogram (kg) menjadi 7 persen.

“Kalau nanti disetujui oleh pemerintah Bulog diberikan margin 7 persen, maka Bulog akan mendapatkan keuntungan Rp2,4 triliun sampai Rp2,5 triliun,” ucap Hendra.

2. Demi balikkan kondisi keuangan perusahaan

Sejumlah warga Lotim yang menjadi buruh panggul beras di gudang Bulog Lotim (Ruhaili)

Dengan kenaikan margin itu, Hendra mengatakan kondisi keuangan perusahaan bisa kembali sehat.

“Jadi akan sangat sehat bagi Bulog,” ujar Hendra.

3. Margin fee Bulog tak naik selama 11 tahun

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, selama ini pihaknya hanya mendapatkan margin sebesar Rp50 per kilogram (kg) beras yang sudah disalurkan. Angka tersebut sudah berlaku sejak 2014. Artinya, selama 11 tahun tak ada kenaikan. Menurutnya, angka tersebut sudah tidak ideal, apalagi penugasan yang harus dijalankan Bulog semakin besar.

“Masa sekian dari 2014 sampai 2025, berarti 11 tahun,” kata Rizal di kantor Bulog, Jakarta, Senin (29/12/2025).

Sebagai BUMN yang melaksanakan penugasan pemerintah dalam pengadaan CBP, pihaknya meminta perlakuan yang sama dengan PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). Rizal mengatakan, Pertamina dan PLN mendapatkan margin sebesar 10 persen dari penugasan yang dilaksanakan.

“Nah awalnya disetujui 7 persen, awalnya 7 persen naik marginnya. Namun kami ngajukan alangkah baiknya, kita disetarakan dengan BUMN yang lain, 10 persen, baik Pertamina maupun PLN,” ucap Rizal.

Editorial Team