Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Generasi Muda Jepang Rela Berhemat demi Investasi Masa Depan

5 Fakta Generasi Muda Jepang Rela Berhemat demi Investasi Masa Depan
ilustrasi Jepang (pexels.com/Lala Azizli)
Intinya Sih
  • Generasi muda Jepang kini lebih memilih berinvestasi daripada gaya hidup konsumtif, rela berhemat demi membangun aset jangka panjang dan keamanan finansial di masa depan.
  • Program NISA dengan fasilitas bebas pajak mendorong lonjakan jumlah investor muda, menjadikannya sarana utama untuk menumbuhkan kekayaan secara bertahap di Jepang.
  • Inflasi dan pengaruh media sosial mempercepat pergeseran budaya keuangan, meski muncul fenomena 'NISA poverty' akibat sebagian orang terlalu menekan pengeluaran demi investasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Dalam beberapa tahun terakhir, cara generasi muda Jepang mengelola uang mengalami perubahan yang cukup mencolok. Jika dulu masyarakat Jepang identik dengan kebiasaan menyimpan uang di rekening bank, kini semakin banyak anak muda yang memilih berinvestasi demi mengejar pertumbuhan aset jangka panjang.

Perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari inflasi yang terus bertahan, kenaikan pasar saham, hingga kekhawatiran terhadap kondisi keuangan saat pensiun. Pemerintah Jepang pun ikut mendorong perubahan tersebut melalui program investasi bebas pajak bernama NISA (Nippon Individual Savings Account) yang semakin diminati masyarakat.

Data terbaru dari Financial Services Agency (FSA) menunjukkan jumlah akun dan nilai aset NISA terus meningkat pesat, menandakan investasi telah menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda Jepang. Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa mempersiapkan masa depan finansial sebaiknya dimulai sedini mungkin sesuai kemampuan dan tujuan keuanganmu.

1. Banyak anak muda rela mengurangi pengeluaran demi berinvestasi

ilustrasi investasi
ilustrasi investasi (magnific.com/freepik)

Bagi sebagian generasi muda Jepang, investasi kini menjadi prioritas dibanding menikmati gaya hidup konsumtif. Gak sedikit yang mulai mengurangi pengeluaran untuk makan di luar, berbelanja, hingga menunda liburan agar bisa menyisihkan lebih banyak uang setiap bulan. Mereka menganggap pengorbanan tersebut sebagai langkah penting untuk mencapai kondisi finansial yang lebih baik di masa depan.

Rio Taniguchi, seorang ibu muda berusia 27 tahun, menjadi salah satu contoh perubahan tersebut. Setelah mempelajari investasi melalui media sosial, ia mulai rutin menyisihkan sekitar 20.000 yen setiap bulan ke akun NISA. Demi mempertahankan jumlah investasinya, ia dan keluarganya mengurangi kebiasaan makan di restoran cepat saji setiap akhir pekan serta menunda rencana bepergian supaya dana pendidikan anak-anaknya tetap aman.

2. NISA menjadi pilihan utama untuk mempersiapkan masa depan

ilustrasi Jepang
ilustrasi Jepang (unsplash.com/Claudio Guglieri)

Perubahan pola pikir generasi muda gak lepas dari semakin populernya program Nippon Individual Savings Account atau NISA. Program yang diperkenalkan sejak 2014 ini menawarkan fasilitas investasi bebas pajak dan diperbarui pada 2024 dengan batas investasi yang lebih besar serta insentif yang lebih menarik untuk mendorong investasi jangka panjang. Langkah tersebut membuat semakin banyak masyarakat berani mengalihkan tabungan mereka ke berbagai instrumen investasi.

Data Financial Services Agency menunjukkan jumlah akun NISA melonjak dari sekitar 4,92 juta saat pertama kali diluncurkan menjadi sekitar 28,26 juta akun pada akhir 2025. Nilai aset yang tersimpan dalam NISA juga meningkat drastis dari sekitar 35 triliun yen pada 2023 menjadi sekitar 71 triliun yen pada 2025. Bahkan, hampir 49 persen dari seluruh pembelian investasi melalui NISA berasal dari investor berusia 40 tahun ke bawah, menunjukkan dominasi generasi muda dalam tren investasi ini.

