S&P Soroti Kredit Himbara, Ekonom Ungkap Risiko yang Perlu Diwaspdai

- CORE menilai pertumbuhan kredit Mandiri, BRI, dan BNI sekitar 26 persen per Juni 2026, jauh di atas industri 12 persen, didorong pembiayaan BUMN dan program pemerintah.
- S&P dan ekonom menyoroti konsentrasi kredit ke Agrinas sebesar 2–6 persen portofolio, yang berpotensi menaikkan pencadangan, menekan kualitas aset, laba, serta margin bunga.
- Permodalan Himbara dinilai masih kuat dengan rasio Tier-1 16–20 persen; risiko pokok kredit relatif terkendali bila mekanisme dan pembayaran pemerintah berjalan tepat waktu.
Jakarta, IDN Times -Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai laporan S&P Global Ratings mengenai ekspansi kredit bank-bank pelat merah perlu dicermati. S&P menyoroti pertumbuhan kredit yang didorong pembiayaan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan program pemerintah yang berpotensi meningkatkan risiko kualitas aset serta menekan profitabilitas bank BUMN.
"Saya kira laporan tersebut tidak sedang mengatakan bahwa bank Himbara akan ambruk. Yang perlu diperhatikan adalah tekanan terhadap kualitas kredit dan laba karena pertumbuhan kredit bank negara terlalu cepat, terutama untuk mendukung program pemerintah," ujar rkonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet kepada IDN Times, Kamis (17/9/2026).
Ia menjelaskan, per Juni 2026, pertumbuhan kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI rata-rata mencapai sekitar 26 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut lebih dari dua kali lipat pertumbuhan industri perbankan yang berada di kisaran 12 persen.
1. Ekspansi bank Himbara banyak ditopang pembiayaan ke program pemerintah

Ilustrasi Bank. (IDN Times/Aditya Pratama) Menurut Yusuf, ekspansi tersebut banyak ditopang pembiayaan kepada BUMN dan program prioritas pemerintah, termasuk pembiayaan kepada PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih.
"Risikonya terutama terlihat dari margin dan konsentrasi kredit. Kredit program cenderung memberikan imbal hasil lebih rendah, sementara biaya dana meningkat," jelasnya.
Hal tersebut sejalan dengan perhatian S&P Global Ratings terhadap profitabilitas bank-bank pelat merah. S&P memperkirakan net interest margin (NIM) bank BUMN dapat turun sekitar 10 basis poin hingga 20 basis poin dalam 12-18 bulan ke depan
2. Belum ada masalah solvabilitas namun bisa berdampak ke kualitas aset

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern) Selain margin, konsentrasi kredit juga menjadi perhatian. Yusuf menyebut S&P memperkirakan eksposur terhadap Agrinas berada di kisaran 2 persen hingga 6 persen dari portofolio masing-masing bank.
Menurutnya, besarnya eksposur tersebut belum menunjukkan adanya persoalan solvabilitas. Namun, apabila terjadi gangguan pembayaran, dampaknya dapat terasa terhadap pencadangan dan kualitas aset bank.
"Jadi, risiko yang paling relevan bukan gagal bayar sistemik, melainkan tekanan terhadap laba dan kualitas aset," kata Yusuf.
3. Jika pemerintah bayar tepat waktu, maka risiko pokok kredit relatif terkendali

ilustrasi utang (unsplash.com/rc.xyz NFT gallery) Di sisi lain, permodalan Himbara secara struktural masih kuat. Bank-bank tersebut juga mendapatkan dukungan pemerintah, terutama karena sebagian di antaranya merupakan bank sistemik.
Pemerintah sebelumnya menyatakan, skema pembiayaan program tersebut memiliki jaminan negara. Namun, Yusuf menilai, mekanisme pembayaran dan klaim atas jaminan tersebut tetap perlu diperhatikan.
"Kalau pembayaran pemerintah tepat waktu, risiko terhadap pokok kredit relatif terkendali. Sebaliknya, keterlambatan pembayaran tetap bisa menimbulkan tekanan sementara pada kualitas kredit dan pencadangan, meskipun kewajiban tersebut pada akhirnya dibayar," jelasnya.
4. Kredit Himbara disorot S&P, tapi bukan berarti risiko gagal bayar tinggi

