Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Setiap Ada Demo, IHSG yang Merah Berubah Jadi Hijau?

4 min read
Kenapa Setiap Ada Demo, IHSG yang Merah Berubah Jadi Hijau?
ilustrasi demo (unsplash.com/Prabarisma Dewantara)
  • IHSG dapat berbalik hijau saat demo ketika kekhawatiran investor mereda dan tekanan jual berkurang, meski ketidakpastian politik serta aksi jual asing masih membayangi.

  • Aksi buy the dip mendorong pembelian saham murah dan penguatan indeks, tetapi harga tetap berisiko turun bila situasi memburuk; pada 29 Agustus 2025, IHSG sempat anjlok 2,27 persen.

  • Kenaikan saham berkapitalisasi besar bisa mengangkat IHSG meski banyak saham melemah; volatilitas tinggi membuat indeks mudah berubah arah, sehingga perlu memantau arus asing, rupiah, dan transaksi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Situasi demonstrasi sering ikut menjadi perhatian investor di pasar saham. Ketika aksi massa berlangsung, IHSG terkadang melemah pada awal perdagangan sebelum akhirnya berbalik menguat. Perubahan ini bisa membingungkan investor yang mengira gejolak politik akan selalu membuat pasar saham turun.

Kendati demikian, indeks yang menghijau tidak selalu berarti kondisi pasar sudah aman atau investor tidak lagi khawatir. Lalu, kenapa setiap ada demo, IHSG yang merah berubah jadi hijau? Simak faktor-faktor dari hal tersebut sekaligus risiko yang perlu dihadapi.

  1. 1. Kekhawatiran investor mulai mereda, tetapi belum hilang

    ilustrasi investor
    ilustrasi investor (unsplash.com/Austin Distel)

    Pasar saham bisa tertekan ketika demonstrasi memicu ketidakpastian politik dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi. Jika situasi mulai terkendali atau risiko gangguan dinilai menurun, tekanan jual dapat berkurang dan IHSG berpeluang menguat kembali. Namun, selama ketidakpastian belum benar-benar selesai, sentimen negatif masih bisa muncul dan menekan pasar lagi.

    Contohnya, pada 2 September 2025, IHSG ditutup naik 0,85 persen ke level 7.801 di tengah gejolak politik akibat demonstrasi. Penguatan tersebut menunjukkan bahwa tekanan politik tidak selalu membuat indeks terus melemah sepanjang perdagangan. Meski begitu, investor asing sebelumnya sempat mencatatkan jual bersih lebih dari Rp2 triliun, menandakan kekhawatiran pasar belum sepenuhnya hilang.

  2. 2. Investor membeli saham yang turun, tetapi risikonya tetap ada

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (unsplash.com/PiggyBank)

    Sebagian investor memanfaatkan penurunan harga saham untuk membeli pada harga lebih rendah, strategi yang dikenal sebagai buy the dip. Aksi beli ini bisa mendorong IHSG kembali naik meskipun kondisi politik dan ekonomi belum membaik secara signifikan. Artinya, penguatan indeks bisa terjadi karena peluang jangka pendek, bukan semata-mata karena risiko sudah berakhir.

    Strategi tersebut juga tidak selalu menghasilkan keuntungan karena harga saham masih berpotensi turun jika situasi memburuk. Pada 29 Agustus 2025, misalnya, IHSG anjlok 2,27 persen pada penutupan sesi pertama, dengan 662 saham melemah dan hanya 89 saham menguat. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan pasar saat demonstrasi bisa cukup luas dan tidak selalu cepat pulih hanya karena sebagian investor mulai membeli saham.

  3. 3. Saham unggulan bisa mengangkat indeks, meski banyak risiko belum selesai

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (unsplash.com/Cedrik Wesche)

    IHSG merupakan indeks gabungan sehingga pergerakannya sangat dipengaruhi oleh perubahan harga berbagai saham dengan bobot yang berbeda. Kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar dapat membantu mengangkat indeks, meskipun sebagian saham lain masih melemah. Karena itu, warna hijau pada IHSG tidak otomatis mencerminkan kondisi seluruh saham atau seluruh sektor.

    Risiko lain juga bisa terlihat dari pelemahan rupiah, aksi jual investor asing, dan ketidakpastian pasar global. Pada perdagangan 29 Agustus 2025, pelemahan rupiah dan sentimen negatif dari situasi politik turut disebut sebagai faktor yang menekan IHSG. Investor sebaiknya tidak hanya melihat indeks yang menghijau, tetapi juga memeriksa jumlah saham yang naik dan turun, arus dana asing, serta nilai transaksi untuk memahami kondisi pasar dengan lebih utuh.

  4. 4. Volatilitas tinggi membuat IHSG mudah berubah arah

    ilustrasi investasi saham
    ilustrasi investasi saham (pexels.com/Anna Nekrashevich)

    Ketidakpastian selama demonstrasi bisa membuat investor bereaksi cepat terhadap kabar terbaru, mulai dari situasi di lapangan hingga pernyataan pemerintah. Akibatnya, tekanan jual dan aksi beli dapat terjadi bergantian dalam waktu singkat sehingga IHSG bergerak naik-turun sepanjang sesi perdagangan. Kondisi ini disebut volatilitas, yaitu tingkat besar-kecilnya perubahan harga atau indeks dalam periode tertentu.

    IHSG yang sempat merah lalu berubah hijau belum tentu menunjukkan tren kenaikan yang kuat karena indeks masih bisa berbalik melemah menjelang penutupan. Pergerakan yang tajam juga meningkatkan risiko bagi investor jangka pendek, terutama jika keputusan jual beli hanya didasarkan pada perubahan indeks sesaat. Karena itu, penting untuk membedakan kenaikan sementara selama perdagangan dengan penguatan yang didukung oleh sentimen dan kondisi pasar yang lebih stabil.

    IHSG yang merah berubah jadi hijau saat demo berlangsung bukan jaminan bahwa pasar sudah pulih sepenuhnya. Penguatan bisa terjadi di tengah risiko yang masih ada, sehingga pergerakan satu hari belum cukup untuk menggambarkan kondisi pasar secara keseluruhan. Menurut kamu, apakah IHSG yang menghijau saat demo cukup untuk menunjukkan pasar sudah aman?

    Referensi

    "UGM FEB Professor: IHSG Plunge Signals a Crisis of Confidence in the Capital Market."UGM. Diakses pada Oktober 2026.

    "ITS Expert: IHSG Decline Has Significant Impact on Indonesian Economy." ITS. Diakses pada Oktober 2026.

    "Menakar Dampak Aksi Demo terhadap IHSG, Gejolak Sesaat atau Risiko Pasar?" IDX Channel. Diakses pada Oktober 2026.

    "Buying the Dip: How to Avoid Falling Knives." Investopedia. Diakses pada Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More