ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
Prasasti juga menyoroti inflasi secara bulanan atau month-to-month (mtm) pada April 2026 yang mencapai 0,28 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding catatan per April 2026 sebesar 0,13 persen.
Halim mengatakan, kenaikan tekanan inflasi selain bersumber dari kelangkaan beberapa pasokan akibat perang Iran vs Amerika Serikat (AS) dan komponen volatile foods, juga tidak dapat dilepaskan dari depresiasi rupiah akhir-akhir ini.
Oleh karena itu, pengendalian nilai tukar dan inflasi menuntut perhatian yang lebih cermat mengingat ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi akan menjadi lebih sempit dan memerlukan koordinasi yang lebih ketat antara otoritas kebijakan moneter dan keuangan serta fiskal.
“Strategi pemerintah untuk terus mendorong kegiatan ekonomi akan diuji oleh pasar dengan kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi,” kata Halim.
Halim menekankan pentingnya langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan valas di dalam negeri dan koordinasi kebijakan makroekonomi untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia.
“Jangan sampai langkah-langkah yang diambil justru menambah ketidakpastian itu sendiri. Bagi pelaku ekonomi, kredibilitas kebijakan menuntut adanya kejelasan sasaran, insentif yang terarah, serta pelaksanaan yang konsisten,” ucap Halim.