Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Investasi Jerman Beralih dari Amerika Serikat ke Asia
ilustrasi bendera Jerman (unsplash.com/Mark König)
  • Perusahaan manufaktur Jerman mengurangi investasi di AS akibat kebijakan tarif dan ketidakpastian perdagangan, dengan hanya 44 persen yang masih berencana menanamkan modal di sana.
  • Fokus investasi Jerman bergeser ke Asia, terutama China dan India, melalui strategi produksi lokal untuk memanfaatkan stabilitas ekonomi dan menghindari hambatan perdagangan internasional.
  • Zona Euro tetap menjadi tujuan investasi utama karena stabilitas pasar tunggal dan mata uang bersama, meski kebijakan ekonomi AS dianggap sebagai risiko bisnis terbesar oleh perusahaan Jerman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Laporan industri yang dirilis pada Kamis (16/4/2026), menunjukkan perusahaan manufaktur Jerman mulai mengurangi investasi di Amerika Serikat (AS) dan mengalihkannya ke kawasan Asia. Langkah ini diambil karena pasar Asia dinilai lebih stabil dan prospektif dibandingkan AS.

Penurunan minat investasi ini dipicu oleh kebijakan tarif perdagangan Presiden Donald Trump yang menciptakan ketidakpastian iklim usaha. Survei Asosiasi Kamar Dagang dan Industri Jerman (DIHK) terhadap 1.700 perusahaan manufaktur menemukan bahwa kebijakan di AS mendorong pengusaha mencari wilayah dengan kepastian aturan yang lebih baik.

1. Kebijakan tarif AS membuat investasi Jerman turun

bendera Jerman (unsplash.com/Mark König)

Berdasarkan survei "Going International 2026" dari DIHK, hanya 44 persen perusahaan manufaktur Jerman yang masih berencana menanamkan modal di AS. Angka ini turun empat persen dibandingkan tahun 2025. Akibat ketidakpastian aturan perdagangan, 33 persen perusahaan menunda rencana perluasan usaha dan 17 persen lainnya mengurangi jumlah investasi.

Kondisi di AS juga diperberat oleh birokrasi dan tarif tambahan baja serta aluminium yang dikeluhkan oleh 54 persen perusahaan. Selain itu, fluktuasi nilai tukar dan sanksi luar negeri turut menurunkan daya saing produk Jerman sebesar 39 persen di pasar lokal.

"Kebijakan perdagangan AS bertujuan menarik industri ke dalam negeri, namun berdampak sebaliknya. Kebijakan tersebut menurunkan kepercayaan investor karena perusahaan membutuhkan kepastian yang hilang akibat aturan tarif," kata Kepala Perdagangan Luar Negeri DIHK, Volker Treier, dilansir Global Times.

2. Perusahaan Jerman pindah fokus ke China dan India

ilustrasi industri minyak (pexels.com/Jędrzej Koralewski)

Seiring dinamika ekonomi dengan AS, perusahaan Jerman mulai memperluas usahanya di Asia. Sebanyak 34 persen perusahaan kini menjadikan China sebagai tujuan investasi utama, sementara minat ke kawasan Asia-Pasifik secara umum naik menjadi 26 persen. Perusahaan Jerman kini menggunakan strategi "local-for-local", yaitu memproduksi dan menjual barang secara langsung di China dan India.

Langkah ini diambil untuk menghindari hambatan perdagangan internasional dan memanfaatkan peluang ekonomi yang lebih stabil. Peningkatan investasi di Asia juga didorong oleh komitmen kawasan tersebut terhadap perdagangan bebas, yang dinilai lebih jelas dibandingkan kebijakan AS yang sulit diprediksi.

"Ketegangan dagang dengan AS memunculkan ketidakpastian yang membuat perusahaan menunda keputusan strategis. Oleh karena itu, perusahaan kini memilih memproduksi dan menjual barang secara lokal di China dan India demi mengamankan rantai pasok," kata Volker Treier, dilansir Investing.

3. Eropa tetap jadi tujuan investasi yang stabil

Ilustrasi eropa (pexels.com/pixabay)

Meskipun ada peralihan ke Asia, Zona Euro tetap menjadi tujuan utama investasi luar negeri Jerman. Kepercayaan perusahaan bertahan di atas 60 persen karena keberadaan pasar tunggal dan mata uang bersama yang memudahkan operasional bisnis.

Stabilitas ini dinilai penting di tengah kondisi politik global yang tidak menentu. Saat ini, 70 persen perusahaan menganggap kebijakan ekonomi AS sebagai risiko bisnis utama, melampaui isu kekurangan tenaga kerja atau infrastruktur.

Ke depannya, eksportir Jerman juga menghadapi tantangan karena 73 persen biaya tarif AS dibebankan kepada pembeli. Hal ini berpotensi menurunkan daya beli, sehingga 43 persen perusahaan memproyeksikan penurunan kondisi bisnis.

"Diperlukan dialog yang menyeluruh terkait arah kebijakan ekonomi secara umum. Pasar AS akan tetap menarik bagi perusahaan Jerman jika memiliki aturan pasti yang dapat diandalkan," kata Volker Treier.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team