Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IHSG Menguat Tipis Sepekan Ini meski Ada Peringatan S&P DJI
Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
  • IHSG naik tipis 0,14 persen sepekan ke 5.988 meski ada pembekuan indeks MSCI dan peringatan S&P DJI soal transparansi pasar modal Indonesia.
  • Investor asing mencatat net sell Rp1,74 triliun, sementara investor lokal mendominasi transaksi dengan porsi 62 persen dari total nilai perdagangan.
  • Sepuluh saham mencatat kenaikan lebih dari 20 persen, dengan NTBK memimpin penguatan hingga 112 persen selama sepekan perdagangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis sepekan terakhir ini, (6-10 Juli 2026), yakni 0,14 persen.

Berdasarkan data IDX Mobile yang dikutip Minggu, (12/7/2026), IHSG bergerak pada kisaran 5.840 - 5.988 selama sepekan ini.

Total volume perdagangan sepekan ini mencapai 102,44 miliar lembar saham, dengan nilai transaksi Rp51,34 triliun, dan frekuensi sebanyak 9,36 juta kali.

Kapitalisasi pasar bursa berakhir di angka Rp10,34 triliun pekan ini, naik tipis 0,51 persen dari pekan lalu di level Rp10,29 triliun.

1. IHSG diwarnai pembekuan indeks MSCI Inc dan peringatan S&P DJI pekan ini

MSCI/CNBC Indonesia

Pada Selasa, (7/7), MSCI Inc mengumumkan akan tetap melakukan pembekuan rebalancing saham Indonesia dalam tinjauan indeks Agustus mendatang.

MSCI memberlakukan pembekuan pada saham Indonesia yang tercatat dalam MSCI Global Investable Market Indexes (GIMI). Adapun kebijakan itu meliputi pembekuan seluruh peningkatan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS).

Lalu, MSCI juga tak akan melakukan penambahan indeks ke dalam MSCI Investable Market Indexes bagi saham Indonesia.

Saham Indonesia yang berada di Global Small Cap Index juga tak akan naik kelas ke Global Standard Index.

MSCI juga akan tetap menghapus saham-saham yang teridentifikasi oleh otoritas di Indonesia sebagai High Shareholding Concentration (HSC).

MSCI juga akan terus menggunakan data pengungkapan pemegang saham 1 persen untuk menyesuaikan perkiraan saham yang beredar atau free float jika diperlukan.

Menurut  Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan pengumuman MSCI terbaru itu sudah diantisipasi oleh pelaku pasar.

“Dengan demikian, keputusan mempertahankan freeze bukan lagi merupakan kejutan atau negative surprise bagi pelaku pasar,” kata Nafan Aji saat dihubungi IDN Times.

Oleh sebab itu, dia menilai dampak keputusan MSCI pada IHSG relatif terbatas.

Menurutnya, pergerakan IHSG saat ini lebih banyak ditopang oleh faktor domestik dan sentimen global yang sedang membaik, seperti ekspektasi penurunan suku bunga global, stabilnya fundamental ekonomi Indonesia, kinerja emiten yang relatif solid, serta meningkatnya minat investor terhadap saham-saham yang secara valuasi masih menarik.

“Faktor-faktor tersebut sementara mampu mengimbangi sentimen negatif dari MSCI,” tutur Nafan Aji.

Kemudian, keesokan harinya, S&P Dow Jones Indices (DJI) merilis laporan klasifikasi terbaru, yang mempertahankan pasar modal Indonesia pada status berkembang atau emerging.

Namun, Indonesia masuk dalam watchlist, dan ada potensi turun kasta menjadi Special Measures atau Frontier pada tinjauan 2027 mendatang.

Hal itu disebabkan concern S&P DJI terhadap transparansi kepemilikan saham di pasar saham Indonesia dan pedoman baru yang dikeluarkan oleh BEI untuk mengatasi masalah transparansi dan likuiditas terkait.

2. Modal asing Rp20,2 triliun cabut dari pasar modal RI

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Sepekan ini komposisi nilai transaksi di bursa didominasi oleh investor lokal, sebesar 62 persen, dan investor asing hanya 38 persen.

Dari nilainya, investor lokal memborong saham hingga Rp32,33 triliun, dan menjual saham Rp31,14 triliun.

Sementara itu, aksi jual investor asing lebih besar ketimbang aksi beli, senilai Rp20,2 triliun, dan aksi beli Rp18,46 triliun.

Dengan demikian, sepekan terakhir nilai jual bersih (net sell) asing mencapai Rp1,74 triliun. Namun, angka itu menurun dari pekan sebelumnya senilai Rp2,73.

3. BHAT hingga PTPW jadi saham top gainers

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

BEI melaporkan, sepekan ini ada 10 saham yang mencatatkan penguatan lebih dari 20 persen, dan menjadi saham-saham top gainers. Berikut daftarnya:

  1. PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK) menguat 112 persen ke Rp106

  2. PT Sekar Bumi Tbk (PT) SKBM menguat 37,21 persen ke Rp590

  3. PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) menguat 30,39 persen ke Rp266

  4. PT Trimitra Propertindo Tbk (LAND) menguat 26 persen ke Rp63

  5. PT Koka Indonesia Tbk (KOKA) menguat 25,93 persen ke Rp170

  6. PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) menguat 24,1 persen ke Rp103

  7. PT Bank Jago Tbk (ARTO) menguat 23,37 persen ke Rp1.135

  8. PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) menguat 22,95 persen ke Rp750

  9. PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI) menguat 20,77 persen ke Rp500

  10. PT Indo American Seafoods Tbk (ISEA) menguat 20 persen ke Rp72.

Curated For You

Editorial Team

Related Article