Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan besar setelah penyedia indeks global MSCI mengumumkan rencana untuk mempertimbangkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Pada Jumat (16/10/2026), IHSG anjlok 11,57 persen ke level 5.185,11, sebelum kembali dibuka melemah 4,31 persen ke level 4.961,88 pada Senin (19/10/2026). Gejolak ini membuat investor perlu mengevaluasi strategi investasi di tengah ketidakpastian pasar.
IHSG Anjlok, Kudu Borong Saham atau Justru Waspada?

- IHSG anjlok 11,57% pada 16 Oktober 2026 lalu kembali melemah 4,31% pada 19 Oktober, menyusul rencana MSCI meninjau klasifikasi Indonesia menjadi pasar standalone.
- Penurunan harga tidak otomatis berarti saham murah; investor perlu menilai laba, kondisi keuangan, prospek bisnis, dan valuasi seperti rasio P/E dibandingkan perusahaan serta industri sejenis.
- Di tengah volatilitas, pembelian bertahap dapat dipertimbangkan bila fundamental tetap kuat; keputusan beli, tahan, atau jual perlu disesuaikan dengan tujuan, kebutuhan dana, diversifikasi, dan batas risiko.
Penurunan tajam tersebut mungkin terlihat seperti kesempatan untuk membeli saham dengan harga lebih murah. Namun, tekanan pasar juga mencerminkan kekhawatiran investor terhadap transparansi dan aksesibilitas pasar modal Indonesia, yang menjadi perhatian MSCI. Sebelum memutuskan untuk serok saham atau menjual kepemilikan, kita perlu memahami penyebab penurunan, kualitas saham yang dipilih, dan risiko yang sanggup ditanggung.
1. Penurunan IHSG belum tentu membuat saham murah

ilustrasi pergerakan harga (unsplash.com/Maxim Hopman) Penurunan IHSG dapat menyeret harga saham dari berbagai sektor, termasuk perusahaan dengan kinerja keuangan yang relatif baik. Meski demikian, saham yang turun 10 persen belum tentu lebih murah secara valuasi dibandingkan saham yang hanya turun 3 persen. Kita tetap perlu menilai harga saham berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, kondisi keuangan, dan prospek bisnisnya.
Salah satu cara yang dapat digunakan adalah memeriksa rasio price-to-earnings (P/E), yaitu perbandingan harga saham dengan laba per saham. Rasio ini membantu kita menilai harga saham relatif terhadap keuntungan yang dihasilkan perusahaan, meskipun tetap perlu dibandingkan dengan perusahaan sejenis dan kondisi industrinya. Jika harga saham turun karena prospek bisnis memburuk, penurunan tersebut justru bisa menjadi tanda risiko yang perlu diperhatikan.
2. Rencana MSCI menambah tekanan pada pasar saham Indonesia

ilustrasi menganalisis data (magnific.com/pch.vector) Salah satu pemicu gejolak pasar saat ini adalah rencana MSCI untuk mempertimbangkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Perhatian MSCI berkaitan dengan transparansi struktur kepemilikan saham dan aksesibilitas pasar bagi investor global. Ketidakpastian mengenai keputusan tersebut dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Jika perubahan klasifikasi benar-benar diterapkan, sebagian dana investasi yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan berpotensi menyesuaikan portofolionya. Penyesuaian tersebut dapat meningkatkan tekanan jual pada saham-saham Indonesia yang masuk dalam indeks terkait. Namun, besarnya dampak terhadap arus modal belum dapat dipastikan karena bergantung pada keputusan final MSCI dan respons investor terhadap perkembangan reformasi pasar modal.
3. Strategi membeli saham di tengah koreksi pasar

ilustrasi grafik pergerakan harga (pexels.com/AlphaTradeZone) Strategi buy the dip atau membeli ketika harga saham turun dapat dipertimbangkan jika koreksi membuat valuasi perusahaan menjadi lebih menarik tanpa mengubah prospek bisnisnya secara mendasar. Investor juga dapat membagi pembelian menjadi beberapa tahap agar tidak menghabiskan seluruh dana investasi pada satu titik harga. Strategi ini membantu mengurangi ketergantungan pada waktu pembelian, tetapi tidak menjamin keuntungan jika harga saham terus melemah.
Sebelum membeli, kita perlu memastikan bahwa dana yang digunakan memang dialokasikan untuk investasi dan tidak dibutuhkan dalam waktu dekat. Kita juga sebaiknya menentukan alasan membeli saham, target investasi, serta batas risiko yang dapat diterima. Ketika penyebab penurunan belum jelas dan volatilitas masih tinggi, kita dapat menunggu perkembangan pasar sambil melakukan riset.
4. Menentukan waktu yang tepat untuk menjual saham

ilustrasi investasi saham (pexels.com/iam hogir) Keputusan menjual saham sebaiknya mempertimbangkan perubahan fundamental perusahaan, tujuan investasi, dan kemampuan kita menanggung risiko. Jika kinerja perusahaan memburuk, prospek bisnis berubah, atau alasan awal membeli saham tidak lagi relevan, kita perlu mengevaluasi kembali kepemilikan tersebut. Sebaliknya, penurunan IHSG dalam beberapa hari tidak otomatis menjadi alasan untuk menjual saham perusahaan yang fundamentalnya masih baik.
Kita juga perlu menghindari keputusan yang hanya didorong oleh rasa takut melihat portofolio memerah. Investor yang membutuhkan dana dalam waktu dekat mungkin perlu mengurangi eksposur terhadap saham berisiko tinggi, sedangkan investor jangka panjang dapat mengevaluasi apakah kepemilikannya masih sesuai dengan rencana awal. Dengan menjaga diversifikasi dan menetapkan batas risiko sejak awal, kita bisa mengambil keputusan secara lebih rasional tanpa harus menebak titik terendah pasar.
IHSG anjlok pada Oktober 2026 menunjukkan bahwa ketidakpastian pasar modal Indonesia dapat memicu perubahan sentimen investor secara tajam. Kondisi ini bisa membuka peluang membeli saham berkualitas pada valuasi yang lebih menarik, tetapi juga membawa risiko jika tekanan jual berlanjut. Maka dari itu, keputusan untuk membeli, menahan, atau menjual saham sebaiknya didasarkan pada analisis fundamental, tujuan investasi, dan kemampuan menanggung risiko, bukan sekadar mengikuti pergerakan IHSG.


















