Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Membangun Brand Kosmetik
Ilustrasi Pengusaha/Wirausahawan (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Pembangunan brand kosmetik perlu memperhatikan regulasi sejak awal, termasuk formulasi, produksi, legalitas, dan standar fasilitas sesuai kategori produk.

  • Produk perlu disesuaikan dengan kebutuhan konsumen serta dikembangkan bersama kompetensi yang mendukung formulasi, produksi, legalitas, dan pemasaran.

  • Brand juga perlu menyiapkan distribusi dan kanal penjualan karena perilaku konsumen berubah dan semakin mengarah ke kanal digital.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dalam beberapa tahun terakhir

Beauty World Indonesia melihat perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah ke kanal digital.

awal 2027

Fasilitas produksi obat dan obat tradisional ditargetkan mulai beroperasi.

kini

Fasilitas produksi obat dan obat tradisional berada dalam tahap akhir penyempurnaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pelaku usaha menyiapkan brand kosmetik dengan memperhatikan regulasi, kebutuhan konsumen, produksi, legalitas, distribusi, dan kanal penjualan.
  • Who?
    Pelaku usaha, PT Medkes Global Prima, Beauty World Indonesia, Shella Huliselan, dr. Samuel Stemi, dan Irine.
  • Where?
    Pengembangan dilakukan dalam fasilitas produksi Medkes serta melalui distribusi, retail, dan kanal digital.
  • When?
    Persiapan dilakukan sejak awal pengembangan produk. Fasilitas obat dan obat tradisional ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.
  • Why?
    Brand perlu memenuhi ketentuan yang berlaku, menyesuaikan kebutuhan konsumen, serta memiliki akses ke pasar.
  • How?
    Dengan mengatur formulasi, produksi, legalitas, fasilitas sesuai kategori, kerja sama kompetensi, serta strategi distribusi dan penjualan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membangun brand kosmetik itu bukan hanya membuat produk. Pemilik brand perlu memikirkan aturan, cara membuat produk, izin, dan kebutuhan orang yang akan membeli. Medkes dan Beauty World Indonesia membantu beberapa bagian. Setelah produk jadi, brand juga perlu menjualnya lewat tempat yang sesuai, termasuk kanal digital.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kesiapan brand kosmetik dapat dibangun melalui pembagian kompetensi yang jelas. Pemilik brand bisa berfokus pada konsep dan produk, sementara mitra membantu formulasi, produksi, legalitas, distribusi, retail, hingga pemasaran. Pendekatan ini membuat pengembangan lebih terarah dan membuka ruang bagi dokter, klinik, serta pelaku usaha lain untuk mengembangkan produk sesuai kebutuhan konsumen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perkembangan industri kecantikan di Indonesia mendorong pelaku usaha untuk semakin memperhatikan kesiapan produk, tidak hanya dari sisi formulasi dan kualitas, tetapi juga kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. 

Bagi pelaku usaha yang ingin membangun atau mengembangkan brand, tantangannya kini bukan hanya menghasilkan produk, tetapi memastikan produk tersebut dikembangkan dengan standar yang tepat dan siap memenuhi berbagai ketentuan sebelum dipasarkan.

1. Perhatikan regulasi sejak awal pengembangan produk

Ilustrasi regulasi (IDN Times/Fadillah)

Direktur Operasional PT Medkes Global Prima Shella Huliselan mencontohkan pentingnya memasukkan aspek regulasi sejak awal pengembangan produk.

“Ketika ingin membangun sebuah brand, pemilik brand tidak hanya perlu memikirkan produknya mau seperti apa, tetapi juga bagaimana produk tersebut dapat memenuhi persyaratan yang berlaku. Karena itu, kami di Medkes berupaya mendampingi dari awal agar proses pengembangan produk dapat berjalan lebih terarah,” ujar Shella.

Dalam prosesnya, pengembangan brand dapat mencakup formulasi, produksi, serta berbagai kebutuhan legalitas. Shella menyebut beberapa di antaranya adalah pendaftaran HAKI, notifikasi BPOM, dan sertifikasi sesuai karakteristik produk.

"Dengan begitu, pemilik brand dapat lebih fokus mengembangkan konsep dan produknya, sementara proses teknisnya kami bantu siapkan agar lebih terarah," tutur Shella.

