Buntut Blackout Sumatra, Bos Danantara Evaluasi PLN

- Dony Oskaria memastikan evaluasi menyeluruh terhadap PLN usai blackout di Sumatra, menekankan pentingnya mitigasi agar kejadian serupa tidak terulang.
- Blackout melanda sembilan provinsi di Sumatra selama dua hari, dengan durasi padam rata-rata 6–10 jam per hari dan wilayah terparah mencapai 19 jam.
- PLN menjelaskan gangguan bermula dari transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai akibat cuaca ekstrem yang memicu pemisahan sistem dan pemadaman berantai.
Jakarta, IDN Times - Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria memastikan akan meninjau ulang PT PLN (Persero) usai insiden mati listrik serentak (blackout) di Pulau Sumatra pada Jumat, (22/5/2026).
“PLN kita akan melakukan review keseluruhan dari pada prosesnya. Nanti kita akan review prosesnya,” ucap Dony di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (25/5/2026).
1. Tekankan mitigasi gangguan listrik

Dony mengatakan, pihaknya masih mencari penyebab dari blackout di Sumatra. Ke depannya, PLN harus menyiapkan mitigasi agar insiden itu tak terulang.
“Termasuk juga penyebabnya. Kemudian antisipasi ke depan. Yang paling penting kan mitigasi ke depan, supaya ini tidak terjadi lagi,” tutur Dony.
2. Blackout terjadi selama 2 hari

Pada Minggu, (24/5) pukul 06.00 WIB, PLN baru menyatakan seluruh pasokan listrik dari 176 gardu induk telah pulih.
Adapun blackout terjadi sejak Jumat, (22/5) pukul 18.44 WIB. Insiden itu melanda 9 provinsi: Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung. Rata-rata durasi padam 6-10 jam per hari, dengan wilayah terparah seperti Medan padam hingga 19 jam.
3. Penyebab blackout Sumatra

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menjelaskan gangguan berawal dari sistem transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Kabupaten Bungo, Jambi. Cuaca ekstrem diduga memicu transmisi keluar dari jaringan interkoneksi, sehingga sistem Sumatra Bagian Utara dan Tengah terpisah dan memicu pemadaman berantai.
“Sebagian wilayah mengalami kelebihan pasokan karena beban tiba-tiba hilang sehingga frekuensi dan tegangan naik. Akibatnya, sejumlah pembangkit menonaktifkan diri secara otomatis,” tutur Darmawan.


















