ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)
Kelangkaan diesel dunia berkaitan dengan eskalasi konflik geopolitik sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari. Menurut laporan Al Jazeera, Teheran merespons serangan tersebut dengan menutup sebagian besar Selat Hormuz, jalur pelayaran yang biasanya dilalui 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Gangguan pasokan semakin parah akibat serangan terhadap Pipa Timur-Barat Arab Saudi serta aksi kelompok Houthi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Kerusakan fasilitas energi di Rusia dan Ukraina turut memperburuk keadaan hingga memicu lonjakan harga yang mencapai rekor pada September.
Kelompok Tujuh (G7) melepas 100 juta barel minyak dari cadangan darurat atas dorongan AS untuk meredakan krisis. Namun, Ekonom Capital Economics (CE) Hamad Hussain menilai pelepasan cadangan tersebut hanya dapat menjadi solusi jangka pendek.
Kemampuan Rusia memenuhi janji ekspornya juga dipertanyakan karena negara itu menghadapi persoalan pasokan domestik. Data lembaga analisis Windward yang mengutip laporan Vortexa menunjukkan ekspor diesel dan gas oil Rusia turun menjadi 190 ribu barel per hari pada kuartal III-2026, jauh di bawah 690 ribu barel pada kuartal II-2026 dan 850 ribu barel pada kuartal I-2026.
Rusia telah melarang ekspor diesel sejak Juli dan memperpanjang kebijakan tersebut hingga akhir Oktober akibat defisit pasokan dalam negeri. Kementerian Pertahanan Ukraina mengklaim serangan militernya menghancurkan lebih dari separuh kapasitas kilang Rusia serta merusak ratusan kapal bayangan di Laut Azov dan Laut Hitam pada Juli.
Krisis tersebut bahkan memaksa Rusia mengimpor bensin dan diesel untuk pertama kalinya pada kuartal III-2026. Kapal pengangkut bahan bakar dilaporkan mulai tiba di Vysotsk pada pekan ini.
Wakil Perdana Menteri (WPM) Rusia Alexander Novak menyatakan bahwa keseimbangan pasokan di pasar domestik telah tercapai. Pemerintah Rusia akan mempertimbangkan pembukaan kembali ekspor apabila produksi sudah melampaui kebutuhan dalam negeri.
Analisis Badan Energi Internasional (IEA) menyebutkan bahwa produksi Rusia pada dasarnya mencapai dua kali lipat kebutuhan domestiknya. Kondisi itu memberi Rusia opsi untuk melepas diesel kelas musim panas yang digunakan pada suhu di atas 0 derajat Celcius agar kapasitas produksi dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan diesel musim dingin dan Arktik.