ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Timur Weber)
Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, mengatakan pemerintah menjadikan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai fondasi utama dalam perumusan dan penyaluran kebijakan sosial.
“Semua bantuan sosial sebetulnya berbasis data terlebih dahulu. Makanya, datanya diperbaiki oleh Pak Prabowo. Melalui integrasi DTSEN, pemerintah kini menggunakan satu data terpadu yang menggabungkan berbagai variabel sosial dan ekonomi secara terpusat,” ujarnya.
Langkah ini dinilai mampu menjawab persoalan klasik dalam penyaluran bantuan sosial yang selama ini kerap mengalami ketidaktepatan sasaran. Dengan pendekatan triangulasi data yang diperkuat melalui pembaruan berbasis sistem digital secara berjenjang, pemerintah memastikan tingkat akurasi yang lebih tinggi dalam menyalurkan bantuan. Qodari menilai terobosan ini sebagai lompatan signifikan dalam tata kelola kebijakan publik.
“Hemat saya, DTSEN ini adalah revolusi data sekaligus revolusi kebijakan publik,” tegasnya.
Ia menyebut sistem ini juga berdampak signifikan terhadap efisiensi anggaran negara. “Ini adalah game changer untuk keuangan negara agar lebih akurat dan efisien.”
Melalui sistem satu pintu berbasis DTSEN, pemerintah menghadirkan mekanisme penyaluran bantuan yang lebih transparan dan mudah diakses masyarakat. Skema ini memungkinkan setiap penerima manfaat terpetakan secara sistematis dalam berbagai program subsidi, sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk memantau statusnya secara mandiri.
“Dengan sistem satu pintu ini, masyarakat yang terdaftar dalam DTSEN akan otomatis terpetakan untuk berbagai program subsidi pemerintah, sekaligus dapat mengecek status desil mereka secara mandiri melalui aplikasi resmi,” jelas Qodari.
Saat ini, mayoritas masyarakat Indonesia berada pada kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class), yang mencapai sekitar 142 juta orang. Meski demikian, pemerintah masih menghadapi tantangan dengan adanya sekitar 67,9 juta penduduk rentan miskin, 23,85 juta penduduk miskin, serta 2,38 juta orang dalam kondisi miskin ekstrem.
Dengan demikian, benar pemerintah berhasil meningkatkan akurasi penyaluran bantuan sosial melalui DTSEN dan berhasil menurunkan tingkat kemiskinan.