Pengembangan formulasi, produksi, hingga kebutuhan legalitas dapat dibantu pihak yang memiliki kompetensi terkait. Dengan begitu, pemilik brand dapat lebih fokus pada konsep dan produk, sementara kebutuhan teknis disiapkan secara terarah.

Kebutuhan fasilitas produksi perlu disesuaikan dengan kategori produk. Shella mencontohkan, di Medkes, terdapat tiga fasilitas dengan standar berbeda, yakni Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), dan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

Fasilitas produksi kosmetik, obat, dan obat tradisional tersebut disiapkan secara terpisah, berbeda dengan fasilitas manufaktur yang menggabungkan beberapa kategori produksi dalam satu tempat. Fasilitas produksi obat dan obat tradisional kini berada dalam tahap akhir penyempurnaan dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Pemisahan fasilitas menyesuaikan kebutuhan dan standar produksi masing-masing kategori produk.

Pengembangan brand juga dapat melibatkan pihak dengan keahlian berbeda. Dalam contoh Medkes, perusahaan tersebut bekerja sama dengan Beauty World Indonesia. Medkes menangani pengembangan formulasi dan produksi, sedangkan Beauty World Indonesia memiliki pengalaman di bidang distribusi, retail, dan pengembangan pasar.

Seiring perkembangan industri kecantikan, pelaku usaha yang mengembangkan brand juga semakin beragam. Pengembangan produk tidak hanya dilakukan perusahaan kosmetik, tetapi juga profesional di bidang kecantikan, termasuk dokter dan klinik yang melihat peluang produk berdasarkan kebutuhan pasien serta pengalaman klinis.

2. Sesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen

Ilustrasi Pengusaha/Wirausahawan (IDN Times/Aditya Pratama)

Partner Beauty World Indonesia dr. Samuel Stemi mencontohkan, pengalaman berinteraksi langsung dengan pasien dapat membantu mengenali kebutuhan produk. Namun, kebutuhan tersebut masih memerlukan dukungan berbagai kompetensi untuk dikembangkan menjadi brand, mulai dari formulasi dan produksi hingga legalitas serta pengembangan bisnis.

“Ketika kita punya ide untuk membuat satu brand, kita tentu mencari produsen yang tidak hanya bisa memproduksi skincare, tetapi juga bisa mendukung dari sisi perencanaan formulasi dan aspek lainnya. Jadi pengembangan brand-nya bisa dilakukan dengan lebih terarah,” katanya.

Dalam contoh yang disampaikan dr. Samuel, Medkes terlibat bukan hanya dalam produksi, tetapi juga memberikan dukungan hingga aspek pemasaran. Menurutnya, keterlibatan pihak dengan kompetensi berbeda juga memungkinkan dokter tetap fokus pada keahlian klinis, sementara pengembangan brand didukung mitra sesuai kebutuhannya.

3. Siapkan distribusi dan kanal penjualan

Ilustrasi Pengusaha/Wirausahawan (IDN Times/Aditya Pratama)

Pengembangan brand tidak selesai ketika produk sudah diproduksi dan memenuhi persyaratan yang berlaku. Bagi brand yang sedang tumbuh, tahap berikutnya adalah membangun akses ke konsumen dan menentukan kanal yang tepat untuk mengembangkan penjualan, terutama karena perilaku konsumen terus berubah.

“Brand yang sudah siap secara produk tetap perlu memiliki strategi untuk masuk ke pasar. Karena itu, pengalaman di sisi distribusi, retail, dan pemahaman terhadap perilaku konsumen menjadi pelengkap dari kemampuan produksi,” ujar General Manager Sales & Marketing B2C Beauty World Indonesia Irine.

Pengalaman di bidang distribusi, retail, dan pemahaman perilaku konsumen dapat melengkapi kemampuan produksi. Irine mencontohkan, pengalaman pihaknya selama lebih dari 25 tahun di industri kecantikan mencakup distribusi berbagai kebutuhan industri kecantikan serta pengembangan kanal penjualan kepada konsumen.

Dalam beberapa tahun terakhir, pihaknya juga melihat perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah ke kanal digital. 

“Karena itu, ekosistem menjadi penting agar pengembangan produk tidak berhenti pada proses produksi, tetapi dapat dilanjutkan hingga bagaimana produk tersebut dikembangkan dan diterima oleh pasar,” kata Irine.

Curated For You

Editorial Team

Related Article