Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dana Makin Seret, Himbara Bisa Terlibat Perang Bunga Deposito
Ilustrasi bank (IDN Times/Arief Rahmat)
  • Penarikan kembali Saldo Anggaran Lebih pemerintah berpotensi memperketat likuiditas Himbara, terutama saat pertumbuhan kredit melampaui Dana Pihak Ketiga dan pembiayaan program pemerintah terus berjalan.
  • Bank Himbara dan non-Himbara berpotensi bersaing menghimpun dana dengan menawarkan bunga deposito lebih tinggi, sehingga biaya dana perbankan meningkat.
  • Kenaikan biaya dana dapat menekan bank untuk menyesuaikan bunga kredit dan melemahkan permintaan kredit; Himbara perlu memperbesar porsi dana murah CASA untuk menjaga likuiditas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ekonom menilai likuiditas bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) berpotensi semakin mengetat jika pemerintah menarik kembali Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang sebelumnya ditempatkan di perbankan.

Hal ini pun turut menjadi kekhawatiran dari Goldman Sachs karena jika terjadi penarikan dana SAL secara tiba-tiba oleh pemerintah, maka bank harus mencari dana penggantinya agar tidak menekan kondisi keuangan.

"Yang pasti, jika SAL ditarik, maka likuiditas dari Himbara akan mengetat. Di sisi lain, pertumbuhan kredit lebih besar dibandingkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga," tegas Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda kepada IDN Times, Rabu (30/9/2026).

1. Pertumbuhan kredit perbankan lebih tinggi dari pertumbuhan DPK

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

Huda menyebut kondisi tersebut menjadi perhatian karena pertumbuhan kredit perbankan saat ini masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Kondisi ini membuat kebutuhan likuiditas perbankan terus meningkat, terlebih di tengah penyaluran kredit untuk program pemerintah, termasuk Kredit Daerah untuk Masyarakat Produktif (KDKMP), yang menyerap pembiayaan hingga ratusan triliun rupiah.

Tekanan likuiditas tersebut terutama perlu diperhatikan oleh Himbara yang memiliki peran besar dalam menopang kebutuhan pembiayaan program-program tersebut. Sebelumnya, penempatan SAL turut memberikan bantalan likuiditas bagi bank-bank BUMN. Namun, ketika dana tersebut ditarik kembali, ruang likuiditas perbankan berpotensi menjadi lebih terbatas.

"Penarikan dana tersebut pada akhirnya juga dapat meningkatkan persaingan dalam penghimpunan dana, terutama deposito," tegasnya.

2. Bakal ada persaingan dalam menghimpun likuiditas antara bank himbara dan non himbara

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)

Menurut Huda, persaingan dalam menghimpun likuiditas berpotensi terjadi tidak hanya di antara bank Himbara, tetapi juga dengan bank non-Himbara. Persaingan tersebut dapat mendorong bank menawarkan imbal hasil deposito yang lebih tinggi untuk menarik dana nasabah. Terlebih, suku bunga masih berada pada level yang relatif tinggi sehingga ruang untuk menekan biaya penghimpunan dana menjadi terbatas.

"Yang pasti, jika SAL ditarik, maka likuiditas dari Himbara akan mengetat. Di sisi lain, pertumbuhan kredit lebih besar dibandingkan pertumbuhan DPK," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, bank berpotensi menaikkan bunga deposito untuk menjaga penghimpunan dana. Jika persaingan bunga deposito semakin kuat, biaya dana (cost of fund) perbankan pun akan meningkat.

Kenaikan biaya dana selanjutnya dapat berdampak pada penyaluran kredit. Pasalnya, ketika biaya dana meningkat, bank akan menghadapi tekanan untuk menyesuaikan bunga kredit guna menjaga margin. Kondisi ini pada akhirnya dapat membuat permintaan kredit ikut melemah.

"Ketika suku bunga naik, deposito akan mengikuti. Dampaknya lagi-lagi akan menurunkan permintaan kredit," katanya.

3. Tantangan himbara berasal dari kesenjangan antara pertumbuhan kredit dan DPK

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)

Dengan begitu, strategi penghimpunan dana menjadi semakin penting bagi Himbara. Perbankan perlu memperbesar porsi dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) untuk menjaga likuiditas tanpa terlalu bergantung pada deposito berbiaya tinggi.

"Dana murah ini bisa memberikan likuiditas, meskipun jangka pendek. Tapi ketika jumlahnya besar tentu intermediasi perbankan ke sektor riil juga ada," ujarnya.

Dengan demikian, tantangan Himbara tidak hanya berasal dari potensi penarikan SAL, tetapi juga dari kesenjangan antara pertumbuhan kredit dan DPK. Jika kebutuhan kredit terus meningkat sementara pertumbuhan dana masyarakat tidak mampu mengimbanginya, persaingan mendapatkan likuiditas akan semakin ketat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article