Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

320 Juta Pekerja Lepas, China Kini Hadapi Bom Waktu Dana Pensiunnya

320 Juta Pekerja Lepas, China Kini Hadapi Bom Waktu Dana Pensiunnya
ilustrasi pekerja di China sedang duduk (unsplash.com/Igor Sporynin)
Intinya Sih
  • Jumlah pekerja lepas di China melonjak hingga ratusan juta, mencerminkan pergeseran besar dari pekerjaan formal ke ekonomi gig akibat perlambatan ekonomi dan perubahan industri.
  • Ekonomi gig membantu banyak orang tetap berpenghasilan, namun rendahnya kepesertaan jaminan sosial membuat sistem pensiun nasional menghadapi tekanan serius di tengah penuaan penduduk.
  • Pemerintah China didorong untuk mereformasi sistem perlindungan sosial agar pekerja fleksibel lebih mudah ikut serta, menjaga keberlanjutan dana pensiun dan stabilitas ekonomi jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pasar kerja di China sedang mengalami perubahan yang cukup besar. Semakin banyak orang meninggalkan pekerjaan tetap dan beralih menjadi pekerja lepas atau gig worker karena lapangan kerja formal semakin sulit didapat.

Kondisi tersebut memang membantu jutaan orang tetap memiliki penghasilan di tengah perlambatan ekonomi dan perubahan industri. Namun, di balik pertumbuhan ekonomi gig, muncul persoalan lain yang tak kalah serius, yaitu ancaman terhadap keberlanjutan sistem pensiun nasional.

Jika semakin banyak pekerja gak ikut membayar iuran jaminan sosial, beban dana pensiun China dikhawatirkan akan semakin berat pada masa mendatang. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah pekerja saja belum cukup kalau gak diimbangi dengan sistem perlindungan sosial yang mampu menjamin kesejahteraan mereka di masa depan.

1. Jumlah pekerja lepas di China melonjak drastis

ilustrasi kurir makanan, food delivery, pesan antar makanan
ilustrasi kurir makanan, food delivery, pesan antar makanan (unsplash.com/Joshua Fernandez)

Perubahan terbesar terlihat dari pesatnya pertumbuhan jumlah pekerja fleksibel di China. Pusat Riset Bentuk Ketenagakerjaan Baru (China New Employment Forms Research Center) memperkirakan jumlah pekerja tanpa kontrak penuh waktu mencapai sekitar 320 juta orang pada 2026. Jumlah itu naik tajam dibandingkan sekitar 280 juta orang pada 2025 atau setara dengan sekitar 44 persen dari seluruh tenaga kerja di China.

Fenomena tersebut bukan hanya dialami pekerja dengan pendidikan rendah. Banyak lulusan universitas hingga mantan karyawan sektor teknologi kini memilih menjadi pengemudi transportasi online, kurir makanan, maupun pekerja jasa digital. Menurut pakar antropologi budaya dari Hong Kong Polytechnic University, Yang Zhan, kondisi ini menunjukkan bahwa pekerjaan fleksibel kini telah meluas ke kalangan kelas menengah dan lulusan perguruan tinggi yang sebelumnya lebih banyak bekerja di sektor formal.

Perubahan ini terjadi karena sejumlah sektor yang sebelumnya menyerap banyak tenaga kerja mulai melemah. Krisis properti mengurangi kebutuhan pekerja konstruksi, sementara perusahaan manufaktur semakin banyak menerapkan otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, persaingan bisnis, perang harga, dan lemahnya permintaan domestik membuat perusahaan lebih berhati-hati membuka lowongan kerja baru.

2. Ekonomi gig menjadi penyelamat, tapi menyimpan risiko

ilustrasi dana pensiun
ilustrasi dana pensiun (magnific.com/rawpixel.com)

Bagi banyak orang, gig economy menjadi jalan keluar ketika pekerjaan tetap sulit diperoleh. Walaupun pendapatannya sering kali gak menentu, pekerjaan ini tetap mampu membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Gak heran jika sektor tersebut kini menjadi salah satu penyangga utama pasar tenaga kerja China.

