Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Diesel Mencekik, Trump Nekat Borong Diesel dari Rusia

5 min read
Harga Diesel Mencekik, Trump Nekat Borong Diesel dari Rusia
Pertemuan Donald Trump (kiri) dan Vladimir Putin (kanan) di Helsinki pada 16 Juli 2018. (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Trump mengumumkan kesepakatan impor lebih dari 4 juta ton diesel Rusia untuk menstabilkan pasar, didukung lisensi sementara OFAC hingga April 2027.
  • Harga diesel AS sempat mencapai 6,52 dolar AS per galon pada September, menekan ekonomi dan petani; Trump juga menunda pajak diesel luar jalan.
  • Kemampuan Rusia memenuhi pasokan diragukan karena ekspor diesel merosot, defisit domestik, dan kerusakan kilang, sementara Ukraina serta analis mengkritik kesepakatan tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (9/10/2026) mengumumkan kesepakatan pasokan diesel dari Rusia dengan total lebih dari 4 juta ton untuk menjaga stabilitas pasar bahan bakar domestik dan global. Kesepakatan yang dicapai melalui percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin itu mencakup pengiriman awal 300 ribu ton, disusul 500 ribu ton pada November, 1 juta ton pada tahap berikutnya, serta tambahan 3 juta ton yang disesuaikan dengan kondisi kilang.

Dilansir CNBC, Trump menyampaikan melalui platform Truth Social bahwa penyediaan bahan bakar dengan harga terjangkau bagi petani, peternak, dan sopir truk menjadi prioritas utamanya. Pemerintah Rusia juga mengonfirmasi kesiapan untuk memasok minyak dan produk turunannya ke pasar AS maupun internasional.

Untuk memfasilitasi pengiriman tersebut, Departemen Keuangan AS melalui Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) menerbitkan lisensi umum sementara yang mengizinkan impor diesel Rusia hingga April 2027. Kebijakan ini berbalik dari larangan total impor minyak dan gas Rusia yang diberlakukan pada 2022, ketika Joe Biden menjabat sebagai presiden AS.

  1. 1. Harga diesel membebani ekonomi AS menjelang pemilu

    ilustrasi SPBU
    ilustrasi SPBU (pexels.com/1ndex)

    Kenaikan harga bahan bakar menambah tekanan politik terhadap pemerintahan AS menjelang pemilu. Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata diesel sempat mencapai 6,52 dolar AS per galon (setara Rp116.708) pada September, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sebelum turun menjadi 6,20 dolar AS per galon (setara Rp110.980).

    Situasi tersebut terjadi meskipun AS merupakan eksportir diesel terbesar di dunia. Persediaan bahan bakar di dalam negeri justru menyusut tajam akibat krisis energi yang dipicu ketegangan geopolitik.

    Tekanan ekonomi juga tercermin dalam jajak pendapat Pew Research Center (PRC), yang menemukan bahwa 84 persen pemilih terdaftar menempatkan persoalan ekonomi sebagai prioritas utama. Dampak kenaikan harga bahan bakar terasa di negara bagian pendukung Partai Republik, termasuk Iowa dan Kansas, yang memiliki banyak petani.

    Sebelum menyepakati impor dari Rusia, Trump sempat mempertimbangkan larangan ekspor diesel pada bulan sebelumnya. Namun, rencana tersebut dibatalkan setelah pelaku industri memperingatkan bahwa kebijakan itu berpotensi mendorong kenaikan harga bensin.

    Trump juga menerbitkan perintah eksekutif pada awal pekan untuk mengizinkan armada truk menggunakan diesel luar jalan bebas pajak di jalan raya tanpa dikenai penalti federal. Kebijakan tersebut hanya menunda kewajiban pembayaran pajak, sementara upaya penanganan krisis menghadapi batasan hukum dari Undang-Undang Pemberian Sanksi Rusia dan Iran Lindsey O Graham 2026 yang baru disahkan Kongres AS pada bulan sebelumnya.

    Regulasi itu memperluas sanksi terhadap pejabat, perbankan, dan kapal bayangan, sekaligus memberikan kewenangan untuk mengenakan tarif hingga 100 persen terhadap lima negara pengimpor minyak dan gas Rusia terbesar.

  2. 2. Krisis energi global menekan pasokan diesel Rusia

    ilustrasi kapal pengangkut minyak
    ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

    Kelangkaan diesel dunia berkaitan dengan eskalasi konflik geopolitik sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari. Menurut laporan Al Jazeera, Teheran merespons serangan tersebut dengan menutup sebagian besar Selat Hormuz, jalur pelayaran yang biasanya dilalui 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

    Gangguan pasokan semakin parah akibat serangan terhadap Pipa Timur-Barat Arab Saudi serta aksi kelompok Houthi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Kerusakan fasilitas energi di Rusia dan Ukraina turut memperburuk keadaan hingga memicu lonjakan harga yang mencapai rekor pada September.

