Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hipmi: Rupiah Lesu Tekan Cash Flow dan Kerek Biaya Produksi Perusahaan
ilustrasi uang rupiah (pexels.com/Robert Lens)
  • Pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS menekan arus kas dan menaikkan biaya produksi perusahaan, terutama yang bergantung pada bahan baku impor.
  • Hipmi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor global seperti suku bunga tinggi The Fed dan faktor struktural domestik seperti ketergantungan impor serta pasar keuangan yang dangkal.
  • Pengusaha kini lebih berhati-hati dalam ekspansi bisnis, fokus menjaga likuiditas, efisiensi operasional, serta memilih investasi yang cepat menghasilkan arus kas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira menyoroti dampak pelemahan rupiah terhadap dunia usaha, khususnya dalam tekanan biaya produksi dan cash flow atau arus kas keuangan perusahaan. Terlebih rupiah sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS atau level terendahnya.

“Ketika rupiah melemah cukup dalam dan berlangsung relatif lama, dampaknya tidak hanya kenaikan biaya produksi, tetapi juga tekanan terhadap cash flow perusahaan,” ujar Anggawira kepada IDN Times, Kamis (14/3/2026).

1. Sejumlah faktor tambah tekanan bagi dunia usaha

ilustrasi impor barang (pexels.com/Chanaka)

Menurutnya, beberapa faktor utama yang menjadi penyebab tekanan bagi dunia usaha antara lain meningkatnya biaya impor, tingginya biaya logistik global, naiknya bunga pinjaman, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Sebagai ilustrasi, perusahaan manufaktur A di Jawa Timur harus membeli bahan baku impor dengan harga yang naik sekitar 15 persen dibanding tahun lalu. Biaya logistik global untuk pengiriman barang juga meningkat hingga 10 persen, menambah beban operasional perusahaan.

Di sisi lain, bunga pinjaman bank untuk modal kerja naik dari 6 persen menjadi 7,5 persen, sehingga perusahaan harus mengalokasikan lebih banyak dana hanya untuk membayar bunga. Ditambah lagi, daya beli masyarakat yang belum pulih membuat perusahaan kesulitan menaikkan harga jual produknya.

“Akibatnya, margin industri tertekan dari dua sisi: biaya produksi naik, tetapi kemampuan menaikkan harga jual tetap terbatas,” tuturnya.

2. Ada dua kombinasi penyebab rupiah melemah

Ilustrasi rupiah (IDN Times/Ita Malau)

Mengenai apakah pelemahan rupiah bersifat sementara atau struktural, Anggawira menyebut adanya kombinasi kedua faktor yakni dalam jangka pendek, pelemahan dipengaruhi faktor global seperti suku bunga tinggi The Fed, penguatan dolar AS, tensi geopolitik, capital outflow dari emerging market, serta ketidakpastian ekonomi global.

"Namun, ada juga persoalan struktural domestik, seperti ketergantungan impor bahan baku, dangkalnya pasar keuangan, ketergantungan pada hot money, serta basis industri berorientasi ekspor bernilai tambah tinggi yang belum kuat,” ujarnya.

Ia menegaskan, jika persoalan struktural ini tidak diperbaiki, tekanan terhadap rupiah bisa menjadi siklus berulang. Artinya, persoalannya bukan sekadar menjaga kurs, tetapi memperkuat fondasi ekonomi nasional.

3. Pengusaha berhati-hati sebelum ekspansi

ilustrasi pengusaha (pexels.com/Kuncheek)

Terkait rencana ekspansi dunia usaha di tengah pelemahan rupiah, Anggawira mengatakan, sebagian besar pengusaha cenderung lebih berhati-hati. Dengan pendekatan ini, pengusaha diharapkan mampu menghadapi tantangan fluktuasi nilai tukar tanpa mengorbankan keberlanjutan bisnis.

“Bukan berarti berhenti ekspansi total, tetapi ekspansi dilakukan secara selektif. Saat ini perusahaan fokus pada menjaga likuiditas, efisiensi operasional, mengurangi utang dolar, menjaga cash conversion cycle, dan memilih investasi yang cepat menghasilkan arus kas,” ujarnya.

Editorial Team