Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dasep Ahmadi: Jika Kembangkan EV sejak 14 Tahun, RI Bisa Lebih Leading
Dahlan Iskan bersama Dasep Ahmadi. (Disway)
  • Dasep Ahmadi menilai Indonesia seharusnya bisa memimpin industri mobil listrik jika pengembangannya dimulai sejak 14 tahun lalu, sekaligus membuka banyak lapangan kerja berbasis teknologi.
  • Dahlan Iskan berpendapat Indonesia sudah terlambat bersaing di pasar mobil listrik global karena produsen seperti BYD dan Chery telah lebih dulu sukses, meski Dasep masih optimistis ada peluang.
  • Dahlan mengenang masa riset mobil listrik karya Dasep yang sempat dicemooh publik, sementara Dasep menegaskan hasil uji baterai 21 kWh-nya terbukti akurat menempuh jarak hingga 130 kilometer.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dasep Ahmadi pada 14 tahun lalu berupaya menggagas pembuatan mobil listrik atau electric vehicle (EV) di dalam negeri, namun upayanya justru membuatnya masuk bui. Padahal jika dikembangkan sejak dulu, Indonesia berpeluang menjadi pemimpin industri mobil listrik.

Untuk diketahui, akibat pengadaan mobil listrik lewat pendanaan dari beberapa BUMN pada 2013, Dasep dibui selama tujuh tahun. Kala itu, Dasep adalah Direktur PT Sarimas Ahmadi Pratama.

1. Indonesia mestinya bisa jadi pemimpin industri mobil listrik

Dahlan Iskan bersama Dasep Ahmadi. (Disway)

Sementara itu, dalam wawancaranya dengan mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, Dasep diajak berandai-andai jika dia tidak dipenjara akan seperti apa mobil listrik Indonesia yang dikembangkan mulai 14 tahun lalu.

"Ya seharusnya kita lebih leading lah. Saya kan dulu pernah ke BYD juga. Di BYD lihat waktu itu hanya baru satu unit dan saya sudah coba juga, tahun 2012 itu. Satu unit SUV yang saya uji. Belum produksi, jadi kita waktu itu ya harusnya punya peluang, tapi kita sekarang tidak usah berandain-andai lah. Mending ke depan aja kita. Ke depan jangan sampai kita penonton terus kan gitu ya," tutur Dasep dikutip Kamis (2/4/2026).

"Kasihan generasi muda sekarang, masa bekerjanya semua di komputer semua. Harusnya juga ada yang di mobil dan lain-lain. Kita kan butuh lapangan kerja yang banyak saya kira dan itu bisa. Jadi era sekarang harusnya kita banyak adopsi teknologi," sambung dia.

2. Dahlan Iskan sebut Indonesia sudah telat untuk ikut membuat mobil listrik

Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan dalam acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Mendengar jawaban itu, Dahlan pun mengungkapkan pendapatnya jika ada yang mengajaknya untuk terlibat dalam mobil listrik lagi. Jawaban tersebut dianggap Dahlan sedikit berbeda dengan yang disampaikan oleh Dasep.

"Jawaban saya selalu begini, kita sudah telat sekarang karena BYD sudah sedemikian larisnya. Chery sudah sedemikian larisnya, masa kita baru akan memulai lagi, kita sudah telat, tapi menurut Kang Dasep ternyata belum telat. Masih ada peluang. Berarti Kang Dasep ini orang lebih optimis dari saya," ujar Dahlan.

3. Dahlan kenang cemoohan masyarakat saat fase riset

Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan dalam acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

​Dalam kesempatan itu, Dahlan pun mengenang kembali masa saat mobil listrik hijau karya Dasep Ahmadi mendapat cemoohan publik karena dianggap tidak realistis bagi infrastruktur Indonesia. Dia turut mengklarifikasi insiden di Jalan Thamrin yang sempat disebut mogok, padahal merupakan bagian dari pengujian kapasitas baterai hingga habis untuk mengetahui batas maksimal ketahanan energi.

"Ketika habis itu sudah di Jalan Thamrin, kurang beberapa meter sampai kantor BPPT. Tapi saya ingat waktu itu omongan masyarakat luar biasa bahwa dicemooh luar biasa tapi ya begitulah penelitian ya kan?" kata Dahlan.

​Menanggapi hal itu, Dasep menyebut keraguan masyarakat saat itu, termasuk dari kalangan akademisi, sebagai hal yang wajar dalam sebuah riset. Dia menegaskan, perhitungan teknis baterai 21 kWh miliknya saat itu terbukti akurat mencapai jarak 130 kilometer.

​Menanggapi hal tersebut, Dasep menyebut keraguan masyarakat saat itu, termasuk dari kalangan akademisi, sebagai hal yang wajar dalam sebuah riset. Dia menegaskan, perhitungan teknis baterai 21 kWh miliknya saat itu terbukti akurat mencapai jarak 130 kilometer (km).

"Ya kita namanya seorang peneliti, seorang engineer memang harus siap menghadapi itu. Kadang-kadang, tentu yang terbaik kalau kita sudah berkarya dihargai. Tapi kalaupun enggak dihargai, ya sudah enggak apa-apa," katanya menanggapi.

Editorial Team