Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Insentif BI Tarik Modal Asing 9,9 Miliar Dolar AS
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil RDG BI, Rabu (21/10/2026). (IDN Times/Triyan)
  • Bank Indonesia mencatat insentif swap, DNDF beli lindung nilai, dan LCT menarik modal asing 9,9 miliar dolar AS sejak Juni hingga 20 Oktober 2026.
  • BI mengoptimalkan instrumen moneter dan pendalaman pasar uang-valas untuk menjaga rupiah serta daya tarik aset domestik, di tengah pelemahan rupiah ke Rp17.985 per dolar AS.
  • Investasi portofolio asing mencatat net outflow 80 juta dolar AS pada kuartal III, tetapi berbalik net inflow 660 juta dolar AS pada kuartal IV hingga 19 Oktober.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) mencatat aliran masuk modal asing sebesar 9,9 miliar dolar AS sejak Juni hingga 20 Oktober 2026 melalui kebijakan insentif untuk transaksi swap, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) beli lindung nilai konvensional, serta Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, insentif tersebut menjadi salah satu upaya BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing di pasar keuangan domestik.

“Sejak diberlakukan pada Juni 2026, kebijakan ini berhasil menarik aliran masuk modal asing sebesar 9,9 miliar dolar AS per 20 Oktober 2026,” ujar Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/10/2026).

1. BI optimalkan seluruh operasi moneter

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)

Destry menegaskan, BI akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tersebut dilakukan, antara lain dengan memperkuat kebijakan insentif dan mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).

"Insentif yang diberikan BI mencakup transaksi swap dan pembelian Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk lindung nilai kepada BI. Selain itu, BI juga memberikan insentif untuk transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra," jelasnya.

Melalui kebijakan tersebut, BI berupaya menjaga daya tarik imbal hasil aset dalam rupiah, sehingga dapat mendorong aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.

2. Rupiah masih melemah terhadap dolar AS

ilustrasi rupiah, mata uang Indonesia (vecteezy.com/Ridwan Saputra)

Meski demikian, rupiah masih tertekan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). BI mencatat, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026. Posisi tersebut melemah 0,61 persen dibandingkan dengan akhir September 2026.

"Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham," ungkapnya.

.Mata uang Garuda ditutup pada level Rp18.022 per dolar AS usai Bank Indonesia (BI) menahan suku bungsa acuan (BI rate) pada level 5,75 persen. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah 30 poin atau 0,l7 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pada Selasa (20/10), rupiah ditutup menguat 54 poin atau 0,30 persen ke Rp17.992 per dolar AS.

3. Terjadi net outflow 80 juta dolar AS

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti. (Instagram/Bank Indonesia)

Sementara itu, investasi portofolio asing pada kuartal III 2026 mencatat arus keluar bersih (net outflow) sebesar 80 juta dolar AS. Arus keluar ini terutama berasal dari pasar saham, seiring tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Pada Oktober 2026, arus keluar modal asing dari pasar saham masih berlanjut. Namun, aliran dana masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) membuat investasi portofolio asing pada kuartal IV 2026 hingga 19 Oktober mencatat arus masuk bersih (net inflow) sebesar 660 juta dolar AS.

"Ke depan, Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak stabil. Stabilitas tersebut ditopang oleh komitmen BI dalam menjaga nilai tukar, imbal hasil aset rupiah yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, serta prospek perekonomian domestik yang tetap baik," tegasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article