Namun, pekerjaan fleksibel juga memiliki kelemahan yang cukup besar. Sebagian besar platform digital gak mewajibkan pekerjanya mengikuti program jaminan sosial sebagaimana pekerja formal. Akibatnya, banyak pekerja memilih mengutamakan penghasilan saat ini dibandingkan menyisihkan sebagian pendapatan untuk dana pensiun maupun asuransi kesehatan.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) juga menilai bahwa pertumbuhan ekonomi platform menuntut negara-negara untuk memperluas perlindungan sosial bagi pekerja dengan pola kerja baru. Dalam laporannya, ILO menjelaskan bahwa berbagai negara, termasuk China, mulai mengembangkan kebijakan agar pekerja fleksibel lebih mudah memperoleh akses terhadap jaminan sosial dan perlindungan kerja. Langkah tersebut dinilai penting karena jumlah pekerja platform terus meningkat setiap tahun.

3. Dana pensiun China menghadapi tekanan yang semakin besar

ilustrasi kurir makanan, food delivery, pesan antar makanan
ilustrasi kurir makanan, food delivery, pesan antar makanan (unsplash.com/Van Tien Le)

Semakin banyak pekerja yang berada di luar sistem ketenagakerjaan formal membuat tantangan baru bagi pemerintah China. Sebab, sistem pensiun sangat bergantung pada iuran dari pekerja aktif untuk membiayai manfaat bagi para pensiunan. Ketika jumlah peserta yang membayar iuran gak bertambah secepat pertumbuhan tenaga kerja, keseimbangan dana pensiun pun menjadi semakin rentan.

Laporan OECD menjelaskan bahwa sistem pensiun China terdiri dari beberapa lapisan, mulai dari pensiun dasar hingga skema tambahan yang berkaitan dengan pekerjaan. Meski cakupan sistem tersebut terus diperluas dalam beberapa tahun terakhir, pekerja fleksibel masih menghadapi tantangan untuk berpartisipasi secara penuh karena pendapatan mereka cenderung gak tetap dan hubungan kerjanya lebih dinamis. Kondisi tersebut membuat perluasan kepesertaan menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar pemerintah.

Kekhawatiran itu semakin besar karena China juga menghadapi penuaan penduduk. Laporan Chinese Academy of Social Sciences sebelumnya telah memperingatkan bahwa dana pensiun nasional berpotensi terkuras apabila reformasi gak berjalan efektif. Pemerintah memang telah mengambil langkah seperti menaikkan usia pensiun secara bertahap, tapi banyak ekonom menilai kebijakan tersebut tetap perlu diiringi dengan peningkatan jumlah pekerja yang aktif membayar iuran jaminan sosial.

4. Banyak pekerja belum masuk sistem jaminan sosial

ilustrasi freelancer
ilustrasi freelancer (pexels.com/Tatiana Syrikova)

Besarnya jumlah pekerja fleksibel ternyata belum diikuti dengan tingginya kepesertaan dalam program jaminan sosial. Laporan pemerintah China pada Desember 2025 menunjukkan bahwa hingga akhir 2024 hanya sekitar 70,6 juta pekerja fleksibel yang terdaftar dalam skema pensiun pekerja perkotaan. Angka tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan total pekerja fleksibel yang kini mencapai ratusan juta orang. Kondisi ini menunjukkan masih banyak pekerja yang belum memiliki perlindungan memadai saat memasuki usia pensiun.

Reuters juga melaporkan bahwa sebagian besar pekerja gig lebih memilih menyimpan uang sendiri daripada membayar iuran pensiun. Ada yang merasa manfaat pensiun yang akan diterima gak sebanding dengan biaya iuran, sementara sebagian lainnya menganggap kebutuhan hidup saat ini lebih mendesak dibandingkan mempersiapkan masa tua. Akibatnya, kepesertaan dalam berbagai program jaminan sosial masih tergolong rendah.

