Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Anjlok, Biaya Hidup Melonjak: Dampak Langsung ke Masyarakat

Rupiah Anjlok, Biaya Hidup Melonjak: Dampak Langsung ke Masyarakat
ilustrasi dolar AS (pexels.com/pixabay)
Intinya Sih
  • Pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS membuat biaya impor naik, sehingga harga bahan baku dan produksi meningkat di berbagai sektor industri.
  • Kenaikan biaya produksi mendorong lonjakan harga barang konsumsi seperti minyak goreng, plastik, dan kemasan, yang akhirnya menaikkan biaya hidup masyarakat luas.
  • Pengusaha mulai menerapkan efisiensi seperti shrinkflation atau PHK untuk menekan beban produksi, sementara risiko perlambatan ekonomi nasional semakin besar tanpa langkah stabilisasi kuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp17.500 per dolar AS bukan hanya angka di layar kurs, tapi akan terasa langsung di kantong masyarakat. Dari harga plastik kemasan, minyak goreng, hingga baju dan elektronik, semuanya berpotensi naik dalam dua-tiga bulan ke depan.

"Ketika rupiah melemah, biaya impor naik. Bahan baku, mesin, plastik, dan kemasan yang sebagian besar masih impor otomatis menjadi lebih mahal. Ini membuat biaya produksi perusahaan naik,” ujar Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda kepada IDN Times, Rabu (14/5/2026).

NAIK JAM 8 BESOK YA) MAKASIH

1. Kenaikan biaya produksi akan diteruskan ke harga barang tingkat konsumen

Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)

Dia menilai, kenaikan biaya produksi ini akan diteruskan ke harga barang, sehingga masyarakat merasakan langsung dampaknya. Dia menambahkan, kenaikan biaya produksi ini akan diteruskan ke harga barang, sehingga masyarakat merasakan langsung dampaknya.

Contohnya, harga plastik dan kemasan yang semakin mahal membuat makanan kemasan dan minuman ikut naik. Minyak goreng kemasan sudah mulai naik harganya, dan pedagang kecil seperti penjual gorengan harus menyesuaikan harga jual agar tetap untung.

Barang-barang lain yang menggunakan plastik atau bahan impor juga akan terdampak, sehingga biaya hidup masyarakat secara umum meningkat.

"Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi. Akan ada kenaikan harga dalam 2-3 bulan ke depan. Yang sudah mulai adalah plastik karena barangnya langka, distribusi mahal, sekalinya dapet, nilai rupiahnya melemah. Akan semakin mahal harga plastik/kemasan ke depan," bebernya.

Jika harga minyak dunia stabil di 80 dolar AS per barel, tapi rupiah melemah dari Rp15.000 ke Rp16.000 per dolar AS. Artinya, biaya dalam rupiah naik dari Rp1.200.000 menjadi Rp1.280.000 per barel.

2. Dampak pelemahan rupiah akan kena ke seluruh lapisan masyarakat

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Di sisi lain, minyak goreng dalam kemasan sudah mulai meningkat harganya. Jadi dampak dari pelemahan nilai tukar ini bisa menyeluruh ke semua lapisan masyarakat. Mulai dari penjual gorengan hingga pengusaha terkena dampak negatif.

“Ada kemungkinan mereka melakukan shrinkflation, yaitu menurunkan ukuran produk agar harga tetap kompetitif, atau bahkan melakukan PHK. Ketika permintaan turun karena harga barang naik, risiko PHK akan semakin tinggi,” ujar Huda

Dia menambahkan, kondisi ini bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ekonomi akan melambat, dan rupiah akan sulit membaik. Saya khawatir kondisi ini akan memburuk dalam dua-tiga bulan ke depan jika tidak ada langkah stabilisasi yang kuat,” kata Huda.

3. Pengusaha berpotensi terapkan strategi efisiensi

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)
ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)

Huda menjelaskan, dampak lanjutannya adalah kenaikan biaya produksi bisa memaksa pengusaha menerapkan berbagai strategi efisiensi. Misalnya, sebungkus snack yang biasanya 100 gram bisa dipangkas menjadi 90 gram dengan harga sama, agar konsumen tidak terlalu terasa kenaikannya. Ketika permintaan menurun akibat harga barang naik, risiko PHK akan semakin tinggi.

“Ada kemungkinan mereka melakukan shrinkflation, yaitu mengecilkan ukuran produk agar harga tetap kompetitif, atau bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Misalnya, sebungkus snack yang biasanya 100 gram bisa dipangkas menjadi 90 gram dengan harga sama, agar konsumen tidak terlalu terasa kenaikannya. Ketika permintaan menurun akibat harga barang naik, risiko PHK akan semakin tinggi,” ujar Huda.

Dia menambahkan, kondisi ini juga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional karena berpotensi melambat, dan rupiah akan sulit menguat.

"Saya khawatir situasi ini bisa memburuk dalam dua hingga tiga bulan ke depan jika tidak ada langkah stabilisasi yang tegas,” katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Related Articles

See More