Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ekonom Soroti Ekspor Melesat, Surplus Neraca Dagang Menipis
Ilustrasi ekspor-impor. (Dok. Kementerian Keuangan)
  • Ekspor Indonesia melonjak 21,98 persen yoy pada April 2026 hingga mencapai 25,3 miliar dolar AS, namun surplus neraca perdagangan menipis menjadi hanya 90 juta dolar AS.
  • Prasasti Center menilai depresiasi rupiah dan hilirisasi industri mendorong ekspor, terutama nikel olahan ke China yang naik 73 persen, meski tekanan inflasi perlu diwaspadai.
  • Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diharapkan memperkuat devisa negara, sementara koordinasi kebijakan moneter dan fiskal diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah serta mengendalikan inflasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
April 2026

BPS mencatat lonjakan ekspor Indonesia sebesar 21,98 persen (yoy) dengan nilai total 25,3 miliar dolar AS. Surplus neraca perdagangan pada periode ini hanya 90 juta dolar AS, terendah dalam enam tahun terakhir. Inflasi bulanan mencapai 0,28 persen, naik dari bulan sebelumnya yang tercatat 0,13 persen.

5 Juni 2026

Halim Alamsyah dari Prasasti Center menilai kenaikan ekspor April didorong depresiasi rupiah dan peningkatan produksi hilirisasi. Ia juga menyoroti pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) untuk meningkatkan devisa negara serta menyerukan koordinasi kebijakan guna menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Nilai ekspor Indonesia pada April 2026 melonjak 21,98 persen secara tahunan hingga mencapai 25,3 miliar dolar AS, namun surplus neraca perdagangan menurun menjadi hanya 90 juta dolar AS.
  • Who?
    Prasasti Center for Policy Studies melalui Board of Experts Halim Alamsyah menyoroti kondisi ekspor, inflasi, dan pelemahan rupiah berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Jakarta dengan merujuk pada data nasional perdagangan luar negeri Indonesia serta aktivitas ekspor ke sejumlah negara termasuk China.
  • When?
    Kondisi ini terjadi pada April 2026 dan disampaikan dalam keterangan resmi yang dirilis pada Jumat, 5 Juni 2026.
  • Why?
    Peningkatan ekspor dipicu depresiasi rupiah dan penguatan sektor hilirisasi, sementara penurunan surplus dipengaruhi tekanan inflasi serta pelemahan nilai tukar akibat situasi global.
  • How?
    Pemerintah didorong memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, serta meningkatkan pasokan devisa melalui pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero).
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Bulan April ekspor Indonesia naik banyak sekali, katanya sampai hampir dua puluh dua persen. Uangnya jadi besar banget, tapi sisa dagangnya malah kecil sekali. Pak Halim dari Prasasti bilang ini karena uang rupiah sedang lemah dan harga barang naik. Sekarang pemerintah mau kerja sama supaya rupiah kuat lagi dan ekonomi tetap aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Lonjakan ekspor Indonesia pada April 2026 menunjukkan daya saing sektor manufaktur dan hasil hilirisasi yang semakin kuat, dengan pertumbuhan nonmigas mencapai lebih dari 23 persen. Kenaikan signifikan ekspor nikel olahan menandakan keberhasilan peningkatan nilai tambah di dalam negeri, sementara pembentukan DSI mencerminkan komitmen serius untuk memperkuat devisa dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Prasasti Center for Policy Studies menyoroti lonjakan ekspor pada April 2026 yang mencapai 21,98 persen secarar (yoy year on year) menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

Tercatat, nilai ekspor Indonesia pada periode tersebut sebesar 25,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Angka tersebut terdiri dari ekspor migas senilai 1,15 miliar dolar AS yang turun 1,2 persen (yoy), dan ekspor nonmigas 24,15 miliar dolar AS (tumbuh 23,36 persen secara tahunan).

Di saat ekspor melonjak, surplus neraca perdagangan pada April 2026 hanya senilai 90 juta dolar AS, terendah dalam 6 tahun terakhir atau selama 72 bulan.

1. Lonjakan nilai ekspor didorong depresiasi rupiah

ilustrasi ekspor (pexels.com/id-id/@tomfisk)

Board of Experts Prasasti, Halim Alamsyah, melihat kenaikan ekspor ini selain tidak lepas dari pengaruh depresiasi rupiah, tetapi juga menunjukkan adanya respons positif dari produksi olahan manufaktur dan barang yang terkait dengan program hilirisasi. Namun, kecenderungan naiknya tekanan inflasi serta menipisnya surplus dagang adalah sinyal yang perlu dicermati dan ditangani secara cepat dan tepat.

“Akselerasi ekspor pada April yang melonjak hampir 22 persen, dan kenaikan ekspor nikel olahan ke China hingga 73 persen, adalah kabar yang layak disyukuri. Ini bukti hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan kita harapkan juga menambah pasokan devisa justru ketika surplus dagang kita sedang menipis,” kata Halim dikutip dari keterangan resmi, Jumat (5/6/2026).

2. DSI bisa kerek devisa negara

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers PT Danantara Sumberdaya Indonesia di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Minggu (31/5/2025).

Prasasti juga menyoroti pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI untuk mendongkrak devisa negara melalui pemberantasan praktik under-invoicing, transfer pricing, dan pelarian devisa hasil ekspor.

“Hal itu tentu memerlukan langkah lanjutan yang cepat dan tepat agar kita tidak kehilangan arah dan momentum perbaikan kondisi ekonomi kita dewasa ini,” ujar Halim.

3. Perlu koordinasi kuat buat hadang pelemahan rupiah

ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Prasasti juga menyoroti inflasi secara bulanan atau month-to-month (mtm) pada April 2026 yang mencapai 0,28 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding catatan per April 2026 sebesar 0,13 persen.

Halim mengatakan, kenaikan tekanan inflasi selain bersumber dari kelangkaan beberapa pasokan akibat perang Iran vs Amerika Serikat (AS) dan komponen volatile foods, juga tidak dapat dilepaskan dari  depresiasi rupiah akhir-akhir ini.

Oleh karena itu, pengendalian nilai tukar dan inflasi menuntut perhatian yang lebih cermat mengingat ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi akan menjadi lebih sempit dan memerlukan koordinasi yang lebih ketat antara otoritas kebijakan moneter dan keuangan serta fiskal.

“Strategi pemerintah untuk terus mendorong kegiatan ekonomi akan diuji oleh pasar dengan kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi,” kata Halim.

Halim menekankan pentingnya langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan valas di dalam negeri dan koordinasi kebijakan makroekonomi untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia.

“Jangan sampai langkah-langkah yang diambil justru menambah ketidakpastian itu sendiri. Bagi pelaku ekonomi, kredibilitas kebijakan menuntut adanya kejelasan sasaran, insentif yang terarah, serta pelaksanaan yang konsisten,” ucap Halim.

Editorial Team

Related Article