ilustrasi ekspor (IDN Times/Arief Rahmat)
Dua MoU yang diteken melibatkan perusahaan dari Indonesia dan Filipina dalam skema perdagangan tripartit.
MoU pertama melibatkan Asian Pyrochem Technologies dari Filipina, PT Trade Barter Indonesia (TBI), dan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia (AGTI). Ketiga pihak sepakat melakukan pertukaran serat abaka mentah dengan produk tekstil jadi senilai 50 juta dolar AS per tahun.
"Jadi kita impor abaka, abaka itu serat abaka yang pohonnya kayak pohon pisang ya. Serat abaka ini untuk bahan baku tekstil. Kita impor abaka kemudian diolah dari perusahaan anggota AGTI, diolah menjadi produk tekstil dan nanti produk tekstilnya diekspor ke Filipina," kata Busan.
Sementara itu, MoU kedua mempertemukan Asian Pyrochem Technologies, PT Trade Barter Indonesia, dan PT Krakatau Global Trading. Dalam kerja sama tersebut, produk baja Indonesia akan ditukar dengan bijih besi dari Filipina untuk memenuhi kebutuhan produksi Krakatau Steel dengan nilai mencapai 300 juta dolar AS per tahun.
"Yang kedua kita impor iron ore untuk bahan baku baja. Nah setelah itu, setelah diproses dari grup Krakatau Steel, kemudian bajanya kita ekspor ke Filipina. Ini sistem barter, jadi kita tidak menggunakan mata uang dolar karena nanti masing-masing negara mempunyai agen yang memfasilitasi," tutur Busan.
Busan menambahkan, kedua proyek tersebut menunjukkan komitmen pelaku usaha Indonesia dan Filipina untuk menghadirkan solusi perdagangan yang inovatif dan saling menguntungkan
" Kami berharap kerja sama ini dapat memperkuat rantai pasok industri dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas di masa mendatang," ujar dia.