- Baht Thailand menguat 0,05 persen
- Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen
- Rupee India menguat 0,40 persen
- Peso Filipina menguat 0,07 persen
HIPMI Sebut Struktur Industri RI Masih Rapuh, Rupiah Lemah Jadi Alarm

- HIPMI menilai pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS menunjukkan rapuhnya struktur industri nasional yang masih bergantung besar pada impor bahan baku dan komponen.
- Pelemahan rupiah menekan arus kas perusahaan karena biaya impor, logistik, dan bunga pinjaman meningkat sementara daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.
- Bank Indonesia menyebut pelemahan rupiah dipicu gejolak global akibat konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS, meski stabilitas domestik tetap dijaga.
Jakarta, IDN Times – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyebut pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar AS perlu mendapat perhatian serius, terutama bagi sektor manufaktur.
Kondisi ini juga mencerminkan betapa rapuhnya struktur industri dalam negeri dalam menghadapi fluktuasi mata uang. Akibat pelemahan ini, banyak perusahaan menghadapi kenaikan biaya produksi, terutama bagi yang masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, dan komponen industri.
"Kita harus jujur melihat bahwa struktur industri Indonesia saat ini memang belum sepenuhnya kuat. Banyak sektor masih bergantung pada impor bahan baku antara 35–70 persen, terutama industri petrokimia, farmasi, elektronik, otomotif, tekstil, hingga beberapa sektor makanan dan minuman,” kata Sekjen HIPMI, Anggawira, saat dihubungi IDN Times, Rabu (13/5/2026).
1. Arus kas perusahaan akan tertekan jika rupiah terus melemah

Menurut dia, ketika rupiah melemah cukup dalam dan berlangsung relatif lama, dampaknya bukan hanya pada kenaikan biaya produksi, tetapi juga tekanan serius terhadap arus kas perusahaan.
“Biaya impor naik, biaya logistik global masih tinggi, bunga pinjaman meningkat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih kuat. Ini semua membuat cash flow perusahaan menjadi lebih berat,” kata dia.
Angga menekankan pentingnya percepatan penguatan industri domestik agar ketergantungan terhadap impor bisa dikurangi.
“Penguatan industri lokal tidak bisa ditunda lagi, karena fluktuasi nilai tukar mata uang adalah risiko yang selalu ada,” ujar dia.
2. Rupiah hanya sedikit menguat sore tadi

Pergerakan rupiah terus menunjukkan fluktuasi dalam beberapa hari terakhir dan saat ini berada di level Rp17.400 per dolar AS. Nilai ini sedikit menguat dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp17.500 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, mayoritas mata uang utama Asia juga mengalami penguatan. Rinciannya sebagai berikut:
3. Faktor pendorong rupiah melemah

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, mengatakan, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dipengaruhi oleh gejolak global akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini mendorong harga minyak naik dan memicu kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).
“Pergerakan nilai tukar di berbagai negara sangat dipengaruhi dinamika global, terutama konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia,” ujar Denny di Gedung BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Menurut Denny, harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 40 persen sejak akhir Februari 2026, meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven. Selain itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 4,5 persen turut menekan mata uang negara berkembang. Pada akhir Februari, yield obligasi AS tersebut masih berada di kisaran 4 persen.
“Penguatan indeks dolar AS juga memperkuat tekanan terhadap mata uang emerging market,” kata dia.
Denny mengatakan, tekanan terhadap mata uang tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang lain seperti Peso Filipina, Baht Thailand, Rupee India, dan Won Korea Selatan, serta beberapa mata uang Amerika Latin, juga mengalami pelemahan.
Meski begitu, kata dia, terdapat faktor domestik yang turut meningkatkan permintaan dolar AS, antara lain repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan valuta asing untuk penyelenggaraan ibadah haji.
Bank Indonesia optimistis stabilitas rupiah tetap terjaga seiring penguatan bauran kebijakan moneter dan fundamental ekonomi domestik yang masih solid.





![[QUIZ] Dari Golongan Darahmu, Ini Ide Bisnis yang Cocok Untukmu](https://image.idntimes.com/post/20240228/lisanto-fjxa21l-ihw-unsplash-a5b9962b3fc7f3cf62c097d65b42212c.jpg)
![[QUIZ] Terlalu Boros Gak Sih Kamu Bulan Ini? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20240628/1000117011-b8b330fe5c3838de293668c1427e3f28.jpg)