3. Inflasi membuat menyimpan uang di bank terasa kurang menguntungkan

ilustrasi inflasi
ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Imajiku Stock)

Selama puluhan tahun Jepang dikenal sebagai negara dengan inflasi yang sangat rendah sehingga masyarakat merasa aman menyimpan uang di rekening bank. Namun, kondisi tersebut mulai berubah ketika inflasi bertahan di atas target Bank of Japan. Kenaikan harga barang membuat nilai tabungan semakin tergerus apabila hanya disimpan tanpa diinvestasikan.

Sejumlah pengamat menilai perubahan kondisi ekonomi inilah yang mendorong semakin banyak anak muda beralih ke investasi. Peneliti senior Dai-ichi Life Research Institute, Misa Tei, menjelaskan bahwa semakin banyak masyarakat yang khawatir biaya hidup akan terus meningkat sehingga mereka merasa perlu mempersiapkan aset sejak usia muda. Reuters juga melaporkan bahwa inflasi menjadi salah satu alasan utama masyarakat Jepang mulai memindahkan dana dari tabungan ke pasar investasi melalui NISA.

4. Media sosial memunculkan rasa takut tertinggal atau FOMO

ilustrasi pekerja kantoran sedang lihat ponsel
ilustrasi pekerja kantoran sedang lihat ponsel (unsplash.com/Sava Bobov)

Media sosial ternyata memiliki pengaruh besar terhadap meningkatnya minat investasi di Jepang. Banyak pengguna membagikan perkembangan portofolio mereka, mulai dari jumlah investasi hingga keuntungan yang berhasil diperoleh. Konten seperti ini membuat investasi terasa lebih mudah dipahami sekaligus menarik perhatian anak muda yang sebelumnya belum pernah berinvestasi.

Di sisi lain, kondisi tersebut memunculkan fenomena fear of missing out atau FOMO. Banyak orang merasa tertinggal ketika melihat teman atau kreator konten berhasil memperoleh keuntungan dari investasi. Misa Tei menjelaskan bahwa unggahan mengenai pertumbuhan portofolio investasi dapat memengaruhi psikologis seseorang hingga muncul dorongan untuk ikut berinvestasi supaya gak merasa kalah dari orang lain.

5. Tren investasi juga melahirkan fenomena "NISA poverty"

ilustrasi toko di Jepang
ilustrasi toko di Jepang (unsplash.com/Martijn Baudoin)

Di balik meningkatnya minat investasi, muncul pula istilah baru yang dikenal sebagai NISA poverty. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang terlalu berhemat dalam kehidupan sehari-hari demi memaksimalkan dana investasi mereka. Walaupun belum memiliki definisi resmi, fenomena tersebut semakin sering dibahas seiring melonjaknya jumlah investor baru.

Fenomena ini bahkan sempat menjadi perhatian di parlemen Jepang. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menyampaikan bahwa tujuan pemerintah menghadirkan NISA bukan agar masyarakat mengorbankan kualitas hidup hanya demi terus menambah investasi. Pemerintah berharap masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil membangun kekayaan secara bertahap melalui investasi jangka panjang.

Perubahan cara generasi muda Jepang mengelola keuangan menunjukkan bahwa investasi kini dipandang sebagai kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Inflasi, ketidakpastian kondisi pensiun, serta kemudahan memperoleh informasi melalui media sosial membuat semakin banyak anak muda rela mengurangi pengeluaran demi membangun aset jangka panjang.

Didukung oleh program NISA yang terus berkembang, budaya investasi di Jepang juga mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, fenomena NISA poverty menjadi pengingat bahwa investasi tetap perlu dilakukan secara seimbang agar kamu bisa menikmati kehidupan saat ini tanpa mengorbankan tujuan finansial di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More