4 Strategi Investasi saat Harga Saham Naik dan Turun, Wajib Tahu!

Harga saham berubah karena kinerja perusahaan, ekonomi, dan sentimen pasar; investor perlu menyesuaikan waktu beli atau tambah saham dengan analisis serta tujuan investasi.
Value investing mencari saham di bawah nilai wajarnya, sedangkan averaging down menambah saat harga turun untuk menekan rata-rata beli, dengan risiko harga terus melemah.
Averaging up menambah saham saat tren naik dinilai kuat, sementara buy on weakness dan sell on strength memanfaatkan area harga; semua strategi perlu disesuaikan dengan risiko dan kondisi keuangan.
Harga saham dapat berubah setiap hari karena berbagai faktor, mulai dari kinerja perusahaan hingga kondisi ekonomi dan sentimen pasar. Perubahan tersebut membuat investor perlu menentukan cara yang sesuai ketika ingin membeli atau menambah kepemilikan saham. Beberapa strategi bahkan memanfaatkan pergerakan harga untuk menentukan kapan harus membeli atau menjual.
Strategi investasi tidak hanya berkaitan dengan memilih saham yang bagus. Cara kita menentukan waktu pembelian dan menyikapi perubahan harga juga dapat memengaruhi hasil investasi. Berikut empat strategi yang umum digunakan untuk menghadapi pergerakan harga saham.
Table of Content
1. Value investing mencari saham yang dinilai masih murah

ilustrasi seorang investor (pexels.com/Kampus Production) Value investing adalah strategi mencari saham yang dianggap memiliki harga pasar lebih rendah dibandingkan nilai wajarnya. Investor biasanya melihat kondisi bisnis dan laporan keuangan perusahaan untuk menilai apakah harga saham tersebut sudah mencerminkan nilai bisnisnya. Jika harga dianggap masih murah, saham dapat dibeli dengan harapan nilainya meningkat dalam jangka panjang.
Contohnya, sebuah perusahaan memiliki bisnis dan kinerja keuangan yang dianggap kuat, tetapi harga sahamnya sedang turun karena sentimen pasar. Investor value dapat melihat kondisi tersebut sebagai kesempatan untuk membeli jika hasil analisis menunjukkan harga saham berada di bawah nilai yang dianggap wajar. Strategi ini membutuhkan riset karena saham yang terlihat murah belum tentu benar-benar memiliki prospek yang baik.
2. Averaging down atau menambah saham saat harga turun

ilustrasi grafik pergerakan harga (pexels.com/Hanna Pad) Averaging down dilakukan dengan membeli saham yang sudah dimiliki ketika harganya turun. Tujuannya adalah menurunkan rata-rata harga beli sehingga harga saham tidak perlu kembali ke harga pembelian pertama untuk mencapai titik impas. Namun, strategi ini bukan berarti setiap penurunan harga harus langsung dianggap sebagai kesempatan membeli.
Misalnya, kita membeli 10 saham dengan harga Rp10 ribu per lembar. Jika harganya turun menjadi Rp8 ribu dan kita membeli 10 saham lagi, rata-rata harga pembelian menjadi Rp9 ribu per lembar sebelum memperhitungkan biaya transaksi. Strategi ini tetap memiliki risiko karena harga saham bisa terus turun setelah pembelian tambahan dilakukan.
3. Averaging up atau menambah saham saat harga naik

ilustrasi pergerakan harga (pexels.com/Monstera Production) Berbeda dengan averaging down, averaging up dilakukan dengan menambah kepemilikan ketika harga saham sudah naik. Investor menggunakan strategi ini ketika kenaikan harga dianggap menunjukkan bahwa tren atau prospek saham masih cukup kuat. Dengan begitu, investor tidak harus menunggu harga turun untuk kembali membeli saham yang dinilai masih memiliki peluang.
Sebagai contoh, kita membeli saham pada harga Rp5 ribu per lembar dan harganya naik menjadi Rp6 ribu. Jika analisis menunjukkan tren kenaikan masih berlanjut, kita dapat membeli lagi pada harga tersebut. Konsekuensinya, rata-rata harga beli menjadi lebih tinggi sehingga investor membutuhkan kenaikan harga berikutnya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
4. Buy on weakness dan sell on strength untuk memanfaatkan pergerakan harga

ilustrasi menganalisis grafik (pexels.com/kaboompics) Buy on weakness berarti membeli ketika harga saham sedang melemah, tetapi masih berada pada area yang dianggap menarik oleh investor. Sebaliknya, sell on strength berarti menjual ketika harga menguat dan sudah mencapai level yang dianggap sesuai dengan target. Strategi ini lebih banyak digunakan untuk memanfaatkan pergerakan harga dalam jangka pendek.
Investor biasanya menggunakan analisis pergerakan harga untuk menentukan area pembelian dan penjualan. Misalnya, saham yang turun mendekati area support dapat dipertimbangkan untuk dibeli, sedangkan kenaikan mendekati area resistance dapat menjadi pertimbangan untuk menjual. Strategi ini membutuhkan pemahaman terhadap pergerakan harga dan tetap memiliki risiko karena harga saham dapat bergerak di luar perkiraan.
Memahami strategi investasi saja belum cukup jika kita belum mengetahui tujuan dan kemampuan menghadapi risiko. Sebelum menerapkan beberapa strategi di atas, pastikan keputusan yang diambil sesuai dengan kondisi keuangan dan jangka waktu investasi kita. Jangan terburu-buru mengikuti strategi tertentu hanya karena melihat orang lain berhasil menggunakannya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















