Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Kebiasaan Belanja yang Diam-diam Dipicu oleh Stres, Hindari!

4 Kebiasaan Belanja yang Diam-diam Dipicu oleh Stres, Hindari!
ilustrasi belanja (pexels.com/Angela Roma)
Share Article

Belanja sering menjadi cara sederhana untuk memperbaiki suasana hati setelah menjalani hari yang melelahkan. Tidak sedikit orang merasa lebih tenang atau bahagia setelah membeli sesuatu, meskipun barang tersebut sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Jika hanya sesekali, kebiasaan ini mungkin tidak menjadi masalah.

Namun, ketika belanja mulai dijadikan pelarian setiap kali menghadapi tekanan emosional, dampaknya bisa memengaruhi kondisi keuangan maupun kesehatan mental. Fenomena ini dikenal sebagai emotional spending dan semakin sering ditemukan dalam kehidupan modern. Berikut empat kebiasaan belanja yang tanpa disadari sering dipicu oleh stres.

1. Berbelanja secara impulsif untuk memperbaiki suasana hati

ilustrasi berbelanja
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Stres dapat membuat otak mencari cara tercepat untuk memperoleh rasa senang, salah satunya melalui aktivitas berbelanja. Ketika membeli barang yang diinginkan, tubuh melepaskan dopamin yang memberikan perasaan puas dan menyenangkan dalam waktu singkat. Akibatnya, seseorang lebih mudah membeli barang tanpa mempertimbangkan apakah benar benar membutuhkannya atau tidak.

Masalahnya, efek tersebut biasanya hanya berlangsung sementara sehingga rasa stres dapat kembali muncul setelah beberapa waktu. Tidak sedikit orang akhirnya mengulangi kebiasaan yang sama setiap kali menghadapi tekanan. Jika terus berlanjut, pengeluaran impulsif dapat mengganggu anggaran bulanan dan memicu penyesalan setelah transaksi selesai.

2. Terlalu mudah tergoda promo saat kondisi emosional

ilustrasi berbelanja
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Max Fischer)

Saat sedang stres, kemampuan mengambil keputusan yang rasional cenderung menurun dibandingkan kondisi normal. Promosi seperti potongan harga, flash sale, atau penawaran dengan batas waktu sering terasa jauh lebih menarik karena memberikan kesan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Padahal, diskon tidak selalu berarti kita benar benar membutuhkan barang tersebut.

Banyak orang akhirnya membeli sesuatu hanya karena takut kehilangan kesempatan mendapatkan harga murah. Pola pikir seperti ini membuat keputusan lebih didasarkan pada emosi daripada kebutuhan yang sebenarnya. Oleh sebab itu, memberi jeda sebelum melakukan pembayaran dapat menjadi cara sederhana untuk mengurangi pembelian yang dipicu stres.

3. Sering membuka aplikasi belanja tanpa tujuan yang jelas

ilustrasi belanja online
ilustrasi belanja online (pexels.com/Negative Space)

Kebiasaan membuka aplikasi belanja ketika merasa bosan, cemas, atau lelah dapat menjadi tanda awal emotional spending. Aktivitas melihat berbagai produk memberikan hiburan singkat sekaligus memunculkan keinginan untuk memiliki barang baru. Semakin lama kita menjelajahi katalog produk, semakin besar pula kemungkinan melakukan pembelian yang sebelumnya tidak direncanakan.

Perilaku ini semakin diperkuat oleh algoritma yang terus menampilkan rekomendasi sesuai minat pengguna. Akibatnya, kita lebih mudah tergoda untuk menambahkan barang ke keranjang meskipun awalnya hanya ingin melihat-lihat. Membatasi waktu menggunakan aplikasi belanja dapat membantu mengurangi dorongan tersebut.

4. Menganggap belanja sebagai bentuk pelarian dari masalah

ilustrasi berbelanja
ilustrasi berbelanja (magnific.com/freepik)

Sebagian orang menjadikan belanja sebagai cara menghindari perasaan sedih, kecewa, atau tekanan dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Aktivitas membeli barang memang dapat mengalihkan perhatian dari masalah untuk sementara waktu. Namun, sumber stres yang sebenarnya tetap tidak terselesaikan sehingga perasaan negatif berpotensi muncul kembali.

Ketika pola ini terus berulang, belanja dapat berubah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan karena selalu dikaitkan dengan kenyamanan emosional. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memperburuk tekanan akibat munculnya masalah keuangan baru. Mengelola stres melalui olahraga, berbicara dengan orang terdekat, atau menjalani hobi dapat menjadi pilihan yang lebih sehat.

Belanja memang dapat memberikan rasa senang, tetapi sebaiknya tidak dijadikan solusi utama untuk menghadapi stres. Mengenali kebiasaan yang dipicu oleh emosi membantu kita mengambil keputusan keuangan dengan lebih tenang dan rasional. Dengan memahami pemicunya, kita dapat menjaga kesehatan finansial sekaligus mencari cara yang lebih positif untuk mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More