Temuan tersebut sejalan dengan laporan International Labour Organization (ILO) yang menyebutkan bahwa pekerja dalam bentuk pekerjaan baru, termasuk pekerja platform digital, masih menghadapi berbagai hambatan untuk memperoleh perlindungan sosial yang setara dengan pekerja formal. ILO menjelaskan bahwa banyak negara kini berupaya menyesuaikan sistem jaminan sosial agar lebih fleksibel dan mampu menjangkau pekerja dengan pola kerja yang terus berubah. Upaya itu dinilai penting agar perlindungan sosial gak tertinggal dibanding perkembangan pasar tenaga kerja.

Laporan ILO juga menunjukkan bahwa China termasuk negara yang mulai mengembangkan kebijakan untuk memperluas cakupan perlindungan sosial bagi pekerja fleksibel. Meski begitu, implementasinya masih membutuhkan waktu karena karakteristik pekerjaan gig yang memiliki pendapatan tidak tetap dan hubungan kerja yang beragam. Tantangan inilah yang membuat perluasan kepesertaan menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah dalam beberapa tahun ke depan.

5. Reformasi perlindungan sosial jadi kunci masa depan

ilustrasi China
ilustrasi China (unsplash.com/Nuno Alberto)

Pertumbuhan ekonomi gig kemungkinan masih akan terus berlanjut seiring berkembangnya platform digital dan perubahan kebutuhan dunia kerja. Model pekerjaan ini menawarkan fleksibilitas yang menarik bagi banyak orang, terutama ketika lapangan kerja formal belum pulih sepenuhnya. Namun, fleksibilitas tersebut juga perlu diimbangi dengan sistem perlindungan sosial yang mampu memberikan rasa aman bagi para pekerja.

Ekonom utama China dari Nomura, Ting Lu, menjelaskan bahwa prioritas pemerintah seharusnya bukan sekadar memperluas lapangan kerja, tapi juga mempermudah pekerja fleksibel bergabung ke dalam sistem jaminan sosial. Menurutnya, ketika masyarakat merasa masa depannya lebih terjamin, mereka cenderung gak menyimpan uang secara berlebihan. Dampaknya, konsumsi rumah tangga dapat meningkat dan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan penilaian OECD yang menekankan pentingnya memperluas cakupan sistem pensiun agar mampu mengikuti perubahan struktur pasar tenaga kerja. Semakin banyak pekerja yang terlindungi, semakin kuat pula fondasi sistem pensiun dalam menghadapi penuaan penduduk. Reformasi bukan hanya menyangkut besarnya manfaat pensiun, tapi juga bagaimana membuat pekerja dengan status kerja fleksibel dapat berpartisipasi secara lebih mudah.

Bagi China, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi digital dan keberlanjutan sistem kesejahteraan akan menjadi tantangan besar. Pemerintah perlu memastikan platform digital tetap mampu menciptakan lapangan kerja, tanpa mengabaikan perlindungan sosial bagi jutaan pekerja yang bergantung pada sektor tersebut. Keberhasilan menemukan titik keseimbangan itu akan sangat menentukan kondisi pasar tenaga kerja dan stabilitas ekonomi China pada masa mendatang.

Ledakan jumlah pekerja lepas menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja China sedang mengalami transformasi besar. Di satu sisi, ekonomi gig berhasil menjadi penyelamat bagi jutaan orang yang kesulitan memperoleh pekerjaan tetap. Di sisi lain, rendahnya kepesertaan dalam program pensiun dan jaminan sosial mulai memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan sistem kesejahteraan negara.

Data dari Reuters, OECD, dan ILO sama-sama menunjukkan bahwa tantangan tersebut gak bisa diselesaikan hanya dengan menciptakan lebih banyak pekerjaan. Pemerintah juga perlu memastikan pekerja fleksibel memiliki akses yang lebih mudah terhadap perlindungan sosial sehingga mereka gak harus memilih antara memenuhi kebutuhan hari ini atau mengamankan masa depan. Dengan reformasi yang tepat, ekonomi gig dapat tetap menjadi mesin pencipta lapangan kerja tanpa mengorbankan ketahanan dana pensiun China di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More