    Kelompok Tujuh (G7) melepas 100 juta barel minyak dari cadangan darurat atas dorongan AS untuk meredakan krisis. Namun, Ekonom Capital Economics (CE) Hamad Hussain menilai pelepasan cadangan tersebut hanya dapat menjadi solusi jangka pendek.

    Kemampuan Rusia memenuhi janji ekspornya juga dipertanyakan karena negara itu menghadapi persoalan pasokan domestik. Data lembaga analisis Windward yang mengutip laporan Vortexa menunjukkan ekspor diesel dan gas oil Rusia turun menjadi 190 ribu barel per hari pada kuartal III-2026, jauh di bawah 690 ribu barel pada kuartal II-2026 dan 850 ribu barel pada kuartal I-2026.

    Rusia telah melarang ekspor diesel sejak Juli dan memperpanjang kebijakan tersebut hingga akhir Oktober akibat defisit pasokan dalam negeri. Kementerian Pertahanan Ukraina mengklaim serangan militernya menghancurkan lebih dari separuh kapasitas kilang Rusia serta merusak ratusan kapal bayangan di Laut Azov dan Laut Hitam pada Juli.

    Krisis tersebut bahkan memaksa Rusia mengimpor bensin dan diesel untuk pertama kalinya pada kuartal III-2026. Kapal pengangkut bahan bakar dilaporkan mulai tiba di Vysotsk pada pekan ini.

    Wakil Perdana Menteri (WPM) Rusia Alexander Novak menyatakan bahwa keseimbangan pasokan di pasar domestik telah tercapai. Pemerintah Rusia akan mempertimbangkan pembukaan kembali ekspor apabila produksi sudah melampaui kebutuhan dalam negeri.

    Analisis Badan Energi Internasional (IEA) menyebutkan bahwa produksi Rusia pada dasarnya mencapai dua kali lipat kebutuhan domestiknya. Kondisi itu memberi Rusia opsi untuk melepas diesel kelas musim panas yang digunakan pada suhu di atas 0 derajat Celcius agar kapasitas produksi dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan diesel musim dingin dan Arktik.

  3. 3. Ukraina dan analis meragukan kesepakatan diesel AS-Rusia

    Bendera Negara Ukraina. (pexels.com/Andrii Smuryhin)
    Bendera Negara Ukraina. (pexels.com/Andrii Smuryhin)

    Kesepakatan pasokan diesel antara AS dan Rusia menuai kritik dari Ukraina serta sejumlah analis pasar. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam kerja sama tersebut ketika utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner mengadakan pertemuan dengan pejabat Ukraina dan Eropa di Miami.

    Zelenskyy menilai kesepakatan itu berpotensi menguntungkan Rusia tanpa memberikan manfaat bagi perdamaian dunia. Ia menyampaikan kritiknya melalui pernyataan berikut.

    “Hadiah untuk Putin tidak akan membawa perdamaian atau manfaat apa pun bagi dunia beradab. Rusia akan ‘membalas’ diesel dengan teror dan tipu daya lebih lanjut. Mengizinkan Rusia menjual produk minyak bumi adalah investasi dalam perang yang harus diakhiri, bukan diperpanjang,” ujar Zelenskyy.

    Di sisi lain, Putin menilai kerja sama tersebut dapat mendukung stabilitas ekonomi global. Ia juga menyatakan komitmennya untuk mempertahankan komunikasi langsung antar-presiden serta kerja sama antarpemerintah dan dinas keamanan.

    Mantan Kepala Divisi IEA Neil Atkinson menilai Rusia akan kesulitan memenuhi volume ekspor yang dijanjikan tanpa mengorbankan kebutuhan pasar domestiknya. Analis Intelijen Maritim Michelle Wiese Bockmann juga mempertanyakan kemampuan pelonggaran lisensi umum AS dalam menyediakan bahan bakar yang cukup untuk menekan harga.

    Keraguan serupa disampaikan Kepala Analis Pasar IG Group Chris Beauchamp, yang memandang kesepakatan tersebut sebagai langkah darurat tanpa jaminan keberhasilan.

    “Umumkan sebuah ‘kesepakatan’ dengan diktator yang tidak menyenangkan dengan angka utama yang mengesankan dan tanpa kepastian bahwa tujuan apa pun akan tercapai,” katanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More