Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
China Batasi Lonjakan Harga BBM demi Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional
Bendera China (pixabay.com/SW1994)
  • Pemerintah China membatasi kenaikan harga BBM domestik untuk menahan dampak lonjakan harga minyak global dan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah krisis energi dunia.
  • Blokade total Selat Hormuz oleh Iran memicu krisis energi global, menghentikan pasokan jutaan barel minyak per hari dan menyebabkan kerugian pasar saham hingga triliunan dolar AS.
  • China mendesak Amerika Serikat dan Israel menghentikan serangan di Timur Tengah karena berpotensi menghancurkan tatanan ekonomi dunia serta memperburuk ketegangan energi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah China secara resmi membatasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) domestik pada Senin (23/3/2026). Intervensi darurat ini diambil otoritas Beijing untuk meredam dampak lonjakan harga energi dunia, menjaga stabilitas ekonomi nasional, serta meringankan beban masyarakat dan industri.

Keputusan ini merespons lonjakan harga minyak mentah global usai pecahnya perang antara aliansi Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Pertempuran kini berpusat di Selat Hormuz, jalur transit bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas bumi global setiap harinya. Gangguan di rute sempit ini telah mengguncang rantai pasok energi dunia dan mengancam pertumbuhan ekonomi.

1. China intervensi harga BBM untuk redam lonjakan pasar global

Tambang minyak dunia. (Pixabay/Matryx)

Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) selaku badan perencana ekonomi tertinggi China, menetapkan kenaikan harga eceran maksimum bensin sebesar 1.160 yuan (Rp2,84 juta) per metrik ton. Sementara harga solar naik 1.115 yuan (Rp2,73 juta) per metrik ton.

Kebijakan ini memangkas potensi kenaikan harga hingga setengahnya. Dengan mekanisme standar, harga bensin seharusnya melonjak 2.205 yuan (Rp5,4 juta) dan solar 2.120 yuan (Rp5,19 juta) per metrik ton akibat meroketnya biaya impor minyak mentah sejak akhir Februari lalu.

"Untuk memitigasi dampak kenaikan harga minyak internasional, meringankan beban pengguna hilir, serta memastikan stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, langkah regulasi sementara telah diadopsi," tulis pernyataan resmi NDRC.

Pemerintah China juga menginstruksikan perusahaan minyak untuk menjaga ketersediaan stok. Otoritas memperingatkan sanksi hukum tegas bagi pihak yang berspekulasi atau melanggar kebijakan harga nasional.

2. Blokade Selat Hormuz picu krisis energi dan kerugian ekonomi global

Infografis Selat Hormuz. (IDN Times/Sukma Shakti)

Krisis energi memuncak setelah militer Iran memblokade total Selat Hormuz pada awal Maret 2026, sebagai balasan atas serangan udara yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Blokade ini menghentikan aliran 13 juta barel minyak mentah per hari dan memicu kerugian nilai saham global hingga 3,2 triliun dolar AS (Rp54 kuadriliun) dalam 96 jam.

Konflik memanas saat Israel menyerang ladang gas South Pars di Iran, yang dibalas Teheran dengan menghancurkan fasilitas gas alam cair (LNG) strategis di Ras Laffan, Qatar. Insiden ini melumpuhkan 17 persen kapasitas ekspor LNG dunia, dengan estimasi perbaikan mencapai lima tahun.

"Ketakutan akan guncangan energi kembali muncul. Prospek konflik yang berlarut-larut kini menjadi fokus utama karena kedua pihak menargetkan infrastruktur energi," ujar Kepala Strategi Investasi Wealth Club, Susannah Streeter.

Imbas dari konflik ini adalah lumpuhnya sektor industri global. Pabrik kimia raksasa seperti LG Chem di Korea Selatan tutup akibat krisis pasokan naphtha, sementara maskapai Air New Zealand membatalkan ribuan penerbangan internasional karena meroketnya harga avtur.

3. China desak AS dan Israel hentikan serangan untuk selamatkan ekonomi dunia

bendera China (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA)

Kementerian Luar Negeri China mendesak pihak yang bertikai, terutama AS dan Israel, segera menghentikan operasi militer di Timur Tengah. Beijing memperingatkan bahwa serangan yang berlanjut terhadap fasilitas energi dan pelayaran internasional akan menghancurkan tatanan ekonomi dunia.

Usai misi diplomasi ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, Utusan Khusus China untuk Timur Tengah, Zhai Jun, menekankan pihak penyerang bertanggung jawab penuh meredakan ketegangan.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa ancaman ekonomi global saat ini lebih besar dari krisis minyak 1970-an.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team