Jakarta, IDN Times - Di tengah upaya memperbesar kontribusi ekonomi syariah terhadap perekonomian nasional, Indonesia masih membutuhkan satu hal mendasar data yang mampu menunjukkan seberapa besar kekuatan sektor tersebut.
Persoalan ini mencuat dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, Rabu (14/10/2026).
Di sela-sela acara, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan, pentingnya kehadiran data produk domestik bruto (PDB) khusus ekonomi syariah.
Menurut Destry, data tersebut dibutuhkan agar pengembangan ekonomi syariah tidak sekadar bertumpu pada potensi yang besar, tetapi juga memiliki ukuran yang jelas. Dengan begitu, pemerintah dan pelaku industri dapat menentukan sektor yang perlu diperkuat, termasuk dalam membangun rantai nilai halal (halal value chain) di Indonesia.
Menurutnya, data tersebut diperlukan agar pemerintah dan para pemangku kepentingan memiliki gambaran yang lebih jelas dalam menentukan arah pengembangan ekonomi syariah di Tanah Air.
"Tadi saya bisik-bisik dengan Bu Amalia (Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti), kayaknya memang BPS harus segera menerbitkan PDB syariah karena tadi juga ada kata-kata bahwa run ekonomi syariah 24,9 persen dari PDB," ujar Destry.
