Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dulu Dibui karena EV, Dasep Ahmadi Raih Paten Baterai Internasional

Dulu Dibui karena EV, Dasep Ahmadi Raih Paten Baterai Internasional
Dahlan Iskan bersama Dasep Ahmadi. (Disway)
Intinya Sih
  • Dasep Ahmadi, pencipta mobil listrik Indonesia, memperoleh hak paten internasional untuk teknologi komponen baterai setelah sebelumnya sempat terjerat kasus hukum.
  • Paten yang didaftarkan di Swiss berlaku di 199 negara dan berfokus pada inovasi smart housing, yaitu rumah baterai pintar yang menyatukan sistem pendingin dengan modul sel baterai.
  • Teknologi smart housing ciptaan Dasep bersifat universal, dapat digunakan untuk berbagai jenis kimia baterai, serta menonjolkan keunggulan desain mekanis dibanding aspek kimia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pencipta mobil listrik (EV) Dasep Ahmadi kembali muncul ke publik dengan membawa kabar terbaru mengenai inovasi teknologi baterai, setelah absen karena terjerat kasus hukum.

Dasep dalam sesi wawancara bersama mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, mengumumkan telah mendapatkan hak paten internasional untuk teknologi komponen baterai kendaraan listrik.

Dahlan menyebut Dasep tetap aktif berpikir dan menyusun konsep teknologi meski berada dalam masa penahanan. Buah pemikiran tersebut kini telah resmi terdaftar sebagai hak intelektual di tingkat global.

"Dasep tidak mau berhenti berpikir meskipun di tempat persembunyian yang sangat sepi dan justru itu bisa menciptakan dan sekarang mendapatkan hak paten untuk baterai. Jadi masih ada hubungannya dengan mobil listrik juga," kata Dahlan, dikutip Rabu (1/4/2026).

1. Daftarkan paten di Swiss untuk 199 negara

Dulu Dibui karena EV, Dasep Ahmadi Raih Paten Baterai Internasional
Dasep Ahmadi. (Disway)

Dasep menjelaskan, ide mengenai paten muncul saat masih berada dibui. Mengingat keterbatasan untuk membuat produk fisik, dia memfokuskan diri pada pengembangan konsep dan penulisan draf teknologi yang dibutuhkan untuk masa depan mobil listrik.

Pada 2024, Dasep bersama keluarganya mendaftarkan paten tersebut ke Biro Internasional di Swiss. Hak paten itu diklaim berlaku di 199 negara. Inovasi yang didaftarkan berfokus pada teknologi smart housing atau rumah baterai pintar yang terintegrasi.

"(Pendaftaran paten) di International Bureau seperti itu. Jadi, itu kita mendaftarkan yang berupa teknologi baterai untuk smart housing namanya, jadi rumah yang pintar seperti itu," ujar Dasep.

2. Inovasi rumah baterai untuk perpendek jalur produksi

Dulu Dibui karena EV, Dasep Ahmadi Raih Paten Baterai Internasional
Dasep Ahmadi. (Disway)

Menurut Dasep, housing merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem baterai. Selama ini, proses penggabungan sel baterai dengan sistem pendingin dilakukan secara bertahap sehingga memakan waktu dan biaya produksi yang tinggi.

Dasep merancang sistem di mana sel baterai langsung dibuat dalam bentuk modul yang menyatu dengan sistem pendinginan. Hal itu dilakukan karena baterai cenderung panas saat pengisian daya cepat (fast charging) atau penggunaan daya besar.

"Kalau kita bikin sel dulu, bikin baterai modul, baterai pack, itu bertingkat tahap produksinya. Jadi panjang dan itu membutuhkan biaya. Kenapa enggak kita langsung membuat itu langsung dalam bentuk baterai modulnya langsung sekalian di situ," paparnya.

3. Bisa digunakan berbagai jenis kimia baterai

Dulu Dibui karena EV, Dasep Ahmadi Raih Paten Baterai Internasional
Dasep Ahmadi. (Disway)

Dasep mengibaratkan rumah baterai ciptaannya seperti cylinder block pada mesin kendaraan konvensional yang memiliki saluran pendingin (water jacket). Pengembangannya menggunakan disiplin ilmu mesin.

Teknologi smart housing di dalamnya diklaim universal karena bisa digunakan untuk berbagai basis kimia baterai, mulai dari nikel (NCM), Ferro (LFP), natrium, hingga baterai padat (solid-state).

Dasep menilai Indonesia sulit bersaing di sektor kimia baterai dengan China, namun memiliki peluang besar pada sisi desain mekanis dan rumah baterai yang selama ini kurang diperhatikan.

"Dalam bidang bisnis kan kalau kita bersaing di kimianya sudah kalah lah sekarang dengan China. Kemudian juga kalau solid state kan sudah orang maju. Tapi kalau rumahnya kok orang enggak terpikirkan, kelewat begitu padahal itu penting," ungkapnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More