potret bendera Amerika Serikat (AS) (unsplash.com/Karl Callwood)
Kesepakatan ART memuat komitmen impor sejumlah produk pertanian AS, seperti beras, jagung, kedelai, gandum, daging sapi, daging ayam, hingga buah-buahan. Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap petani lokal dan ketahanan pangan.
"Impor produk pertanian, seperti gandum, kedelai, daging sapi, dari AS akan meningkat, dan dapat mempengaruhi keseimbangan harga di pasar domestik, dan tentunya akan berdampak pada petani atau peternak lokal. Hal ini kontradiktif dengan upaya pemerintah (Asta Cita) dalam mendorong ketahanan dan kemandirian pangan nasional, dan sangat berisiko pada defisit neraca perdagangan," tutur Direktur Program Indef, Eisha M Rachbini dalam catatannya, Minggu (22/2).
Menanggapi berbagai kekhawatiran tersebut, pemerintah menyatakan, setiap komitmen impor dalam ART memiliki batasan volume dan peruntukan yang jelas. Untuk beras, alokasi ditetapkan 1.000 ton dengan klasifikasi khusus dan bergantung pada kebutuhan domestik.
Pemerintah juga menyebut, dalam lima tahun terakhir tidak terdapat impor beras dari AS, sehingga komitmen dalam ART diposisikan sebagai akses terbatas dan bukan impor massal. Dengan proyeksi produksi 34,76 juta ton dan kebutuhan konsumsi 31,1 juta ton pada 2026, neraca beras nasional tetap dalam posisi surplus berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Berapa jumlah impor beras dari AS yang disepakati? | Pemerintah menyetujui alokasi impor beras klasifikasi khusus asal AS sebanyak 1.000 ton. |
Apakah impor tersebut berdampak pada produksi nasional? | Porsi 1.000 ton hanya sekitar 0,00003 persen dari produksi nasional 34,69 juta ton pada 2025. |
Berapa proyeksi produksi beras Indonesia pada 2026? | Produksi beras 2026 diperkirakan mencapai 34,76 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 31,1 juta ton. |