Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gelombang PHK Naik, Rekrutmen Tetap Lesu: Sinyal Buruk Pasar Kerja AS
ilustrasi karyawan sedang bekerja (pexels.com/Joseph Fuller)
  • Gelombang PHK di AS melonjak tajam pada Januari, dengan lebih dari 108 ribu pekerja terdampak, menandakan perubahan besar dalam kebijakan tenaga kerja perusahaan.
  • Tingkat rekrutmen berada di titik terendah sejak 2009, mempersempit peluang kerja baru dan meningkatkan kekhawatiran pekerja terhadap keamanan pekerjaan mereka.
  • Sektor teknologi dan logistik menjadi pusat pemangkasan terbesar akibat koreksi pasca-pandemi, sementara rasa aman pekerja menurun meski tingkat pengangguran masih tergolong sehat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pasar kerja Amerika Serikat sedang mengirim sinyal yang bikin banyak orang waspada. Kabar tentang pemutusan hubungan kerja atau PHK muncul semakin sering dalam beberapa bulan terakhir. Pada waktu yang sama, jumlah lowongan baru justru gak banyak bertambah.

Kondisi ini membuat situasi terlihat stabil di atas kertas, tapi terasa goyah di lapangan. Banyak pekerja mulai bertanya-tanya soal keamanan pekerjaan mereka ke depan. Yuk, pahami tanda-tanda penting dari perubahan pasar kerja ini supaya kamu bisa lebih siap menghadapi ketidakpastian global.

1. Lonjakan PHK terlihat dari laporan resmi

ilustrasi PHK (vecteezy.com/Titiwoot Weerawong)

Lonjakan PHK tercatat dalam laporan terbaru dari Challenger, Gray & Christmas, sebuah firma global yang rutin memantau pengumuman PHK perusahaan. Laporan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan di Amerika Serikat mengumumkan lebih dari 108 ribu pemangkasan tenaga kerja pada Januari. Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tren ini menandakan adanya perubahan besar dalam kebijakan perusahaan terhadap tenaga kerja.

Pakar ekonomi dari Glassdoor, Daniel Zhao, menilai bahwa kenaikan PHK memang menarik perhatian publik. Ia menyampaikan bahwa secara keseluruhan angka PHK masih tergolong lebih rendah dibanding masa krisis besar sebelumnya. Namun, dampak psikologisnya terasa lebih kuat karena peluang mencari pekerjaan baru sedang sempit. Kondisi ini membuat pekerja merasa situasi pasar kerja jauh lebih rapuh daripada yang terlihat dari data mentah.

2. Rekrutmen rendah mempersempit peluang kerja

ilustrasi lowongan pekerjaan (pexels.com/cottonbro studio)

Selain PHK yang meningkat, tingkat perekrutan justru berada di titik terendah untuk bulan Januari sejak 2009. Fakta ini juga sejalan dengan laporan sebelumnya dari Bureau of Labor Statistics yang mencatat bahwa jumlah lowongan kerja turun ke level terendah dalam lima tahun terakhir. Artinya, perusahaan gak agresif membuka posisi baru meskipun ekonomi belum masuk fase resesi. Situasi ini menciptakan ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan peluang kerja.

Daniel Zhao menjelaskan bahwa rendahnya rekrutmen membuat pekerja semakin khawatir kehilangan pekerjaan. Ketika satu pintu tertutup karena PHK, pintu lain tak terbuka melalui lowongan baru. Rasa aman dalam dunia kerja pun ikut menurun. Akibatnya, banyak orang memilih bertahan di posisi lama meski gak sepenuhnya puas.

3. PHK terkonsentrasi di sektor teknologi dan logistik

ilustrasi Amazon marketplace (pexels.com/Sagar Soneji)

Gelombang PHK paling besar datang dari sektor teknologi dan logistik. Perusahaan besar seperti Amazon dan UPS menyumbang porsi signifikan dari total pemangkasan tenaga kerja. Langkah ini menunjukkan bahwa masalah gak terjadi merata di semua industri. Ada sektor tertentu yang sedang melakukan penyesuaian besar-besaran.

Laura Ullrich dari Indeed Hiring Lab, selaku Director of Economic Research North America, menilai bahwa PHK ini berkaitan dengan perekrutan berlebihan saat pandemi. Banyak perusahaan memperluas tim secara agresif ketika permintaan melonjak. Kini, perusahaan harus mengoreksi jumlah tenaga kerja karena kondisi bisnis sudah berubah. Menurut pandangannya, situasi ini lebih mencerminkan fase penyesuaian daripada kehancuran pasar kerja secara menyeluruh.

4. Tingkat pengangguran tampak sehat, tapi rasa aman menurun

ilustrasi pengangguran (freepik.com/freepik)

Secara angka, tingkat pengangguran Amerika Serikat masih berada di kisaran 4 persen. Angka tersebut sering dianggap sebagai tanda pasar kerja yang cukup sehat. Namun, tren menunjukkan pengangguran perlahan meningkat dan sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Perubahan ini membuat banyak orang mulai merasa gak nyaman dengan masa depan pekerjaan mereka.

Laura Ullrich menjelaskan bahwa ketidakpastian mendorong pekerja bersikap lebih berhati-hati. Banyak orang menunda rencana pindah kerja atau mencari tantangan baru. Fokus utama bergeser ke mempertahankan pekerjaan yang ada. Kepercayaan diri untuk mendapatkan pekerjaan baru juga turun ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir.

5. Fenomena “job-hugging” makin kuat

ilustrasi lembur (pexels.com/Ron Lach)

Kombinasi antara PHK yang meningkat dan rekrutmen yang lambat memicu fenomena yang disebut sebagai “job-hugging”. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika pekerja memilih bertahan di pekerjaan lama demi rasa aman. Mereka enggan mengambil risiko berpindah kerja karena takut sulit mendapatkan pengganti. Situasi ini membuat mobilitas tenaga kerja melambat.

Daniel Zhao menilai bahwa rasa cemas pekerja gak selalu sejalan dengan data resmi. Walaupun peluang kehilangan pekerjaan belum melonjak drastis, persepsi ancaman tetap tinggi. Ketidakpastian ini membuat banyak orang merasa terjebak di pekerjaan yang gak sepenuhnya memuaskan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa menahan laju pertumbuhan karier dan produktivitas.

Kenaikan PHK tanpa diiringi lonjakan rekrutmen menjadi sinyal penting bahwa pasar kerja Amerika Serikat sedang memasuki fase penuh kehati-hatian. Data menunjukkan kondisi masih terlihat stabil, tapi perasaan pekerja berkata sebaliknya.

Ketimpangan antara angka resmi dan realitas di lapangan menciptakan ketidakpastian yang luas. Sektor tertentu seperti teknologi dan logistik menjadi contoh nyata bagaimana koreksi bisa terjadi setelah masa ekspansi besar.

Bagi kamu yang mengikuti dinamika ekonomi global, situasi ini menjadi pengingat bahwa dunia kerja bisa berubah cepat. Kesiapan beradaptasi dan memahami tren pasar kerja menjadi kunci supaya gak kaget menghadapi perubahan ke depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team