Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Herd Behavior dalam Investasi? Pahami Risikonya

3 min read
Apa Itu Herd Behavior dalam Investasi? Pahami Risikonya
ilustrasi investasi saham (pexels.com/iam hogir)
  • Herd behavior terjadi saat investor mengikuti keputusan mayoritas karena merasa pihak lain lebih berinformasi atau lebih aman, sehingga analisis pribadi bisa terabaikan.
  • Media sosial mempercepat penyebaran tren investasi dan membuat aset populer tampak meyakinkan, meski popularitasnya belum tentu sesuai dengan kondisi setiap investor.
  • Keputusan serentak tanpa analisis independen dapat memperbesar volatilitas, kenaikan harga, dan kerugian; investor perlu memahami aset, risiko, tujuan, serta kondisi keuangan pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Melihat banyak orang membeli saham atau aset tertentu terkadang membuat kita ikut tertarik melakukan hal yang sama. Apalagi, ketika keputusan tersebut ramai dibicarakan di media sosial dan terlihat seolah-olah banyak investor mendapatkan keuntungan. Kebiasaan mengikuti keputusan investor lain seperti ini dikenal sebagai herd behavior.

Dalam dunia investasi, keputusan yang dibuat banyak orang memang dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi investor. Namun, mengikuti arus tanpa memahami alasan di balik keputusan tersebut juga dapat membuat kita mengabaikan analisis kita sendiri. Yuk, simak lebih lanjut seputar herd behavior dalam investasi dan risikonya bagi investor di bawah ini!

  1. 1. Herd behavior membuat investor mengikuti keputusan orang lain

    ilustrasi memantau pasar
    ilustrasi memantau pasar (magnific.com/standret)

    Herd behavior dalam investasi terjadi ketika investor mengubah atau menentukan keputusan investasinya dengan melihat tindakan investor lain. Misalnya, seseorang awalnya tidak berencana membeli sebuah saham, tetapi kemudian ikut membeli setelah melihat banyak orang melakukan hal tersebut. Dalam kondisi seperti ini, keputusan kelompok dapat menjadi lebih berpengaruh dibandingkan dengan analisis pribadi.

    Perilaku tersebut dapat muncul karena investor menganggap orang lain memiliki informasi yang lebih baik. Investor juga bisa merasa lebih aman ketika mengambil keputusan yang sama dengan banyak orang dibandingkan dengan berjalan sendiri. Literatur mengenai perilaku investor membedakan kondisi ini dari situasi ketika banyak orang mengambil keputusan yang sama karena menerima informasi dan kondisi pasar yang memang serupa.

  2. 2. Media sosial memperkuat perilaku ikut-ikutan

    ilustrasi bermain media sosial
    ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/camilo jimenez)

    Perkembangan media sosial membuat informasi mengenai investasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Ketika sebuah saham, aset kripto, atau instrumen investasi ramai dibicarakan, investor dapat melihat banyak orang membagikan keputusan dan hasil investasinya dalam waktu yang hampir bersamaan. Kondisi tersebut dapat membuat sebuah keputusan terlihat semakin meyakinkan hanya karena banyak orang membicarakannya.

    Padahal, jumlah orang yang mengambil keputusan tertentu tidak otomatis menunjukkan bahwa keputusan tersebut sesuai dengan kondisi setiap investor. Informasi yang muncul di media sosial juga dapat membuat perhatian investor terkonsentrasi pada aset atau tren tertentu. Penelitian terbaru bahkan terus mengkaji hubungan antara sentimen media sosial dan perilaku herding di kalangan investor ritel.

  3. 3. Mengikuti mayoritas bisa membuat risiko ikut membesar

    ilustrasi market yang turun
    ilustrasi market yang turun (freepik.com/standret)

    Salah satu risiko herd behavior muncul ketika banyak investor mengambil keputusan yang sama tanpa mempertimbangkan informasi secara independen. Jika keputusan tersebut ternyata keliru, investor yang ikut-ikutan dapat menghadapi kerugian secara bersamaan. Pergerakan yang dilakukan secara serentak juga berpotensi memperbesar perubahan harga di pasar.

    Kajian mengenai herding dalam pasar keuangan menunjukkan bahwa perilaku tersebut dapat berkaitan dengan volatilitas dan ketidakstabilan harga. Ketika investor membeli karena melihat investor lain membeli, kenaikan harga dapat semakin menarik investor berikutnya untuk ikut masuk. Sebaliknya, ketika sentimen berubah dan banyak investor menjual secara bersamaan, tekanan jual juga dapat semakin besar.

  4. 4. Popularitas aset bukan pengganti analisis investasi

    ilustrasi melakukan analisis pasar
    ilustrasi melakukan analisis pasar (magnific.com/pvproductions)

    Melihat banyak investor membeli suatu aset tidak berarti kita harus langsung mengikuti keputusan tersebut. Sebelum berinvestasi, kita tetap perlu memahami aset yang dibeli, alasan memilihnya, risiko yang mungkin muncul, serta kesesuaiannya dengan tujuan dan kondisi keuangan pribadi. Dengan begitu, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada apa yang sedang dilakukan mayoritas.

    Menariknya, herd behavior dalam investasi juga tidak selalu berarti semua keputusan yang sama pasti keliru. Investor dapat mengambil keputusan serupa karena memiliki informasi yang sama atau menilai kondisi pasar dengan cara yang mirip, sehingga kemiripan tindakan tidak selalu membuktikan adanya perilaku ikut-ikutan. Karena itu, memahami konsep herd behavior dapat membantu kita lebih kritis ketika melihat sebuah aset sedang ramai dibeli atau dibicarakan.

    Pergerakan investor lain bisa menjadi informasi yang menarik untuk diperhatikan, tetapi bukan berarti harus selalu diikuti. Ketika sebuah aset sedang ramai, justru kita perlu memahami alasan di balik pergerakan tersebut sebelum mengambil keputusan. Dengan begitu, kita dapat membedakan antara memperoleh informasi dari pasar dan sekadar mengikuti arus.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More