Dahlan Iskan dan Dasep Ahmadi Kenang Jatuh Bangun Garap Mobil Listrik

- Dahlan Iskan dan Dasep Ahmadi mengenang proyek mobil listrik nasional yang terhenti satu dekade lalu, menilai Indonesia seharusnya sudah lebih maju di sektor kendaraan listrik.
- Dasep merasa senang sekaligus sedih melihat tren mobil listrik meningkat, namun belum dimanfaatkan maksimal oleh industri dalam negeri untuk keuntungan ekonomi nasional.
- Meski sempat ditahan, Dasep tetap produktif dengan menyusun konsep teknologi baterai hingga memperoleh paten internasional, menunjukkan semangat berinovasi di tengah keterbatasan.
Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengenang terhentinya proyek mobil listrik nasional satu dekade silam yang diinisiasi bersama Dasep Ahmadi.
Dia menilai Indonesia seharusnya sudah jauh lebih maju di sektor kendaraan listrik jika pengembangan yang dilakukan bersama Dasep Ahmadi tidak terputus. Meski begitu, Dasep menegaskan dirinya tidak ingin berlarut dalam masa lalu dan memilih terus berkarya.
"Ya saya sih ya yang lalu yang lalu lah, yang sekarang ke depan tetap kita jangan putus asa lah. Namanya kita selama kita masih punya umur sehat ya kita berkarya lah untuk sesuatu yang baik untuk masa depan kan begitu ya," kata Dasep dalam wawancara bersama Dahlan dikutip IDN Times, Rabu (1/4/2026).
1. Dasep harap RI manfaatkan pasar mobil listrik

Melihat tren mobil listrik yang kini mulai menjamur dengan penjualan mencapai 8 ribu unit per bulan, Dasep mengaku merasa senang sekaligus sedih. Dia menyayangkan jika kemajuan pasar tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku industri dalam negeri.
"Ya sebenarnya sih ada suatu kebahagiaan tersendiri. Tapi juga ada kesedihan tersendiri ya kemajuan ini jangan orang lain yang ambil manfaat ya. Harusnya Indonesia yang sebesar-besarnya mengambil manfaat kan begitu," ungkapnya.
Bagi Dasep, fenomena saat ini menjadi bukti teknologi mobil listrik memang layak dan tidak perlu diragukan lagi. Dia menekankan pentingnya bagi Indonesia segera mengambil alih manfaat ekonomi dari perkembangan teknologi yang kini sudah teruji tersebut.
"Teknologi ini proven sebenarnya mobil listrik ini, jangan diragukan lagi. Sekarang tinggal kita bagaimana ini kita ambil alih manfaatnya sebesar-besarnya oleh orang Indonesia," tuturnya.
2. Dahlan kenang cemoohan masyarakat saat fase riset

Dahlan mengenang kembali masa saat mobil listrik hijau karya Dasep Ahmadi mendapat cemoohan publik karena dianggap tidak realistis bagi infrastruktur Indonesia. Dia turut mengklarifikasi insiden di Jalan Thamrin yang sempat disebut mogok, padahal merupakan bagian dari pengujian kapasitas baterai hingga habis untuk mengetahui batas maksimal ketahanan energi.
"Ketika habis itu sudah di Jalan Thamrin, kurang beberapa meter sampai kantor BPPT. Tapi saya ingat waktu itu omongan masyarakat luar biasa bahwa dicemooh luar biasa tapi ya begitulah penelitian ya kan?" kata Dahlan.
Menanggapi hal itu, Dasep menyebut keraguan masyarakat saat itu, termasuk dari kalangan akademisi, sebagai hal yang wajar dalam sebuah riset. Dia menegaskan, perhitungan teknis baterai 21 kWh miliknya saat itu terbukti akurat mencapai jarak 130 kilometer (km).
"Ya kita namanya seorang peneliti, seorang engineer memang harus siap menghadapi itu. Kadang-kadang, tentu yang terbaik kalau kita sudah berkarya dihargai. Tapi kalaupun enggak dihargai, ya sudah enggak apa-apa," katanya menanggapi.
3. Dasep menyusun konsep paten di tengah masa penahanan

Dahlan menyebut, Dasep sebagai sosok yang bangkit setelah dijatuhkan karena bukan karena kesalahan teknis, melainkan faktor eksternal. Selama masa vakumnya, Dasep tetap mengembangkan konsep teknologi hingga berhasil mengantongi hak paten internasional untuk komponen baterai.
Dasep mengungkapkan, selama berada di dalam tahanan, dia tetap berupaya produktif meski tidak memungkinkan untuk membuat produk fisik. Dia memfokuskan diri pada pengembangan konsep dan penulisan draf teknologi baterai untuk industri mobil listrik.
Dia m enyebut draf paten tersebut disusun berdasarkan pemikirannya mengenai kebutuhan teknologi masa depan. Dengan bantuan keluarga, dia akhirnya mendaftarkan temuan tersebut ke lembaga paten internasional.
"(Pendaftaran paten) di International Bureau seperti itu. Jadi itu kita mendaftarkan yang berupa teknologi baterai untuk smart housing namanya, jadi rumah yang pintar seperti itu," ujar Dasep.


