ilustrasi utang (vecteezy.com/dao_kp20226443) Senada dengan Yusuf, Ekonom Danamon Irman Faiz mengatakan laporan S&P Global Ratings terkait ekspansi kredit bank-bank pelat merah dinilai lebih sebagai peringatan terhadap risiko konsentrasi dan kualitas pertumbuhan kredit Himbara, bukan indikasi bahwa risiko gagal bayar saat ini sudah tinggi.
"Kalau saya melihat laporan S&P ini lebih sebagai warning terhadap concentration risk dan kualitas pertumbuhan kredit Himbara, bukan berarti risiko gagal bayar saat ini sudah tinggi," ujar Faiz kepada IDN Times.
Menurut Faiz, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah eksposur bank terhadap PT Agrinas Pangan Nusantara, khususnya dalam pembiayaan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
S&P memperkirakan kredit kepada Agrinas mencapai sekitar 2 persen hingga 6 persen dari total kredit masing-masing Bank Mandiri, BRI, dan BNI. Menurut Faiz, eksposur tersebut tergolong material sehingga perlu mendapat perhatian dari sisi risiko konsentrasi.
"Isu utamanya adalah konsentrasi. Kalau terjadi gangguan pembayaran pada exposure sebesar ini, credit cost dapat meningkat dan menekan profitabilitas serta permodalan," jelasnya.
Meski demikian, Faiz menilai kondisi permodalan Himbara masih relatif kuat. Rasio modal Tier-1 bank-bank tersebut berada di kisaran 16 persen hingga 20 persen sehingga masih memberikan bantalan terhadap potensi risiko.
"Saya belum melihat default sebagai base case," katanya.
Faiz menjelaskan, kredit Agrinas memang tidak secara formal dijamin pemerintah. Namun, terdapat mekanisme pembayaran angsuran yang didukung pemerintah melalui Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH), maupun Dana Desa. Karena mekanisme tersebut masih relatif baru dan belum teruji sepenuhnya, menurut Faiz, risiko yang lebih relevan saat ini adalah risiko pelaksanaan dan pembayaran.
"Apakah verifikasi dan pembayaran berjalan tepat waktu. Pembayaran pertama Agrinas pada September menjadi test case yang penting," ujarnya.
Dari sisi kinerja bank, Faiz melihat setidaknya ada tiga saluran risiko yang perlu diperhatikan, yakni risiko konsentrasi kredit, kenaikan biaya kredit atau credit cost, dan tekanan terhadap margin. Selain potensi kenaikan pencadangan apabila pembayaran mengalami gangguan, pertumbuhan kredit yang sangat cepat juga membutuhkan pendanaan. Di sisi lain, imbal hasil dari pembiayaan program pemerintah relatif rendah.
Kondisi tersebut sejalan dengan perkiraan S&P yang menyebut net interest margin (NIM) bank-bank BUMN berpotensi tertekan sekitar 10 basis poin hingga 20 basis poin dalam 12-18 bulan ke depan.
"Jadi, yang perlu dimonitor bukan hanya apakah kredit tersebut default atau tidak, tetapi apakah ekspansi balance sheet yang cepat tetap menghasilkan risk-adjusted return yang sehat," kata Faiz.
Menurutnya, selama mekanisme pembayaran pemerintah berjalan sesuai desain, risiko kerugian masih dapat dimitigasi. Namun, karena eksposurnya terkonsentrasi, disiplin penyaluran kredit, pemantauan proyek, dan ketepatan pembayaran tetap menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.




















